Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Dua tokoh agama di Kota Semarang terdiri Gus Nuril Arifin  pengasuh Pondok pesantren Soko Tunggal dan Romo Aloysius Budi menemui ratusan warga Kendeng yang menolak pembangunan Pabrik Semen Rembang di tenda perjuangan yang digelar di depan pintu gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang, Selasa (20/12).

Kedua tokoh agama itu menyalami dan berdialog dengan warga yang bertahan dibawah tenda sejak Senin lalu sambil menanyakan kondisinya.

Menurut Gus Nuril, warga Kendeng yang tetap bertahan di tenda perjuangan itu adalah mereka yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Warga itu, lanjutnya, berani menolak terhadap pembangunan pabrik semen di wilayah pegunungan Kendeng yang dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap lingkungan di sejumlah kabupaten sekitar.

“Pemerintah harus adil dan dengarkan bahasa batin saudara kita dari warga pegunungan Kendeng. Mereka menolak pembangunan pabrik semen itu, karena mereka melestarikan bumi pertiwi, jangan sampai pabrik  merusak lingkungan,” ujarnya.

Sementara, sebelum melakukan orasi, Romo Budi melantunkan Tembang Ojo Lamis dan diikuti warga yang tetap bertahan di tenda keprihatinan. Saat menembang tembang Jawa itu, sejumlah ibu-ibu yang ada dibawah tenda sempat meneteskan air mata.

“Kami berharap pemimpin harus mau mendengar suara hati warga Kendeng yang menolak pabrik semen,” tuturnya.

Seperti diketahui, sekitar 200 warga yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat peduli pegunungan kendeng (JM-PPK) mendirikan tenda perjuangan tepat di depan pintu Gerbang Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan, Semarang, sejak Senin hingga Selasa. (20/12)

Mereka menolak pendirian pabrik semen di Rembang karena dinilai banyak melanggar aturan. Berbagai pelanggaran, JM-PPK menilai telah dilakukan Pemprov Jateng dalam hal ini Gubernur Jawa Tengah yakni tidak segera dieksekusinya putusan PK Makhamah Agung no 99PK/TUN/2016 atas kasus pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Rembang.

Dalam amar putusan MA tertanggal 5 Oktober 2016, ada dua petikan yang diperintahkan dalam putusan itu, yaitu mewajibkan kepada pihak tergugat dalam hal ini Pemprov Jateng untuk mencabut izin lingkungan tentang kegiatan penambangan yang telah dikeluarkan kepada PT Semen Gresik (sekarang berubah menjadi PT Semen Indonesia) dan menghentikan semua obyek sengketa. (RS)

343
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>