Sebarkan berita ini:

11-gangguan-jiwaSEMARANG[SemarangPedia] – Jumlah pengidap gangguan jiwa di Jateng dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, seiring bertambahnya persoalan ekonomi, kemiskinan, keluarga dan pekerjaan.  

Anggota Komisi E DPRD Jateng Karsono mengatakan peningkatan angka penderita gangguan jiwa memiliki kaitan erat dengan kesejahteraan masyarakat, khususnya masalah ekonomi dan tingkat kemiskinan.

Menurutnya, sejumlah persoalan yang dihadapai masyarakat saat ini selain tekanan ekonomi, persoalan beban pekerjaan dan lainnya membuat potensi stres cukup tinggi.

“Tekanan ekonomi dan kemiskinan memicu terjadinya stres dan depresi, sehingga mereka terganggu jiwanya. Stres bisa mempengaruhi produktivitas, meningkatkan keparahan penyakit hingga memunculkan gangguan sosial,” ujarnya, di Semarang.

Data Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyebutkan, jumlah gangguan jiwa pada 2013 mencapai sebanyak 121.962 penderita, meningkat menjadi 260.247 pada 2014 dan melonjak lagi menjadi 317.504 jiwa pada 2015. 

Karsono meminta pemerintah provinsi menangani secara serius penderita gangguan jiwa yang tersebar di 35 kabupaten/kota.

Menurutnya, salah satu permasalahan penanganan penderita gangguan jiwa yang ada di sejumlah kabupaten/kota yaitu tidak semua rumah sakit umum mempunyai klinik jiwa sehingga penanganannya tidak optimal.

“Karena tidak semua rumah sakit umum di daerah tersedia tenaga medis jiwa, sehingga upaya yang dilakukan hanya peningkatan pembinaan program kesehatan jiwa di sarana kesehatan,” tuturnya.

Dia menambahkan sebagian besar keluarga penderita gangguan jiwa di Jateng kurang memahami dalam penanganan gangguan schizoprenia itu, sehingga upaya yang dilakukan dengan pemasungan.

“Perlu dilakukan sosialisasi terus menerus kepada masyarakat mengenai penanganan terhadap penderita gangguan jiwa,” ujarnya.  

Antisipasi lain, dia mmenambahkan untuk mencegah semakin banyaknya penderita, perlu adanya penguatan daya tahan seseorang menghadapi besarnya berbagai tekanan. Daya tahan itu dipengaruhi oleh faktor genetika, pola asuh, kualitas gizi, kondisi lingkungan, hingga sistem pendidikan.

“Untuk membentuk pertahanan diri yang kuat tidak luput dari kembalinya pemahaman pada agama. Selain itu, peran serta seluruh masyarakat agar tidak mengucilkan penderita gangguan jiwa,” paparnya. (RS)

274
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>