Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Antropologi mengalami perkembangan pesat sebagai satu disiplin ilmu yang konstekstual, sehingga harus mampu melakukan upaya untuk mengakomodasi konteks yang terus mengalami perubahan.

Hal itu terungkap dalam Seminar Nasional dengan tema “Budaya. Agama Dan Media: Kontribusi Antropologi Abad 21” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang digelar di Hotel Noormans Seamarang, Kamis. (23/11)

Seminar Nasional menghadirkan narasumber terdiri Prof Dr Irwan Abdullah (Guru besar antropologi UGM), Prof Dr Mudjahirin Thohir (Guru besar Antropologi Undip), Prof Dr Achmad Fedyani Saifuddin PhD (Guru beasr antropologi UI), Prof Dr Agus Maladi Irianto (Guru besar Antropologi Undip), Harsiwi Ahmad, MA (antropolog), Prof Dr Nurdien H Kistanto (Guru besar Antropologi Undip), Dr Amirudin (Dosen Antropologi Undip).

Irwan Abdullah mengatakan antropologi pada abad 21 harus bisa mentransformasikan masyarakat melalui empat kompetensi.

Menurutnya, empat kompetensi itu meliputi kompetensi akomodasi terhadap perbedaan meredam konflik. Selanjutnya kompetensi atau kemampuan untuk mengubah perbedaan menjadi kekuatan serta menggali potensi sejarah maupun kebudayaan hingga menghasilkan nilai tambah.

“Contohnya Negara Arab Saudi bisa mengubah sejarah agama menjadi kekuatan tranformatif yang bisa mendatangkan semua orang muslim datang ke Mekah,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, kompetensi mendidik orang Indonesia untuk menjadikan perbedaan sebagai pengalaman bersama.

“Bahkan kompetensi ke empat yaitu mengajarkan orang Indonesia untuk berpikir dengan cara orang lain. Karena kalau berpikir dengan caranya sendiri selalu pokoknya. ini tugas antropolog yang memiliki ilmu yang berkompeten,” tuturnya.

Irwan menambahkan saat ini antropologi mengalami perkembangan pesat sebagai disiplin ilmu yang konstekstual. Untuk itu, menurutnya, antropologi harus mampu melakukan upaya untuk  mengakomodasi konteks yang terus mengalami perubahan.

“Jadi harus bisa melakukan analisis kontekstual,  contohnya sejalan perubahan masyarakat semakin terglobalisasi, terteknologisasi jadi harus mengakomodasi perubahan konteks itu,” tuturnya.

Sementara Mudjahirin Thohir menuturkan antropolog seharusnya mendapat tempat, sehingga bisa menjadi eksekutor didalam berbagai bidang. Namun sayangnya, hingga saat ini peran antropolog belum mampu mewarnai dalam hal penting untuk menentukan arah kebijakan.

Hal itu, menurutnya, terjadi akibat perbedaan antara arah kebijakan dalam hal ini oleh penguasa berbeda dengan pandangan antropolog.

“Arah kebijakan antara apa yang seharusnya dengan selera penguasa itu seringkali berbeda. Contohnya hasil penelitian antropolog itu kan jujur, tetapi  karena hasil penelitian itu beda misi visi dengan pihak pejabat atau elit akibatnya terabaikan,” ujarnya.

Mudjahirin mengatakan ilmu antropologi sangat penting karena konsennya kepada manusia dan peradabannya. Mengingat kondisi saat ini yang kurang memberikan ruang kepada peran antropolog antropolog maka perlu dilakukan penataan ulang dengan pendekatan humanitas.

“Ilmu antropologi yang konsennya kepada manusia dan peradaban sangat penting mendapatkan tempat. Hanya ketika Indonesia seperti ini, dimana  orang kurang suka yang beradab sehingga perlu penataaan ulang, bagaimana segala aspek kehidupan ditata dengan pendekatan humanitas dan antropolog sangat berperan,” paparnya.

Amirudin dalam makalahnya “Agama dan media, bagaimana dikaji dalam studi kebudayaan” memaparkan sejumlah fakta kehidupan beragama menunjukkan kemerdekaan beragama atau berkeyakinan di Indonesia masih menghadapi masalah.

Menurutnya, jumlah peristiwa  dalam kemerdekaan beragama atau berkeyakinan di tahun 2015 ada 190 dengan 249 tindakan pelanggaran.

“Setahun berikutnya yaitu pada 2016 ada 204 peristiwa dengan 313 tindakan pelanggaran. Angka tindak pelanggaran naik 7%,” kata Amirudin.

Menurutnya, terkait agama dan kecenderungan studi antropologi hingga awal abad 21, studi-studi agama masih terlalu kuat aroma esensialnya yang justru makin mengentalkan identitas suatu kelompok agama dan cara pandang religio sentries. (RS)

 

120
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>