Sebarkan berita ini:

KUDUS[SemarangPedia] – Kalangan perusahaan rokok skala kecil di sentra produksi Jateng kembali dihadang kebijakan yang kurang mendukung dan bakal mengancam kelangsungan usahanya diujung kebangkrutan.

Ketua Harian Persatuan Perusahaan Rokok Kusus (PPRK) Agus Sarjono mengatakan kebijakan pemerintah dengan rencana menaikan tarif cukai rokok bakal menghadang aktivitas perusahaan rokok skala kecil atau golongan III b diujung penutupan, jika mereka tidak mampu mempertahankan kelangsungan usahanya.

Sementara perusahaan rokok skala besar, lanjutnya, atau golongan II mapupun golongan I kurang begitu berdampak signifikan, karena telah memiliki pangsa pasar cukup besar, meski harga penjualan bakal menyesuaikan kenaikan cukai.

“Kenaikan tarif cukai rokok itu dipastikan bakal diikuti oleh kenaikan harga jual rokok, meski pada akhirnya bakal mengakibatkan rokok ilegal dengan harga yang lebih murah semakin merebak di pasaran,” ujarnya, Selasa. (24/10)

Peluang untuk menangkap konsumen, dia menambahkan terutama mereka yang tidak bisa mengikuti kenaikan harga rokok akan banyak memanfaatkan dengan memproduksi rokok ilegal.

Pemerintah berencana akan menaikkan tarif cukai rokok sebesar 10,04% yang mulai diberlakukan pada pada 1 Januari 2018, dan telah disetujui Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Ada beberapa pertimbangan sebelum keputusan menaikan cukai rokok diambil. Pemerintah pun sudah mempertimbangkan kesejahteraan petani dan juga para buruh pabrik rokok.

Kenaikan tarif cukai rokok sebesar itu, dinilai semakin memberatkan para pelaku usaha rokok skala kecil dan  tidak hanya mengancam kelangungan usaha mereka, tetapi juga bakal berimbas bagi pekerjanya jika perusahaan sulit menghindari terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran.

“Selain menghadapi ancaman kenaikan rokok. Perusahaan rokok juga berhadapan dengan kampanye anti rokok,” tutur Ketua Forum Komunikasi Pengusaha Rokok Kecil (FKPRK) Agus Suparyanto.

Menurutnya, pertimbangan utama yang seharusnya dikaji secara mendalam sebelum menerapkan kebijakan tersebut, karena  fakta yang terjadinya penurunan pangsa rokok, jaringan yang makin terbatas, daya beli masyarakat makin rendah, serta kemampuan dan kelangsungan hidup terutama pengusaha pabrikan rokok kecil jenis sigaret keretek tangan (SKT) bakal terancam.

Bagi pabrikan rokok kecil, lanjutnya, dengan tidak adanya penundaan pembelian cukai akan semakin memberatkan. Apalagi tren rokok terutama SKT sudah mulai ditinggalkan dengan semaraknya rokok SKM jenis filter dan mild. Kalau pun harus naik, batas yang dapat ditoleransi antara 6% persen hingga 7%, meski masih cukup memberatkan.

Pemerintah memutuskan kembali menaikan cukai rokok mulai 1 Januari 2018 mendatang sebesar 10,04%, dengan beberapa pertimbangan sebelum keputusan menaikan cukai rokok diambil.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, pemerintah sudah mempertimbangkan kesejahteraan petani dan juga para buruh pabrik rokok.

Selain dari aspek tenaga kerja, lanjutnya, mereka yang kerja di sektor hasil tembakau dari mulai petani hingga mereka yang bekerja di pabrik rokok, bahkan pemerintah juga mefokuskan menjaga kesehatan masyarakat.

Kenaikan cukai itu diharapkan dapat berimbas kepada kenaikan harga rokok yang membuat keinginan masyarakat untuk merokok bisa berkurang, sekaligus untuk mengurangi peredaran rokok ilegal.

“Dari sisi penanganan rokok ilegal. Kalau banyak orang mampu dan banyak bisa dengan mudah produksi rokok ilegal maka semuanya akan mengalami kekalahan, baik industri, kesehatan,” tuturnya.

Kebijakan kenaikan cukai rokok juga diharapkan bisa meningkatkan penerimaan negara yang pada akhirnya bisa mengurangi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta  aspek penerimaan negara akan tetap mencari keseimbangan di antara kebijakan itu. (RIF)

79
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>