Sebarkan berita ini:

 

SEMARANG[SemarangPedia] – Ribuan driver ojek online (ojol) yang mengatasnamakan Gabungan Aliansi Lintas Komunitas Ojol Semarang (Gali Kos) menyatakan sikap menolak seruan aksi mogok makan yang digelar Asosiasi Driver Online (ADO) yang diduga dimotori oknum tidak bertanggung jawab.

Presidium Harian Gali Kos Margono mengatakan menolak politisasi kemitraan yang bertujuan mengadu domba driver ojol dengan aplikator yang telah membantu para mitra menempa jati diri sebagai pekerja jujur dalam iklim kompetisi sehat dan berkeadilan.

“Kami menolak praktik politik praktis ADO Semarang yang memakai metode adu domba sesama mitra ojol dengan apilikator,” ujarnya dalam keterengan resminya, Rabu (23/9).

Bahkan, lanjutnya, Gali Kos menghimbau seluruh mitra ojol Semarang fokus menerapkan protokol kesehatan dalam rangka membantu Pemda di Jateng dan Kota Semarang untuk memerangi Covid-19, bukan malah bergabung dalam aksi destruktif yang dilakukan ADO Semarang.

Menurutnya, Gali Kos juga meminta kepada pihak keamanan, mulai dari Polda Jateng, Kodam IV/Diponegoro, Satpol PP Pemprov Jateng, beserta jajaran untuk menindak tegas ADO Semarang yang dinilai mengusik stabilitas sosial warga Semarang dan sekitarnya di masa-masa genting penanganan pandemi Covis-19, termasuk memecah belah persatuan komunitas ojol se-Jawa Tengah.

“Kami mengajak segenap lapisan masyarakat Jawa Tengah dan Semarang saling bahu membahu bersama Gugus Tugas Covid-19 berperan aktif memerangi penyebaran Covid-19, agar zona hijau benar-benar segera terwujud di seluruh wilayah Jawa Tengah, serta Indonesia Raya,” tutur Margono.

Dia menuturkan para driver ojol yang tergabung dalam Gali Kos berharap setelah melalui masa-masa sulit menghadapi masa pandemi yang berdampak pada perekonomian masyarakat, termasuk driver ojol, semua kembali normal di masa adaptasi baru (new normal).

“Ekonomi perlahan menggeliat, aktivitas sosial kembali merayap, dan keyakinan baru menjadi doa pengharapan para driver ojol, bahwa kami akan baik-baik saja, meskipun Covid-19 masih tetap menjadi horor di mana-mana,” ujarnya.

Namun, dia menambahkan setidaknya Gali Kos memiliki harapan, kembali berani berkendara untuk mengaspal di jalan-jalan berliku Kota Semarang, mengumpulkan klik demi klik orderan bersliweran. Keyakinan seperti ini penting setelah sekian lama bersama terpuruk.

Menurutnya, harapan seperti ini harus senantiasa digenggam erat bersama. Kebersamaan menghadapi masa-masa sulit mutlak diperlukan untuk menatap masa depan dari ancaman ketidakpastian akibat Covid-19.

“Tapi secuil harapan tersebut di minggu-minggu ini bakalan sirna dikoyak ambisi pesakitan ojol bernama Satria Bayu Setiaji (oknum yang diduga menjadi dalang aksi) yang memelihara tuyul-tuyul online untuk memuluskan hasratnya meraup untung berlimpah dari tiap bonus tutup poin order setiap hari,” tuturnya.

Kejujuran, tutur Margono, adalah dendang basi baginya. Tak penting kawan seaspal sejak pagi buta hingga senja tutup usia tetap di jalanan beraspal mengais orderan yang tak kunjung singgah di gawai genggam miliknya, kalah gacor oleh puluhan gawai yang telah diset komplotan Bayu Setiaji selama ini. (RS)

408
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>