Sebarkan berita ini:

SNC 3SEMARANG [SemarangPedia] – Kemeriahan Semarang Night Carnival (SNC) 2016 sungguh mempesona, titik start berada di halaman Gereja Gedangan Semarang sebanyak 800 an peserta berbaur dengan mempersiapkan kostum kreasi beretemakan Fantasi Warak Ngendog. Dengan menempuh jarak 1,3 km menyusuri jalanan Kota Lama Semarang para peserta mengenakan kostum kreasi pribadinya.

Pagelaran SNC 2016 ini memang sedikit berbeda, dimulai dari di depan Gereja St Yusuf Paroki Gedangan di Jalan Ronggowarsito. Finish di Jembatan Mberok, ribuan penonton yang memadati jalan protokol ingin berfoto bersama setia menunggu di titik Nol KM atau depan Kantor Pos Besar.

Warak Ngendog yakni, legenda binatang imaginer yang merepresentasi akulturasi budaya Semarang. Pasalnya konsep karnaval SNC 2016 ramah lingkungan, dengah bahan kostum yang terbuat dari material berasal dari biji-bijian, bambu, dan juga bunga kering maupun dedaunan.

Terlihat suasana riuh serta sibuk menjadikan atmosfer SNC 2016 menjadikan pesta kostum yang sanggat luar biasa pada saat melakukan persiapan di Gereja St Yusuf Paroki Gedangan. Juninditya (12) salah satu peserta, siswi kelas 7 SMPN 11 Semarang yang kebagian kostum Warak Ngendog bertemakan Tanduk Api.

SNC 2

Dia mengenakan kostum terbuat dari 90 persen bahan baku alami seperti tikar anyaman bambu, biji-bijian, daun klobot, dan bunga lontar. Didesain sedemikian rupa beberapa bagian seperti bagian sayap, tanduk kepala, tubuh, dan bagian bawah dengan kombinasi kain batik.

“Sekitar satu bulan lebih untuk membuat kostum ini, dibantu sama tante dalam mendesain. Tanduk Api saya yang mendesain. Warna Ungu yang menjadi pilihan saya, melambangkan sebuah welas asih, keanggunan dan rasa damai yang menenangkan,” katanya saat mempersiapkan kostum kepada semarangpedia.com.

Secara teknis mendesain Junindyta mengaku tidak ada kendala, hanya saja ia kesulitan dalam memperoleh bahan baku alam yang diinginkan.

Secara pembuatan sangatlah detail, “Dari lembaran anyaman tikar bambu dipotong sesemikian rupa menyerupai aneka potongan tanduk, sayap, dan aksesoris lainnya. Untuk tampil lebih glamour disipkanlah aneka bijian seperti ketumbar, daun klobot dan daun lontar yang dibentuk bunga”, katanya.

Kombinasi dengan batik Junindyta menambahkan, comotan dari Jogka juga karena batik Semarangan warna ungu susah.

SNC 1

Hal senada juga disampaikan oleh Cut Mita, pelajar SMAN 1 Semarang kelas 10, ia harus berbelanja di Jogja satu bulan sebelum pentas. “Ada sari bijian kemiri, klobot, tiker bambu, serta jerami padi,” katanya.

Dalam mendesain kepala Cut Mita sedikit kesulitan, karena harus mewah dan menunjukan sebuah Tanduk Api. “Desain saya dibantu saudara, tapi untuk sayap dan kepala mahkota saya sendiri,” terangnya.

Citra khas Semarangan ditunjukan Cut Mita dengan mengkombinasi batik Semarangan mulai dari bawahan sampai sepatu booth yang dilapisi batik dalam kostum yang dikenakan di SNC 2016.

271
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>