Sebarkan berita ini:

20-narkobaSEMARANG[SemarangPedia] – Majelis Hakim menjatuhkan vonis hukuman 1,2 tahun penjara dan denda Rp50 juta terhadap Kepala Bidang Bangunan dan Tata Ruang DPU Kabupaten Semarang (non aktif), Ade Fadjar Wiradi Djati.

Vonis yang dijatuhkan hakim lebih rendah dari tuntutan JPU, dan hanya melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU nomor 31/1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20/2001 tentang tindak pidana korupsi, jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP.

“Menyatakan para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah,” ujar Majelis Hakim Sunarso membacakan amar putusannya di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu. (27/7)

Dalam amar putusannya, Majelis Hakim tidak menyebutkan penahanan terhadap terdakwa Ade Fajar Widadi Djati. Padahal, dua terdakwa lain yakni Tri Budi dan Thomas sudah meringkuk dalam tahanan Lapas Klas I A Kedungpane Semarang.

Majelis berpendapat selama persidangan terdakwa kooperatif dan tidak pernah melakukan tindakan yang menghalangi penyidikan. Penahanan itu bersifat mempermudah pemeriksaan. Selama persidangan sejak awal hingga akhir, terdakwa sopan dan selalu kooperatif.

“Selain itu, tidak ada alasan majelis hakim untuk memasukkan segera terdakwa ke tahanan. Kalau memang mau menahan, sudah kami lakukan sejak awal persidangan,” tuturnya.

Surat edaran Mahkamah Agung, lanjutnya, menyebutkan Hakim dilarang untuk memerintahkan terdakwa segera masuk tahanan dalam vonis terdakwa yang tidak ditahan. Jadi hanya memutuskan, setelah itu menunggu kelanjutan perkaranya.

“Kalau masih menempuh upaya hukum, maka terdakwa masih di luar tahanan. Kalau sudah memiliki kekuatan hukum tetap, maka secara otomatis dapat dilakukan penahanan,” ujarnya.

Ade Fadjar bersama dua terdakwa lainnya yakni Komisaris PT Harmony International Technology (HIT) Tri Budi Purwanto dan Komisaris PT Dutamas Indah, Thomas Hartono menjalani sidang putusan. Dalam kesempatan itu, Ade Fajar dan Thomas Hartono diganjar dengan hukuman sama yakni 14 bulan penjara, sementara Tri Budi Purwanto dihukum lebih berat, yakni 17 bulan penjara.

Sementara itu, usai mendengarkan vonis majelis hakim para terdakwa menyatakan masih pikir-pikir.

“Selain itu, karena terdakwa masih pikir-pikir sehingga perkara ini belum memiliki kekuatan hukum tetap. Jadi kalau masih menempuh upaya hukum lanjutan, terdakwa masih bebas. Kalau nantinya terdakwa menerima, maka secara otomatis bisa langsung dieksekusi,” tuturnya. (RS)

212
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>