Sebarkan berita ini:

MAGELANG[SemarangPedia] – Potensi ekspor komoditas tanaman pangan berbagai jenis buah dan bunga ke sejumlah negara sangat terbuka, menyusul permintaan pasar hingga saat ini belum dapat dipenuhi.

Direktur Buah dan Florikultur Kementerian Pertanian Sarwo Edi Wibowo mengatakan pemerintah akan terus mendorong daerah sentra produsi buah maupun bunga untuk dapat menafaatkan peluang pasa ekspor ke berbagai negara.

Dengan masih terbukanya potensi ekspor, lanjutnya, baik hasil buah dan florikultura (tanaman berbunga dan hias) itu merupakan peluang bagi pengusaha maupun petani untuk meingkatkan hasil produksinya, mengingat komoditras itu sangat dibutuhkan pasar.

“Saat ini terdapat sekitar 26 jenis bunga yang mempunyai peluang ekspor ke sejumlah negara, di antaranya bunga melati, krisan dan lainnya,” ujarnya usai pembukaan Agri-Flori Expo 2018 di Gedung A Yani Kota Magelang, Jumat ( 14/9).

Menurutnya, pangsa pasar ekspor bunga segar hingga saat ini masih cukup terbuka, terutama Jepang, Belanda, Singapura dan Amerika. Bahkan pasar Jepang sangat membutuhkan pasokan sekitar 5 ton bunga melati segar, sedangkan Singapura membutuhkan 15 ton bunga melati per harinya.

Pada umumnya, dia menamahkan bunga-bunga segar tersebut diperlukan untuk mencukupi kebutuhan pernikahan dan industri tanaman. Bahkan pasar ekspor tidak hanya memerlukan impor bunga segar dari Indonesia melainkan juga bibit –bibit tanaman bunga.

Kementerian Pertanian RI juga telah mendorong setiap daerah mampu menghasilkan produk buah dan bunga yang dapat diekspor, seperti daerah Slawi, Tegal, setiap hari  pada satu kelompok petani mampu memproduksi 30 kg bunga melati dengan luasan lahan 1.500 hektare.

Hasil produksi daerah itu, sebanyak 20 kg di antaranya telah dibeli eksportir untuk memenuhi sebagian kebutuhan pasar, meski belum mampu memenuhi dalam julah besar, namun setidaknya harga pasar ekspor mampu memberikan keuntungan bagi petani.

“Bunga tropis, seperti yang banyak kita miliki sangat diminati negara tetangga, bahkan juga Eropa dan Amerika, meski pasar lokal pun masih potensial, seperti Jakarta, Bandung dan kota besar lainnya,” tuturnya,

Peluang ekspor bunga tersebut, semestinya juga dapat dimanfaatkan Pemkot Magelang untuk mampu menghasilkan produk florikultura berkualitas baik hingga potensi pasar itu bisa dipenuhi.

Apalagi, Kota Magelang memiliki julukan Kota Sejuta Bunga yang seharusnya memiliki basis produksi berbagai jenis bunga,” ujarnya.

Kementerian Pertanian RI, dia menambahkan memiliki program pengembangan kawasan buah dan florikultura yang bisa dimanfaatkan daerah-daerah, termasuk Kota Magelang.Namun , Kota Magelang hingga saat ini belum mengajukan usulan bantuan kepada Kementrian.

Sementara itu, Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito menuturkan inspirasi dari Kementerian Pertanian itu harus ditangkap. Bahkan, Kota Magelang berambisi ingin seperti Kota Tomohon, Sulawesi Utara yang berhasil mengembangkan florikultura.

Menurutnya, Kota Magelang kini terus dikembangkan konsep urban farming(pertanian perkotaan) dengan memanfaatkan pekarangan rumah, termasuk mengembangkan kampung organik yang sudah menjalar di tiap kelurahan.

Dengan pameran ini,  lanjutnya, diharapkan tanaman berbunga dan hias yang berlangsung hingga 16 September mendatang,  bisa menginspirasi masyarakat untuk terus mengembangkan tanaman buah, berbunga atau hias dengan kualitas baik. (RS)

 

3
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>