Sebarkan berita ini:

23-industri-teskstilSEMARANG[SemarangPedia] – Aktivitas industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di sentra produksi Jateng masih sulit diprediksikan hingga semester II-2016, akibat imbas krisis global yang berkepanjangan dan semakin berpengaruh kuat pada penurunan daya beli masyarakat, setelah sebelumnya sejumlah buyer mengurangi order pemesanan .

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Komda Kota Semarang Agung Wahono mengatakan era terburuk bagi industri tekstil kini mulai terlihat sejak 15 tahun terakhir dan tahun ini semua akan bergantung pada leader atau pemandunya yakni pemerintah.

Menurutnya, kalangan industri tekstil dan TPT semakin mengkhawatirkan, jika sebelum akhir tahun biasanya sudah bisa diprediksi jumlah pesanan atau order yang masuk, sekarang yang terjadi sangat berlawanan, bahkan mengalami stagnag.

“Hampir semua pengusaha tekstil mengeluhkan tidak bisa memperkirakan bagaimana nasib industri ini. Masalahnya nggak ada yang membeli barangnya, lalu kemana kita akan jual kalau tidak ke pasar domestik,’’ ujarnya, Rabu. (23/11)

Pada semester I 2016, lanjutnya, pelaku usaha tekstil memang masih dilanda kekhawatiran. Namun optimisme harus terus dibangun, mengingat upaya pemerintah menelurkan berbagai kebijakan makro untuk mendorong tumbuhnya sektor riil.

“Kami tidak boleh pesimistis terus, karena banyak upaya pemerintah untuk memperbaiki,’’ tuturnya.

Dia menilai beratnya situasi TPT tahun ini telah menyadarkan betapa peran industri tekstil ini begitu besar. Sektor yang menyerap tenaga kerja sangat banyak ini sudah seharusnya mendapatkan perlindungan dari pemerintah dengan kebijakan yang berpihak kepada sektor tersebut.

Tidak dipungkuri memang, aktivitas sejumlah produsen tekstil di Jateng terus menerus mengalami hambatan dan semakin terjepit tidak hanya saat kenaikan BBM, tetapi juga kebijakan kenaikan tarif  daftar listrik (TDL), restribusi pajak dan kenaikan UMK, di tengah sulitnya menjual stok hasil produksinya.

Produsen tekstil di Jateng, Agung menambahkan semakin sulit berkembang karena berbagai kebijakan pemerintah terus mendesak aktivitasnya. Bahkan saat ini kondisi industri tekstil cukup memprihatinkan akibat harus menahan berbagai pukulan yang dilancarkan dari kebijakan-kebijakan kurang mendukung.

“Produsen dihantam tidak saja oleh kebijakan mengenai kenaikan tarif listrik, BBM dan pajak serta kenaikan UMK yang berulang kali diberlakukan, tetapi lesunya pasar internasional yang berkepanjangan juga mengakibatkan aktivitas produksi tekstil terus menurun,” tuturnya.

Menurutnya, menjelang akhir tahun yang umumnya produksinya meningkat akibat membanjir pesanan buyer maupun pedagang pasar domestik, kini tahun ini tidak ada peningkatan sama sekali.

Produksi tekstil dan TPT merupakan komoditas ekspor terbesar dari Jawa Tengah dan menyerap tenaga kerja paling banyak mencapai ribuan orang.

Di Jateng saat ini terdapat 84 industri tekstil yang masih beroperasi dan hampir keseluruhannya harus melakukan efisiensi,  akibat kondisi perekonomian global belum menunjukkan adanya tanda-tanda membaik.

Menurutnya, berbagai upaya memang telah dilakukan produsen dengan berbagai cara untuk dapat mempertahankan kelangsungan usahanya, baik dengan melakukan pengurangan jam kerja, menurunkan produksi dan menekan biaya operasional.

“Tetapi kenyataannya upaya tersebut belum mampu membuahkan hasil sesuai harapan, karena kendala bermunculan tak henti-hentinya hingga saat ini,” tuturnya.

Dia mengatakan ancaman serius mulai menghadang bagi industri tekstil yang diikuti dengan kekhawatiran para tenaga kerjanya yang bakal terseret pada kejadian pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.

“Setelah terjadi penumpukan stok, penurunan produksi, pengurangan jam kerja karyawan, apalagi yang harus diupayakan bagi industri tekstil untuk dapat bertahan ke depan,”  ujarnya.

Situasi sekarang ini, lanjutnya, merupakan era paling sulit bagi industri tekstil skala apapun karena tidak ada kebijakan yang mampu mendorong perkembangan aktivitas mereka, baik untuk yang memproduksi kebutuhan pasar lokal maupun yang berorientasi ekspor.

141
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>