Sebarkan berita ini:

DSCF5070SEMARANG [SemarangPedia] – Pimpinan Dewan bersama aparat Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol PP) Kota Semarang, melakukan sidak kesalah satu rumah di Barutikung Kelurahan Bandarharjo Semarang, Rabu (8/6).

Sidak yang dilakukan tersebut berdasarkan laporan warga yang resah dengan keberadaan sumur air bawah tanah yang dimiliki oleh seorang warga. Dalam keterangannya, salah satu warga bernama Hermanto menyatakan, bahwa kegiatan pengambilan air bawah tanah di tempat tersebut sudah berlangsung sekitar 2 tahun.

Pasalnya air bawah tanah ilegal selain di jual ke rumah warga, di duga juga dijual ke kapal-kapal di pelabuhan dengan menggunakan truck tangki. Menyaksikan kegiatan ilegal tersebut, Satpol PP Kota Semarang bertindak tegas dengan melakukan penyegelan serta memasang garis kuning.

Dampak dari pengambilan air tanah secara berlebihan menyebabkan rumah disekitarnya mengalami retak-retak dan amblas, padahal sebelumnya rumah warga tidak pernah mengalami hal ini. “Penurunan tanah terjadi sekitar 5 centimeter per tahun dari sebelumnya,” katanya.

Meski demikian, Hermanto menjelaskan, rumah warga yang mengalami kerusakan dan amblas berjumlah 7 rumah, yang semuanya berada disekitar lokasi sumur air tanah. Pihaknya berharap, kegiatan tersebut bisa dihentikan secara permanen oleh pemerintah maupun aparat yang berwenang.

Saat di konfirmasi oleh wartawan, sang pemilik langsung menutup diri dengan mengunci pintu rumahnya dan menolak memberikan keterangan.

Semetara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono, menyatakan keprihatinannya terhadap kegiatan pengambilan air sumur bawah tanah yang dilakukan oleh oknum warga ini. “Karena dalam perda RT-RW, untuk Wilayah Semarang bagian bawah seperti Semarang Utara, merupakan zona merah atau dilarang mengambilan air bawah tanah melalui sumur bor,” jelasnya .

Aktifitas ilegal pengambilan air bawah tanah ini selain merugikan warga sekitar, ternyata juga berdampak pada lingkungan seperti banjir dan rob yang sekarang ini sudah sangat dirasakan. Agung sapaan akrabnya berharap, Pemkot harus bersikap tegas, juga memberikan solusi dengan cara mempermudah warganya dalam memasang instalasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dengan biaya yang terjangkau.

“Maka kami juga akan mengajukan pada Pemkot Semarang dalam memfasilitasi perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan,” imbuhnya.

146
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>