Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Arus ekspor Jateng selama Agsutus 2018 mengalami penurunan 4,28% hanya mencapai senilai US$57,60 juta, sementara impor melonjak 60,90% menjadi senilai US$ 1.548,79 juta.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat nilai ekspor Agustus 2018 mengalami penurunan sebesar 4,28% denga nilai US$57,60 juta, dibandingkan ekspor Juli sebelumnya mencapai sebesar US$601,33 juta. Namun jika dibandingkan ekspor Agustus 2017 terhadap Agustus 2018, total mengalami kenaikan 2,25 persen.

Sri Herawati Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jateng mengatakan nilai ekspor Juli 2018 cukup tinggi yang pada umumnya mengalami tren penurunanakibat turunnya komoditas tekstil dan produk tekstil sebesar US$22,58 juta atau turun 7,82%.

“Komoditas tekstil dan produk tekstil seperti polyester, barang perlengkapan pakaian terutama ekspor ke Jepang, Tiongkok dan Malaysia mengalami penurunan,” ujarnya, Senin (17/9).

Selain itu, lanjutnya, produk alas kaki dan tutup kepala juga turun 20,56% atau senilai US$4,97 juta untuk kebutuhan pasar Jepang, Tiongkok dan Jerman.

Sementara untuk impor Jawa Tengah pada Agustus 2018 justru mengalami kenaikkan hingga 18,71%, dibandingkan impor Juli sebelumnya. Komposisi impor terbesar untuk penggunaan bahan baku penolong sebesar 81,68%, barang modal 11,28% dan konsumsi 7,04%

Neraca perdagangan total Agustus 2018 mencatat defisit US%973,18 juta terutama pada komoditas migas defisit US$741 juta, sedangkan dari non migas US$31 juta.

Catatat BPS Jateng impor Agustus 2018  mencapai sebesar US$1.548,79 jutaatau naik sebesar 60,90% dari Agustus 2017 yang hanya US$586,19 juta, jika dibandingkan Juli 2018, angka impor tersebut juga mengalami kenaikan sebesar US$244,15 juta  atau 18,71%.

Peningkatan nilai impor itu, tutur Sri Herawati,  didorong oleh naiknya nilai impor komoditas minyak dan gas bumi (migas) sebesar 84,92%, sedangkan impor komoditas nonmigas menurun sebesar 10,80%.

Komposisi impor tersebut lebih banyak didominasi bahan baku penolong baru, disusul barang modal dan konsumsi, sehingga diharapkan ke depan bahan baku penolong yang banyak diimpor bisa disubstitusi bahan- bahan dari lokal untuk menekan tingginya impor. (RS)

 

11
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>