Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Beratnya beban hidup akibat keterbatasan ekonomi orang tua, tak harus membuat para pelajar dari kalangan tak mampu mengubur impiannya, untuk dapat melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi.

Meski dari penghasilan orang tuanya dibilang sangat kurang, namun melalui tekadnya Rokhayani, seorang pelajar SMA dari keluarga kurang mampu, Warga Plalangan, Kecamatan Gunungpati Semarang, untuk melanjutkan  perguruan tinggi dan meraih gelar yang lebih tinggi sangatlah kuat.

Supraptono, Ayah Rokhayani, haya seorang buruh penyadap karet, dengan penghasilan Rp600.000 per bulan. Namun, himpitan kemiskinan, tidak menyurutkan Rokhayani, dalam menuntut ilmu.

Berkat ketekunannya dalam belajar, siswi kelas 3 IPS, SMA Negeri  12 Kota Semarang ini, selalu meraih nilai memuaskan, dan dalam saringan masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tanpa tes, program seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, SNMPTN, yang hasilnya telah diumumkan secara serentak beberapa hari yang lalu.

“Keinginan saya dapat masuk ke Perguruan Tinggi Negeri, karena ingin mengangkat derajat dan membahagiakan kedua orang tua. Saya sangat sedih bila tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, kemudian saya memberanikan diri melanjutkan SNMPTN,” tuturnya dengan nada sedih.

Gadis berusia 18 tahun ini, dinyatakan lolos di perguruan tinggi negeri yang menjadi idamannya. Rokhayani, diterima di jurusan pendidikan sosiologi dan antropologi Universitas Negeri Semarang (Unnes), sekaligus bakal menerima bea siswa bidik misi, dari Kementrian Ristek dan Pendidikan Tinggi, yang akan menunjang studinya, hingga mendapatkan gelar sarjana.

“Untuk proses pendaftaran berawal atas saran Bapak Ibu BK disekolah untuk mendaftar SNMPTN, karena melihat nilai saya cukup bagusn. Kemudian saya diarahkan ke jalur bidikmisi dan diberirahu prosedur mulai dari awal hingga akhirnya dapat lolos. Dan saat ini Tinggal mengisi data untuk melakukan pendaftaran ulang,” ujarya.

Bagi keluarga, lolosnya Rokhayani, dalam seleksi nasional masuk pergurian tinggi negeri, yang sekaligus akan mendapatkan bea siswa full study, dari Pemerintah sebesar Rp600.000 per bulan ini, merupakan anugerah yang tidak terduga.

Rokhayani seakan menjadi penyemangat mereka, yang sehari-hari hidup serba kekurangan. Terlebih, keluarga ini memiliki kisah kelam, dimana beberapa tahun yang silam, kakak Rokhayani, mengalami depresi pergi dari rumah dan kini tak diketahu berada dimana, akibat setelah lulus SMP, orang tuanya tak mampu membiayai ke jenjang SMA, karena ketiadaan biaya.

“Ini anak saya yang kedua, dulu kakaknya Sugeng Riyadi minta sekolah SMA, tidak bisa dipenuhi,  karena keterbatasan biaya, hingga dia depresi. Pendapatan saya, buat makan sehari-hari saja masih kurang. Bahkan Sugeng sampai membakar tangannya hingga di amputasi.

Kakak Rokhayati pergi dan sudah tujuh tahun menghilang. Saya hanya bisa berharap anak saya yang pertama bisa kembali dan berkumpul bersama lagi,” tutur Supraptono ayah Rokhayati.

Rokhayati tinggal selangkah lagi untuk bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri sesuai dengan keinginannya, melakukan pendaftaran ulang. Di Perguruan Tinggi Negeri tempat kuliahnya Rokhayati, akan dibebaskan  dari seluruh biaya pendikan, plus mendapatkan tambahan uang Rp600.000 perbulan untuk keperluan hidup, selama empat tahun. (HN/RS)

171
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>