Sebarkan berita ini:

28-KetoprakMAGELANG[SemarangPedia] – Bupati Grobogan Sri Sumarni tampil bermain ketoprak bersama Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dan dalam pementasan dia menyindir atas kucuran dana infrastruktur yang minim untuk perbaikan jalan yang rusak seluas 1.975, 86 km2.

Aspirasi yang disampaikan saat pentas ketoprak wayang dengan lakon Bhumi Shambara Budhara di Gedung Tri Bakthi Magelang, Sabtu (27/8) petang banyak mengundang tawa para penonton.

Dalam pementasan itu, Bupati Grobogan menjadi lawan main Ganjar Pranowo sebagai anak dari pimpinan raja. “Nak, tolong diperhatikan. Grobogan itu luas wilayahnya nomor dua di Jateng. Namun, jumlah kepala desanya hanya 200-an saja. Sehingga dana desa yang dikucurkan oleh pemerintah pusat, nggak cukup untuk memperbaiki infrastruktur jalan,” ujarnya dalam akting ketoprak itu.

Ganjarpun menyambut baik dengan kritikan Bupati Grobogan, dengan mengusulkan kepada pemerintah pusat.

“He…eh…eh…eh! Ngrembug dalan ning kethoprakan. Njih ibu, mangkeh kulo dorong usulan dan kritikan panjenengan dumatheng pemerintah pusat. (Bicarakan jalan rusak di pentas pentas wayang orang? Ya bu, nanti akan saya usulkan ke pemerintah pusat),” seloroh Ganjar yang disambut tepuk tangan penonton.

Pentas wayang orang yang menjadi rangkaian Hari Ulang Tahun Jateng ke 66 itu ditonton para pejabat di lingkungan Pemprov Jateng, Pemkot Magelang dan beberapa Bupati/Walikota di Jawa Tengah. Hadir dan ikut teribat dalam pementasan, selain Bupati Grobogan Sri Sumarni juga Bupati Kendal Mirna Annisa, Walikota Magelang Sigit Widyonindito, Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo dan Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati.

Di sela-sela itu, Ganjar mengingatkan sejarah kebudayaan di Jateng atas peninggalan sejarah Candi Borobudur di Magelang. Bahwa pemimpin harus melestarikan budaya dengan menjadi pemain lakon dalam pameran wayang.

“Eh…pemimpinya pada main ketoprak (wayang orang). Pada nguri-uri kabudayan kamu bagaimana? Maka di antara seluruh agenda acara Ultah Jateng ke 66 ini ada Mocopat, ada Geguritan, ada tarian yang tradisional meskipun ada juga yang modern. Maka mixing ini mencampurkan cerita, mencampurkan apa-apa yang ada kita harapkan menjadi nuansa kekayaan dari Jawa Tengah tanpa kita pernah lupa pada akar budaya,” tutur Ganjar.

Dia ingin menyampaikan pesan moral dalam cerita pewayangan akan pencapaian sesuatu harus diikuti kerja keras, sikap konsisten dan perjuangan. kerja keras serta sikap konsisten seseorang. Meski diterpa godaan namun berkat perjuangan keras maka orang dapat meraih yang menjadi cita-citanya.

“Pesan moralnya ada sesuatu yang harus diperoleh tidak dengan mudah. Ada satu tekad yang luar biasa maka harus kerja keras. Selalu ada dalam kerja keras itu pengganggu-pengganggu. Ditunjukan dengan demit-demit, jin-jin dan setan-setan yang mengganggu. Itulah kekuatan yang akan mendestruksi. Maka kalau orang konsisten terus, dia akan mendapatkan apa yang menjadi sikapnya itu,” ujar Ganjar. (RS)

110
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>