Sebarkan berita ini:

3-Sidang dana Hibah KoniSEMARANG[SemarangPedia]  – Penuntut dari Kejari Pekalongan terus mengorek keterangan dari para saksi kunci dugaan kasus penyelewengan dana hibah yang menjerat terdakwa Ketua Kesatuan Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Pekalongan periode 2013-2017, Ricsa Mangkula yang digelar di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (3/8)).

Dalam sidang di PN Senmarang, Penuntut Umum Agung terus mencecar pertanyaan Kasi Pembinaan Prestasi KONI Kota Pekalongan, Yunus Wandi selama menjadi bawahan terdakwa atas pengelolaan keuangan sejak 2014-2015.

Terungkap, bantuan yang diterima melalui APBD tingkat II banyak diselewengkan dalam bentuk kegiatan bakti sosial.

“Apakah saudara saksi tahu bantuan dana itu dari mana, digunakan untuk apa dan pernah dilibatkan tidak dalam kegiatan sosial. Pernah diajak atau tidak pernah diajak dalam kegiatan KONI,” ujar Agung.

Menanggapi itu, Yunus selama menjadi bawahan terdakwa tidak pernah tahu menahu dan dilibatkan dalam beberapa kegiatan yang tidak diprogram sebelumnya.

“Itu bukan program KONI. Saya tidak tahu. Saya datang sendiri, dantidak diundang. Tidak tahu soal pembelian kenang-kenangan,” tutur Yunus.

Beberapa program sosial diluar ranah Keolahragaan yang disamarkan, di antaranya kegiatan buka bersama yatim piatu t 2014 di Hotel Dafam Pekalongaan, kegiatan K3 lingkungan, kegiatan bersih-bersih sungai Loji, kenang-kenangan antara Real Estate Indonesia (REI), Kamar Dagang Industri (KADIN).

Padahal, tambah Agung, terdakwa menjabat Ketua Kadin dan REI Kota Pekalongan. Selain itu, pengungsian korban bencana air rob dan banjir di stadion Kraton.

“Pernah saudara tahu ada pengungsi di Stadion Pekalongan dan tidak pernah ada. Juga apakah saksi dilibatkan atau tidak dalam kegiatan itu,” ujar penuntut.

Dalam kasus itu, terdakwa dianggap telah merugikan keuangan negara sebesar Rp427,2 juta. Besaran uang tersebut yang bersumber dari dana hibah Pemkot Pekalongan mengalir ke rekening pribadi, berupa pembelian kendaraan pribadi.

Koni Pekalongan mendapat suntikan dana hibah Rp1,85 miliar yang dicairkan tiga tahap. Selain itu, terdapat pengeluaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan besarnya Rp40 juta, serta senilai Rp 22,3 juta yang diperuntukkan diantaranya kegiatan sosial, buka bersama, komunitas Yamaha serta pembelian kenang-kenangan untuk KPN Pekalongan.

Ricsa didakwa melanggar primair Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, serta subsidair Pasal 3 pada perundangan yang sama.

Terdakwa diketahui telah melakukan pembelian kendaraan pribadi berupa 1 unit Isuzu Elf sebesar Rp 210 juta serta karoseri mobil Elf sebesar Rp 145 juta. Tak hanya itu, terdakwa juga menjual Yamaha jupiter Z milik terdakwa ke Koni tidak sesuai dengan harga pasaran senilai Rp 10 juta.

Sementara, pihak dealer Isuzu Pekalongan saat bersaksi mengakui menerima pesanan order mobil Elf senilai Rp145 juta. Pembayaran dilakukan terdakwa sebanyak dua kali yang ditransfer ke rekening dealer.

“Pertama, kami menerima pembayara uang muka Rp50 juta dan Rp95 juta tertanggal 23 Septermber 2014 melalui bank BRI dengan atas penerima Ema (marketing) dan Kacab Isuzu Junaedi,” tutur Kacab Isuzu Pekalongan Oktafus Nugraha.

Dalam pembelian itu, lanjutnya, barang yang dibeli di atasnamakan pribadi terdakwa dengan total uang Rp200 juta. Rinciannya, terdakwa memberikan (DP Rp35 juta, pada 10 Oktober 2014, dan Rp50 juta pada  13 November 2014).

“Saya tidak tanya pesanan untuk organisasi atau pribadi. Tapi, minta mobil dibranding stiker KONI dan loggo saja,” ujarnya. (RS)

143
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>