Sebarkan berita ini:
Oleh: Drs Gunawan Witjaksana 

Kemenangan Joe Biden dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) semakin mengukuhkan pentingnya cara serta gaya berkomunikasi seorang pemimpin. Bahkan gaya komunikasi Donald Trump  selama menjadi Presiden AS, meski mungkin prestasinya di bidang ekonomi lumayan, namun gaya komunikasinya baik di dalam negeri atau dengan negara lain dipandang kurang Emphatik.

Di dalam negeri, komunikasi dengan kaum pendatang, kulit berwarna, serta minoritas muslim dan kelompok lainnya terkesan rasialis serta memandang remeh pihak lain, sehingga kurang Emphatik.

Mungkin, karena Trump yang merupakan seorang pengusaha tanpa meniti karier di Partai Republik seperti calon- calon sebelumnya justru ingin menutupi kekurangannya dengan menerapkan gaya ” communicator style” tersebut akhirnya terjebak oleh anggapan masyarakatnya bahwa Trump adalah Presiden kepala batu yang sering terkesan sopo siro sopo ingsun, sehingga ketika Pemilihan Imum (Pemilu) kalah telak oleh Joe Biden, baik secara electoral vote atau pun popular vote.

Kasus Pemilu AS tersebut sekaligus memperkuat teori komunikasi yang mengatakan bahwa kinerja itu lebih bersuara nyaring dibanding wacana.

Pertanyaannya, akankah di Pemilukada atau pun Pemiluraya di Indonesia selanjutnya, para petahana atau pun calon baru mau bercermin dari kejadian di AS tersebut?.

Gaya Ketimuran

Kalau kita sedikit menengok ke belakang pun , baik calon Bupati, Walikota, Gubernur, bahkan Presiden terpilih, rata- rata menerapkan gaya komunikasi Emphatik, yang intinya menggunakan bahasa yang halus, sopan, serta menggunakan kata- kata halus tanpa terkesan menyerang serta menjelek- jelekkan lawannya.

Sebaliknya, yang gagal, biasanya justru yang bergaya menyerang atau pun mengecam lawannya, bahkan di antaranya ada yang menyinggung hal- hal yang bersifat pribadi.

Tampaknya, masyarakat kita lebih senang memilih calon pemimpin yang santun sesuai dengan pendekatan serta tradisi  sosiokultural masyarakat timur.

Mungkin ada yang bertanya kan di AS, utamanya dalam debat, sering pula muncul serangan yang kasar dan pribadi. Namun, pemilih rasional di AS ternyata cermat memilih gaya komunikasi yang lebih tedhuh, terlebih mereka sudah cukup hafal dengan gaya komunikasi harian Trump.

Aktual Emphatik

Ke depan, akan lebih baik bila calon pemimpin Kapupaten, Kota atau pun Provinsi, selain harus mengetahui secara pasti serta akurat kebutuhan aktual calon pemilihnya (consumers insight : BHS. Iklannya), juga perlu mempelajari kondisi sosiokultural masyarakatnya, sehingga mereka bisa memilih gaya komunikasi yang paling sesuai dengan tradisi sosiokultural masyarakatnya.

Bagi petahana, asal kinerjanya dianggap baik oleh masyarakat, mereka sudah memiliki setengah modal dasar, tinggal selanjutnya menggunakan gaya komunikasi yang tepat, selain tetap mengutamakan kejujuran, menarik perhatian, serta etis.

Bagi pendatang baru, selain berupaya terus meningkatkan popularitas serta elektabilitasnya, penggunaan bahasa yang sederhana, Emphatik serta sederhana, mudah dicerna dan rasional perlu dilakukan.

Agak berbeda dengan komunikasi pada umumnya, komunikasi politik persuasif itu perlu memperhitungkan rasionalitas pasca terpilih. Terutama terkait dengan realisasi janji saat kampanye.

Satunya kata dan perbuatan kelak ini akan selalu dicatat serta diingat masyarakat, dan dalam jangka panjang akan menimbulkan simpati atau sebaliknya antipati, baik pada dirinya, serta parpol serta tim suksesnya.

Memang dalam meraih simpati calon pemilih, komunikasi saja belum cukup. Perlu sejumlah faktor lainnya. Namun karena modal utama sosialisasi sekaligus meraih  simpati  masyarakat itu adalah komunikasi, maka perlu dipilih gaya komunikasi yang Emphatik, sekaligus mampu menyentuh relung kehidupan aktualnya, sehingga masyarakat makin simpati hingga akhirnya memilihnya.

           (Drs Gunawan Witjaksana, M. Si Dosen dan Ketua STIKOM Semarang)

69
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>