Sebarkan berita ini:

21-IDI 1SEMARANG[SemarangPedia]  – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jateng mendesak aparat hukum menjatuhkan hukuman berat kepada pembuat vaksin palsu, sementara izin praktik dokter yang terlibat peredaran vaksin palsu dapat dicabut beserta keanggotaannya di organisasi profesi itu.

“Kami meminta penegak hukum memberikan hukuman yang seberat-beratnya, kalau memang ada oknum pelaku vaksin palsu yang sudah terbukti bersalah. Apalagi yang menggunakan vaksin anak-anak, untuk itu kami mengutuk perbuatan tersebut,” ujar  Ketua Umum IDI Jateng, Dr Djoko Widyarto JS saat konferensi pers di kantor IDI Jateng Simongan, Semarang,Kamis. (20/7)

Para dokter mengecam oknum dokter yang terlibat dalam mata rantaiperedaran vaksin palsu, selain mereka harus berurusan dengan aparat penegak hukum. Organisasi profesi dokter itu tidak akan melindungi orang yang salah, akan tetapi orang yang tidak salah akan dilindungi.

Seorang dokter, lanjutnya, misalnya  yang tidak salah tapi disalahkan adalah dokter yang sedang kerja dirumah sakit, daan mereka saat menyuntikkan vaksin ke pasien tidak tahu apakah itu vaksin palsu atau asli karena vaksin itu sudah ada dirumah sakit dan didistribusi oleh apoteker.

“Vaksin itu pendistribusian tanggungjawab dari apoteker secara langsung dan dokter tidak tahu, apakah itu vaksin palsu atau tidak. Maka kami minta kalau dokter ndak salah, jangan disalahkan,” tuturya.

Menurutnya, pembuatan vaksin palsu hanya mengutamakan kepentingan bisnis dan keuntungan finansial semata, tentunya dengan mengabaikan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan, dalam memperoleh kesehatan yang berkualitas, termasuk jaminan perlindungan terhadap penyakit yang bisa dicegah dengan vaksinasi.

“Kami menaruh empati yang mendalam bagi keluarga dan anak-anak yang telah menjadi korban dalam pemberian vaksin palsu sehingga terhambat untuk mendapatkan perlindungan terhadap beberapa jenis penyakit menular,” tuturnya.

Sekretaris IDI Jateng, Dr Sarwoko Oetomo mengatakan IDI meminta jajaran pemerintah daerah dan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) yang ada didaerah untuk meningkatkan pengawasan produksi, kualitas produk vaksin yang dihasilkan.

Menurutnya, informasi yang diterima dari Dinas Kesehatan Propinsi Jateng total 56 tempat yang diambil sampel menguji adanya vaksil palsu, hingga saat ini khusus Jateng hasilnya masih nihil alias tidak ditemukan vaksin palsu di Jateng.

Sementara itu, Ketua  Umum IDI Pusat, Ilham Oetama Marsis mengatakan  izin praktik dokter yang terlibat peredaran vaksin palsu dapat dicabut beserta keanggotaannya pada IDI.

Selain itu, lanjutnya,  IDI siap membantu tim satgas vaksin palsu untuk mengungkap proses pendistribusian. Jika memang anggotanya terbukti maka dipersilakan kepada polisi untuk menindak secara tegas.

Dia mengharapkan kepada tim satgas untuk dapat mengungkap aktor intelektual dari peredaran vaksin palsu ini. (RS)

98
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>