Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Drs Suhardi Alius, MH akan menyampaikan presentasi tentang keberhasilan Indonesia, dalam membendung pengaruh terorisme melalui program deradikalisasi di depan anggota parlemen negara Jerman.

Suhardi mengatakan program deradikalisasi telah mendunia, setelah presentasi program deradikalisasi dipresentasikan dalam sebuah forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di New York dan Wina yang membahas perlindungan warga dunia dari ancaman teror.

“Pada forum PBB itu, kami sampaikan penanganan tindak pidana teror di negara kita dengan mengedepankan penegakan hukum,” ujarnya saat menyampaiakan paparan tentang Penguatan Perguruan Tinggi Swasta Dalam Menangkal Radikalisme di Jawa Tengah yang diselenggarakan Universtas 17 Agustus 1945 (Untag) bersama Lembaga Layanan Pendidikan  Tinggi Kemenristek Dikti  Wilayah VI Jateng, di kamous Untag Bendar Duwur Semarang, Jum’at (10/8).

Menurutnya, bersamaan dengan itu juga dilakukan pendekatan kemanusiaan terhadap para mantan narapidana teror (napiter ) yang telah selesai menjalani hukuman.  Program deradikalisasi juga melibatkan keluarga dan kelompoknya.

Memberantas teroris, lanjutnya, tidak akan bisa kalaau hanya mengandalkan tindakan kekerasan dan penjatuhan sanksi hukum kepada para pelaku aksi teror, mereka tidak akan jera dan takut dengan ancaman hukuman atau sanksi hukum atas pelanggaran yang dilakukannya, karena mereka merasa tidak melanggar hukum.

Apalagi, dia menambahkan kalau mereka sudah masuk dalam klasifikasi kader teror inti, sulit rasanya menyadarkan mereka. Ini artinya paham teror tidak akan lenyap  kalau pelakunya hanya dihadapkan dengan ancaman saknsi hukum.

Dia menuturkan setiap negara memiliki cara atau sistem yang berbeda dalam  menangani kasus teroris,regulasi dan konstitusi Indonesia mengamanatkan bahwa penanganan kasus teroris diselesaikan melalui jalur hukum.

BNPT sebagai lembaga tinggi negara nonkementerian melakukan inovasi sebagai langkah terobosan untuk melenyapkan paham teror tanpa melalui kekerasan, tetapi melalui pendekatan kemanusiaan yang dalam realisasinya melibatkan berbagai pihak termasuk masyarakat yang selalu dihimbau agar dapat menerima kehadiran mantan napiter bersama keluarganya setelah menjalani masa hukuman.

Cara seperti ini, tutur Suradi, dirasa aneh pada awalnya oleh betrbagai negara. Namun setelah mereka melihat hasilnya dengan melihat langsung para mantan napiter bersama keluarganya yang menjalani program deradikalisasi akhirnya mampu bersosialisasi bersama masyarakat hidup rukun dalam naungan NKRI.

“Sekjen PBB dan pimpinan lembaga keamanan di berbagai negara sangat tertarik, Agustus ini kami diundang untuk presentasi ke Jerman, namun karena di dalam negeri sedang berlangsung Asian Games, maka  dijadwal ulang setelah  pesta olah raga bangsa Asia selesai digelar,” ujarnya. (SMH/RS)

7
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>