Sebarkan berita ini:
Presdir PT Bhimasena Power Indonesia Takashi Irie Dan Direktur PT Bhimasena Power Indonesia W Adjinugraha

SEMARANG[SemarangPedia] – Progres pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2×1.000 Megawatt (MW) di Kabupaten Batang, Jawa Tengah telah mencapai 23%, hingga diharapkan bakal selesai sesuai target pada 2020 sudah dioperasikan.

PT Bhimasena Power Indonesia selaku pengembang proyek PLTU di Kabupaten Batang itu, optimis ketenagalistrikan terbesar se-Asia Tenggara ini, dipastikan dapat beroperasi pada 2020 mendatang.

Presdir PT Bhimasena Power Indonesia Takashi Irie mengatakan masa pembangunan fisik proyek PLTU Batang di Jawa Tengah yang sudah dimulai pada Juni 2016 dan pada Mei 2020 ditargetkan unit pertama sudah dapat beroperasi, disusul pada Nopember tahun yang sama unit kedua juga beroperasi.

“Masa pembangunan proyek PLTU Batang di Jawa Tengah yang dimulai pada Juni 2016 memakan waktu sekitar 50 bulan. Pada Mei 2020 unit satu dan unit dua pada Nopember 2020 PLTU 2×1.000 MW beroperasi,” ujarnya, di Semarang. (1/3)

Pembangunan proyek PLTU di Kabupaten Batang, Jateng senilai US$4,2 miliar yang dikelola PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) sebelumnya juga berhasil mendapatkan kesepakatan pembiayaan.

PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) merupakan perusahaan konsorsium dari Electric Power Development Co., Ltd. (J-Power) (34%), PT Adaro Power (34%) dan Itochu Corporation (Itochu) (32%). Adapun PT Adaro Power merupakan anak perusahaan yang dimiliki seluruhnya oleh PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Pada  6 Juni 2016 telah tercapai kesepakatan pembiayaan (Financial Close) untuk proyek pembangkit listrik 2 x 1.000 MW di Batang, Jateng itu.

Meski mengalami keterlambatan, namun, optimistis dapat segera mencapai visi Adaro untuk menjadi grup perusahaan tambang dan energi Indonesia yang terkemuka serta mengembangkan salah satu dari penggerak pertumbuhan perusahaan.

Total investasi dari proyek tersebut sekitar US$4,2 miliar. BPI akan menerima pembiayaan proyek sekitar AS$3,4 miliar dari Japan Bank for International Cooperation (JBIC) dan sindikasi 9 (sembilan) bank komersial, yaitu: SMBC, BTMU, Mizuho, DBS, OCBC, Sumitomo Trust, Mitsubishi Trust, Shinsei dan Norinchukin.

Proyek ini akan menjual listrik ke PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN) di bawah Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement – PPA) yang berlaku untuk jangka waktu 25 tahun setelah konstruksi selesai. PPA antara BPI dan PLN telah ditandatangani pada 6 Oktober 2011.

Sementara itu,  Direktur PT Bhimasena Power Indonesia  W Adjinugraha  mengatakan terkait pembebasan lahan milik warga disekitar proyek PLTU yang terdampak pembangunan itu kini telah selesai.

“Saat ini kami sudah  membebaskan lahan milik warga di beberapa desa yang terkena proyek PLTU seluas 226 hektare.  Jumlah 226 hektare itu berasal dari 700 pemilik dari 800 bidang.  Jadi ini sudah 100% lahan dibebaskan sehingga masih menyisakan proses pembangunan,” ujarnya.

Dia menambahkan pihaknya juga menyediakan lahan pengganti untuk memberikan pendapatan baru kepada petani penggarap yang terdampak proyek PLTU Batang.

Selain itu,  lanjutnya, PT Bhimasena Power Indonesia (BPI) menyediakan lahan seluas 32 hektare di dekat lokasi pembangkit listrik.

“Setiap satu petani penggarap dialokasikan lahan seluas kurang lebih 1.200 meter persegi. Tidak hanya itu, BPI juga membangun dan memperbaiki saluran irigasi untuk program lahan pengganti,” tuturnya.

Proyek infrastruktur energi listrik itu, merupakan PLTU yang telah didesain pembangunan teknisnya ramah lingkungan, sehingga ke depan tidak akan menimbulkan permasalahan yang signifikan.  (RS)

 

313
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>