Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Diduga kuat melakukan konspirasi dengan oknum konsultan pajak untuk merekayasa dokumen laporan pajak, seorang pengusaha hiburan malam dipolisikan oleh mitra bisnisnya ke Polrestabes Semarang.

Dalam laporannya Jefry Fransiskus (31) melaporkan rekan bisnisnya bernama Thomas, warga negara Korea yang tinggal di Dusun Srumbung Bawen Kabupaten Semarang. Selain melaporkan penggelapan pajak, korban juga melaporkan penipuan yang dilakukan Thomas.

Kepada Polisi Jefry Fransiskus mengatakan kasus dugaan penggelapan pajak yang nilainya puluhan milyar itu, terbongkar karena haknya sebagai salah satu pemodal tidak pernah menerima keuntungan dari usaha yang dibangun bersama.

Menurutnya, pada April 2017 bersama rekan bisnisnya Thomas, Handoko, Tommy dan Kristanto sepakat membuat usaha hiburan malam yang diberi nama Zeus Executive Karaoke yang berada di komplek Hotel Grand EDGE di Jalan Sultan Agung Semarang.

Masing-masing menanamkan investasinya dengan jumlah berbeda. Korban menanamkan modal sebesar Rp400 juta atau 10% saham. Namun, hingga Juni 2018, tidak pernah menerima keuntungan sedikitpun dari usaha tersebut.

“Pada September 2017, saya menerima BEP Saham Rp400 juta (modal investasi), tapi keuntungan 10% dari saham yang saya investasikan sampai Juni lalu tidak pernah saya terima,” ujar Jefry Fransiskus kepada wartawan.

Karena merasa tertipu, sebagai salah satu pemilik saham, Jefry Fransiskus pun berusaha menanyakan haknya kepada Thomas dan penanam saham lainnya, namun dijawab tidak ada keuntungan yang bisa diberikan kepadanya.

Akibat kondisi itu, Jefry curigan dan mulai melakukan investigasi.

“Ternyata temuan saya, omset Zeus Karaoke dari April 2017 sampai Mei 2018 mencapai Rp25 milyar, tapi sepeserpun saya tidak pernah menerima keuntungan sesuai dengan saham yang saya investasikan. Karena saya merasa telah ditipu makanya saya laporkan penipuan ke Polisi,” ujarnya.

Tidak selesai sampai disitu, Jefry melanjutkan investigasinya. Bahkan temuan lebih mencengangkan lagi, dari omset sekitar Rp2 milyar per bulan, Zeus Karaoke hanya membayar pajak yang bervariasi antara Rp4 juta sampai Rp20 jutaan per bulan. Padahal aturan Perda Kota Semarang, pajak hiburan yang harus dibayar 10%.

“Kalau omset Rp2 milyar per bulan, seharusnya perusahaan membayar pajak ke Pemkot senilai Rp200 juta per bulan, tapi ini bervariasi antara Rp4 juta – Rp20 jutaan. Pemkot diminta turun lapangan untuk investigasi bukan sebaliknya dengan membiarkan,” tuturnya.

Pengusutan lebih lanjut diduga terlapor konspirasi dengan oknum konsultan pajak yang juga penanam saham, Handoko, dengan membuat laporan pajak fiktif, sebagai upaya untuk membayar pajak reltif sefikit dan tidak sesuai dengan omset yang sebenarnya.

“Handoko ini sebagai penanam saham, juga konsultan pajaknya. Handoko menyuruh stafnya untuk membuat laporan pajak palsu supaya membayar pajak tidak sesuai dengan omsetnya. Dalam hal ini Pemkot dirugikan milyaran rupiah,” ujar Jefry.

Menurutnya, di dalam Zeus Karaoke juga ada prostitusi, Polisi pun sudah menurunkan tim untuk masuk dan menyelami sehingga mendapatkan dokumen berupa bill yang dijadikan barang bukti.

“Zeus Karaoke menyediakan prostitusi yang pembayarannya masuk ke manajemen.
Zeus Karaoke menyediakan wanita dan tempatnya,” tuturnya.

Dari temuan tersebut, tuturJefry, sudah melaporkan semua ke Penyidik Polrestabes. Bahkan penyidik sudah melakukan penggrebekan dan pemeriksaan serta penyitaan barang bukti. Namun, Polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus tersebut.

“Bukti prostitusi terselubung sudah didapatkan, dugaan penggelapan pajak juga sudah dikantongi penyidik, tapi kenapa Polisi belum menetapkan tersangka,” ujarnya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji saat dikonfirmasi wartawan membenarkan adanya laporan tersebut. Namun pihaknya belum bisa memberikan keterangan secara detail, karena masih dalam penyidikan dan penyelidikan.

“Penyidikan dan penyelidikan masih berjalan, beberapa saksi sudah kita panggil tapi banyak yang tidak datang, sehingga Senin pekan depan kita panggil lagi. Karena kasus ini juga melibatkan pajak, kita butuh waktu untuk menuntaskan kasus ini,” ujar Abiyoso.

Sementara itu, untuk pengusutan dugaan pengemplangan pajak lebih lanjut, Koordinator LSM GEMPAR Jateng Wijayanto menuturkan telah mengirimkan bukti-bukti dugaan tersebut ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Direktorat Jendral Pajak dan melaporkan ke Kapolri up. Dirtipikor Mabes Polri. [RS]

93
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>