Sebarkan berita ini:

25-BKK JatengSEMARANG[SemarangPedia.com]- Akitivitas Bank Perkreditan (BPR) dan Bank Kredit Kecamatan di berbagai daerah di Jateng dinilai masih belum optimal mengarap pasar kalangan pedagang kecil dan menengah, hingga dikhawatirkan rentenir semakin merebak.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan kalangan BPR/BPK di wilayahnya hingga saat ini masih belum optimal membidik nasabah para pedagang kecil untuk menyalurkan kredit/pinjaman.

Menurutnya, BPR/BKK harus memberikan kemudahan proses pinjaman kepada pedagang kecil, sehingga aktivitanya mampu menekan praktek rentenir di lingkungan pekerja non formal itu.

Pedagang kecil dengan tingkat prendapatan ekonomi rendah merupakan potensi sebagai nasabah kredit usaha mikro dan kecil yang diharapkan mampu  pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Para pedagang kecil itu, dia menambahkan merupakan potensi besar sebagai nasabah kredit usaha mikro kecil  dan menengah (UMKM), mengingat jumlah dan produk yang diberbadagngkan kini sudah mencapai ribuan.

“BPR dan BKK harus dapat mencari nasabah masyarakat kecil, terutama para pedagang itu merupakan potensi market,” ujarnya, di Semarang.

Dia menuturkan BPR/BKK harus bisa mengejar akitivitas rentenir yang mudah mengeluarkan uang pinjaman langsung dari kantongnya kepada rakyat kecil dan pedagang di pasar.

Paradigma bankers, lanjutnya, harus dirubah termasuk pelaku perbankan BPR dan BKĶ di Jateng menjadi bankernya yang kuat bagi pemberian kredit kepada rakyat kecil.

Nasabah pelaku usaha kecil, sebagian besar mereka memiliki keterampilan, alat produksi, serta modal yang terbatas, sehingga butuh pinjaman kredit dengan bunga rendah untuk membuka usaha maupun mengembangkan usaha.

“Kita rubah paradigma bankers. Terminologi saya BPR/BKK menjadi bankernya bagi pelaku usaha kecil,” tuturnya.

Saat berkunjung berdialog dengan pedagang ayam potong di pasar tradisional, dia mencontohkan, pedagang tersebut dengan modal Rp 800.00 – Rp 1 juta dapat mengantongi keuntungan Rp 50-Rp 100.000 per hari. Bahkan ketika ditawari penambahan modal dua kali lipat dari modal semula, keuntungannya menjadi berlipat

“Usaha mereka mandiri dan pedaganaga seperti itu, lebih seksi untuk dibantu dengan kredit modal. Mereka tidak pernah mengharapkan mendapat THR atau gaji ke-13, seperti pekerja” ujarnya. (RS)

283
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>