Sebarkan berita ini:

MebelJEPARA[SemarangPedia] –  Aktivitas para kerajinan kayu, mebel, dan rotan di sentra produksi terbesar di Jateng, kembali dihadapkan kendala berat dan bakal tersendat, menyusul kebijakan pemerintah segera memberlakukan perubahan sistem verifikasi legalitas kayu (SVLK).

Kementerian Perdagangan mengeluarkan Permendag No 25/2016 April ini tentang Perubahan Permendag No 89/2015 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan. Sesuai Permedag No 89, penerapan dokumen SVLK hanya berlaku di hulu, namun dengan perubahan Permendag No 25, SVLK menjadi wajib untuk industri kehutanan dari hulu hingga hilir.

Kondisi itu, akan menjadi kendala sangat berat bagi pengrajin kayu, mebel dan rotan terutama mereka yang memprioritaskan produksinya untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.

Ketua DPD AMKRI Jepara, Rensi Eka Prattistia mengatakan pihaknya mengharapkan kebijakan pemerintah itu dapat ditunda hingga akhir 2016 atau awal 2017, mengingat kesiapan para pengusaha kayu, mebel maupun rotan belum siap jika diberlakukan begitu cepat.

”Penguasaha kayu, mebel dan rotan bukannya menolak kebijakan SVLK itu, tetapi hanya mengharapkan bisa ditunda karena dikeluarkan April sangatlah mendadak dan menjadi kendala berat bagi mereka,” ujarnya.

Sesuai Permendag lama pada 2015 ketentuannya untuk industri hilir SVLK tidak diberlakukan, karena banyak perusahaan yang awalnya sudah ber-SVLK untuk ekspor, akhirnya tidak memperbarui dokumennya, sehingga SVLK yang dimiliki dibekukan.

”April ini kebijakanl SVLK muncul lagi,  diberlakukan secara cepat dan banyak pengusaha yang memiliki SVLK-nya kena suspend (dibekukan), karena aturan sebelumnya tidak memerlukan itu. Dampaknya, jika Mei ini wajib ber-SVLK, maka banyak kegiatan ekspor perusahaan terancam mancet,” tuturnya.

Kabupaten Jepara merupakan sentra produksi kerajinan kayu dan mebel terbesar di Jateng dengan jumlah ratusan perusahaan yang bergerak di sektor itu.

AMKRI  memiliki sebanyak 170 anggota dan yang sudah ber-SVLK baru 30%. Berdasarkan data terbaru terdapat 5.471 unit usaha industri kayu, 1.037 industri khusus kerajinan kayu, dan 792 industri berbahan rotan. Dari total jumlah tiga jenis industri kehutanan itu, baru 274 unit usaha ber-SVLK.

192
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>