Sebarkan berita ini:

2-FilmSEMARANG[SemarangPedia] – Di wilayah Jawa Tengah dikenal banyak memiliki wisata peninggalan candi jaman Hindu kuno, termasuk di Kabupaten Semarang terdapat peninggalan candi Gedongsongo yang kini dikenal dan banyak dikunjungi wisata local maupun mancanegara.

Lokasinya di lereng Gunung Ungaran yang sejuk dan masuk wilayah Kecamatan Bandungan, Candi Gedongsongo bisa disebut candinya persembahan para dewa dan terdapat, kompleks percandian bagi penganut Hindu yang dibangun pada abad VIII (kedelapan Masehi).

Gedongsongo nama yang diberikan oleh penduduk yang berasal dari bahasa jawa Gedong yang berarti rumah atau bangunan dan Songo yang berarti Sembilan, sehingga diartikan terdapat candi berjumlah Sembilan yang berdiri ditemukan di komplek itu.

Candi Gedongsongo hingga kini pun belum dapat terjawab, hanya terdapat lima kompleks bangunan di candi gedongsongo ini, sedangkanempat lain terdapat agak berjauhan terpencar meski masih satu kawasan.

Berawal dari inilah film dukumenter budaya dibuat dengan judul ‘Ketika Batu Berbicara, yang memberikan gambaran masyarakat ada tiga titik kemungkinan ditemukannya pecahan candi.

2-CandiJuru Pelihara Candi Dari Cagar Budaya, Ngatimin menuturkan kemungkinan terdapat pecahan candi ke 8 atau 9 di kawasan itu, tapi belum dikaji kembali candi yang terletak di atas bukit yang berada jauh kedalam hutan pinus itu.

Masyarakat masih banyak yang bertanya apakah ada mitos mitos tertentu bila berada di candi Gedongsongo itu, karena masyarakat sekitar dan rumor di luar bila pengunjung berhati bersih, mampu melihat candi ke 9 candi yang merupakan 2 candi yang hilang.

Namun, konon, bila pengunjung hanya dapat melihat 7 kelompok candi yang memang baru terlihat dan diketemukan saat in.

Sebuah expedisi film dokumenter dilakukan untuk sedikit menilik apakah benar masih ada candi-candi yang tersembunyi di balik perbukitan di areal Gedongsongo yang kiranya menjadi sebuah titik terang adanya kemungkinan kelompok candi 8 dan candi sembilan yang belum terjamah masyarakat.

Menurut Ngatimin, candi Gedongsongo masih ada 2 titik yang kemungkinan ada di balik bukit di plataran candi ke 4. “Hal itu membuat kami ingin menguak apakah masih ada peninggalan candi yang belum terjamah oleh masyarakat,” ujarnya.

Dengan memasuki arel hutan disisi kanan plataran candi 4 dengan akses jalan yang masih cukup terjal akhirnya di sisi lereng dapat ditemukan kawah.

Selain kawah, lanjutnya, juga ditemukan sebuah bongkahan batu candi yang tertata rapi, namun ini masih menjadi pertanyaan besar apakah ini merupakan bagian candi yang belum terkuak keberadaannya.

Menurut herry sang pembuat film ini dukumenter itu, dengan ditemani juru rawat candi rombongannya termasuk crew menyusuri hutan pinus yang berada di sisi barat pelataran candid an di lokasi ini terdapat dua jalur terpisah dan satu jalur menuju ke atas bukit yang cukup tinggi.

Sesampai di atas bukit inilah ditemukan bongkahan batu yang terstruktur lebih rapi, namun ada beberapa bagian bebatuan yang masih  tersebar serta terdapat sebuah batu besar berada di dekat bongkahan batuan candi ini.

Dari film dokumenter ini lah Semarang meraih juara 3 dalam festifal Film Dokumenter tentang budaya yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Tengah yang diikuti 75 peserta dari berbagai daerah pada Oktober tahun lalu.

Rencananya tahun ini, Herry dari Ayodya Production House yang mewakili Semarang akan ikut andil kembali dalam festifal film dokumenter Pariwisata dan Budaya pada 2016 ini dengan mengangkat tema-tema budaya dan sejarah yang mulai jarang diminati masyarakat.

Dengan tema itu, diharapkan masyarakat akan kembali cinta pada budaya negeri sendiri.

Herry mengharapkan melalui film dokumenter masyarakat tidak lagi percaya mitos, namun lebih ke fakta dan juga cinta terhadap peninggalan sejarah yang ada. (rsj)

190
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>