Sebarkan berita ini:

pelatihanterorismeSEMARANG  [SemarangPedia] – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memberikan Pelatihan Peliputan Terorisme kepada Jurnalis dan Mahasiswa aktivis Pers kampus serta bidang humas, di Hotel Semesta Jalan Wahid Hasyim Semarang, Jumat (22/4). Kegiatan tersebut diisi oleh pemateri dari Dewan Pers, Imam Wahyudi.

Sebanyak 53 peserta yang mengikuti kegiatan tersebut itu bertajuk Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Prefesionalisme Media Massa Pers Meliput Isu-isu Terorisme. Selain pemaparan teori juga sekaligus praktek menulis berita kembali hasil dari membedah sebuah kasus dari berita yang berkaitan dengan terorisme.

Sehingga diharapkan peserta bisa terbiasa menulis berita sesuai dengan pedoman peliputan terorisme yang dikeluarkan oleh Dewan Pers.

Ada 13 poin dari pedoman peliputan terorisme yang disampaikan oleh pembicara, paslanya itu sudah menjadi pedoman atau kode etik jurnalistik yang diatur Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan –DP/IV/2015 tentang Pedoman Peliputan Terorisme Dewan Pers.

Yakni diantaranya, wartawan selalu menempatkan keselamatan jiwa sebagai prioritas di atas kepentingan berita, wartawan selalu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan jurnalistik, wartawan harus menghindari pemberitaan yang berpotensi mempromosikan dan memberikan legitimasi maupun glorifikasi terhadap tindakan terorisme maupun pelaku terorisme.

Kemudian wartawan dan media penyiaran dalam membuat siaran langsung (live) tidak melaporkan secara terinci atau detail peristiwa pengepungan dan upaya aparat dalam melumpuhkan para tersangka terorisme, serta wartawan juga harus berhati-hati dalam menulis atau menyiarkan berita terorisme agar tidak memberikan atribusi, gambaran, atau stigma yang tidak relevan, misalnya dengan menyebut agama yang dianut atau kelompok etnis pelaku. Dan wartawan harus selalu menyebutkan kata “terduga” terhadap orang yang ditangkap oleh aparat keamanan karena tidak semua orang yang ditangkap oleh aparat secara otomatis adalah pelaku tindak terorisme, dan lain-lain.

Imam Wahyudi mengatakan, hal yang penting dalam penulisan terorisme adalah verifikasi berita, masih banyak yang dilanggar, terutama media online yang belum jelas, sehingga hasilnya bisa dikesampingkan.

“Selain itu, harus diperhatikannya dalam penulisan terorisme adalah wartawan wajib selalu melakukan check dan rechek terhadap semua berita tentang rencana maupun tindakan dan aksi terorisme”, katanya

Imam menambahkan, penanganan aparat hukum terhadap jaringan terorisme untuk mengetahui apakah berita yang ada hanya sebuah isu atau hanya sebuah balon isu (hoax) yang sengaja dibuat untuk menciptakan kecemasan dan kepanikan.

Pihaknya masih banyak melihat hal-hal yang dilanggar baik kode etik jurnalistik maupun pedoman peliputan terorisem, misalnya dalam meliput keluarga korban, masih ditemukan dramatisasi sehingga justru menimbulkan glorifikasi atau menggelorakan semangat orang untuk melakukan kejahatan terorisme.

“Setelah mengikuti pelatihan ini produk dari hasil karya jurnalistik wartawan dalam meliput atau menyiarkan berita terorisme sesuai dengan kode etik jurnalistik maupun pedoman peliputan terorisme yang dirumuskan seperti pedoman peliputan yang sebelumnya untuk media cyber”, tutup Imam.

82
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>