Sebarkan berita ini:
Oleh: Drs Gunawan Witjaksana 

Sangat menarik, pernyataan Menteri Agama yang baru dilantik Presiden Jokowi pada 23 Desember 2020 lalu, Yaqut Cholil Qoumas yang akrab dipanggil Gus Yaqut, bahwa Agama Adalah Inspirasi yang mengandung unsur kedamaian bagi seluruh umat manusia.

Ke depan agama, khususnya di Indonesia, tidak boleh lagi digunakan sebagai alat politik yang justru cenderung berpotensi memecah belah persatuan, namun harus dimanfaatkan secara maksimal untuk menjaga kedamaian, sekaligus memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa.

Makin memperkuat pernyataannya, dua hari usai dilantik, dalam kunjungannya ke Gereja Blendhuk Kota Semarang usai Misa Natal, Gus Yakut menyebut bahwa beliau adalah Menteri semua agama. Dengan demikian, ke depan diharapkan tidak terjadi lagi saling klaim demi kepentingannya masing-masing, tidak ada lagi mayoritas menekan minoritas, karena menurutnya kemerdekaan Indonesia pun juga atas andil seluruh lapisan masyarakat, termasuk semua Agama.

Hal yang kita perlu renungkan bersama adalah akankah Gus Yaqut mampu melaksanakan tugas beratnya terebut yang sesuai dengan cita-cita yang pernah beliau sampaikan, bahkan saat bertemu Paus Fransiskus?. Dukungan apa yang perlu dilakukan seluruh komponen masyarakat, khususnya dalam membantu cita-cita Gus Yaqut , serta mewujudkan kedamaian dalam persatuan sesuai cita-cita  proklamasi?

Perubahan Gaya Komunikasi

Sudah menjadi rahasia umum, akhir-akhir ini gaya komunikasi yang disertai pesan-pesan komunikasi yang berbau fanatisme sempit serta bernada intoleran, marak disampaikan oleh para pendakwah lewat berbagai media, utamamanya media sosial (medsos).

Pesan- pesan dhakwah yang manipulatif dengan melihat dari sisi tertentu dengan mengabaikan sisi baik lainnya sesuai dengan Qur’ an dan Hadist, Ijma serta Qiyas, melahirkan sikap fanatisme sempit, serta sikap intoleransi yang sangat bertentangan Pancasila.

Karena itu, sejalan dengan keinginan Pemerintah serta sebagian besar masyarakat, penunjukan Gus Yaqut sebagai Menteri Agama yang baru sangat diapresiasi, sekaligus mewujudkan optimisme baru untuk mewujudkan kedamaian serta memperkuat persatuan, sesuai  cita-cita proklamasi.

Sejalan dengan itu, barangkali sertifikasi pendhakwah seperti yang pernah terwacanakan perlu dikaji kembali. Toh sertifikasi itu bukanlah bertujuan membatasi, melainkan demi meningkatkan kompetensi komunikator di semua bidang, termasuk pendhakwah.

Toh selama ini uji kompetensi di berbagai bidang telah dilakukan dan hasilnya cukup baik. Contoh saja misal uji kompetensi Dosen, Guru, wartawan, dan bidang lainnya yang ditandai dengan sertifikat profesi sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Saat ini ada kalangan yang sering berteriak nyaring tentang kebebasan, namun tampaknya mereka lupa bahwa kebebasannya itu dibatasi oleh kebebasan pihak lain. Dengan demikian, kebebasan dan keterbukaan itu akan dibatasi, manakala keterbukaan atau kebebasan tersebut mengusik pihak lain.

Secara umum, selain perundangan serta peraturan yang berlaku, maka etika profesi perlu dipedomani pula.

Dengan demikian, selama yang disampaikan (terlebih melalui media) tidak menyinggung SARA serta ujaran kebencian, maka yang disampaikan tersebut akan aman- aman saja.

Inspirasi

Karena itu, apa yang disampaikan Gus Yaqut selalu Menteri Agama bahwa Agama adalah inspirasi, tentu dinantikan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sudah waktunya Indonesia yang masyarakatnya sangat toleran, punya sifat lembah manah, Tepo sliro, serta  gotong royong yang tinggi dan mulai terkikis oleh ego sektoral serta sikap intoleransi, dikembalikan seperti sediakala.

Untuk itu, yang perlu dilakukan adalah penyampaian berbagai pesan, termasuk pesan dhakwah yang sejuk, serta informatif, sehingga kerukunan masyarakat akan terwujud  kembali seperti semula.

Melalui pesan keagamaan yang Rakhmatan Lil Al-Amin, rasa emphati semua komponen akan terwujud, mereka akan saling menghormati serta menghargai satu sama lainnya, sehingga akhirnya masyarakat yang aman akan terwujud dan sekaligus terwujudlah kedamaian dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(Drs Gunawan Witjaksana M.Si Dosen dan Ketua STIKOM Semarang)

50
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>