Sebarkan berita ini:

25-Industri SemenREMBANG[SemarangPedia] – PT Semen Gresik Indonesia, selaku engineering proyek pembangunan pabrik semen Rembang, Jawa Tengah memproyeksikan potensi bahan baku batu kapur dan tanah lempung di wilayah Rembang untuk kebutuhan pabrik semen memiliki kemampuan pasok  selama 130 tahun.

Head of Engineering and Construction PT Semen Gresik Heru Indra Wijayanto mengatakan batu kapur dan tanah lempung di wilayah Rembang memiliki masa habis selama 130 tahun.

Sedangkan, lanjutnya, kontrak izin operasional penambangan PT Semen Gresik dilakukan secara bertahap dan dibawah masa 100 tahun.

“Terdapat empat bahan baku untuk semen terdiri batu kapur 80%, tanah lempung 18%, sisanya pasir besi dan silika,” ujarnya di Rembang, Selasa (23/8).

Menurutnya, kandungan batu kapur dan lempung yang dimiliki di wilayah itu sudah dilakukan penghitungan cermat oleh pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Budi Sulistiyo, termasuk dari deposit bahan baku dalam desain penambangan untuk semen.

Penambangan batu kapur, dia menambahkan diperbolehkan sedalam 100 meter di luas lahan sekitar 500 hektare, sehingga pada kuartal ketiga tahun ini proyek pengerjaan pabrik semen diperkirakan rampung dan segera beroperasional awal tahun depan.

“Untuk tanah lempung juga baru habis 75-80 tahun mendatang. Pola penambangan juga akan dilakukan secara bertahap per blok. Jadi, satu blok selesai, direhabilitasi, demikian seterusnya,” tuturnya.

Dia mengatakan lahan bekas penambangan akan direhabilitasi atau dihijaukan (reboisasi), sehingga bisa dimanfaatkan kembali untuk pertanian, atau tempat wisata. Selain juga dijadikan sebagai embung karena bentuknya cekung.

Lahan-lahan embung dikerja samakan untuk pemanfaatan areal cocok tanam, sebagaimana dilakukan di pabriknya yang berada di Tuban, Jawa Timur.

Sementara ketersediaan air, sudah dihitung sedemikian rupa sehingga tidak akan habis karena pabrik di Rembang menggunakan teknologi tercanggih yang tidak membutuhkan banyak air.

“Kami sudah membuat empat sumur pantau untuk melihat debit air. Sejauh ini, tidak ada perubahan. Bisa dilihat dari pabrik kami di Tuban. Sudah 20 tahun kami menambang, airnya tidak habis,” ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, debit air di daerah sekitar pabrik di Tuban justru melimpah karena bekas cekungan tempat menambang dijadikan sebagai embung yang berguna untuk pengairan dan budi daya perikanan.

Roy Budi Setiawan Manager Project Control Pabrik Semen Rembang menambahkan air sekarang ini sudah bukan menjadi problem, karena sistem produksi semen tidak memerlukan banyak air.

“Kebutuhan air itu hanya untuk pendinginan dan perawatan peralatan, bukan untuk produksi semen, sehingga proses pengolahannya berteknologi ‘dry’ (kering). Air akan disirkulasikan kembali,” tuturnya. (RS)

280
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>