Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang akan menggelar seminar Pendekatan Terbaru Riset Sosial.

Kegiatan seminar tersebut akan di gelar di Hotel Noormans, Semarang Senin mendatang (19/11) mulai pukul 08.30 WIB – 13.00 WIB.

Sejumlah narasumber akan dihadirkan terdiri Guru Besar Sejarah UGM, Prof Dr  Bambang Purwanto, Guru Besar Linguistik dan Sastra UNY Prof Dr  Suminto A Sayuti, Guru Besar Antropologi UNNES Prof Dr Tjetjep R Rohedi.

Pengantar diskusi Dekan FIB Undip Dr Rediyanto Noor, dengan Moderator Dr Indriyanto.

Tema seminar Pendekatan terbaru riset sosial itu dilaksanakan mengingat dunia ilmu telah mengalami perkembangan sejak akhir abad 20, perkembangan itu sangat terasa disebabkan oleh perubahan sosial budaya sebagai akibat transnasionalisasi.

Globalisasi yang membawa efek pada perubahan kebudayaan masyarakat lokal,  kelembagaan politik dan ekonomi suatu masyarakat, menyebabkan ilmu pengetahuan harus beringsut menyesuaikan diri dengan situasi perubahan itu.

Di studi kebudayaan pun, ketika masyarakat telah berubah dari masyarakat yang bounded menjadi masyarakat terbuka dan inklusif, membawa konsekuensi, teori kebudayaan dan pendekatannya harus mengalami adaptasi.

Jika dulu untuk mengenali kebudayaan masyarakat sederhana (peasant society), etnografer cukup dengan menggunakan teori dan pendekatan berhaluan esensialisme (evolusionisme, difusionisme, struktural dan fungsionalisme, kognitivisme, strukturalisme dan interpretif simbolik), tapi sekarang sudah sulit untuk dilakukan karena hampir sebagian satuan sosial telah berubah tidak lagi  memiliki kebudayaannya yang terpola.

Karenannya, meminjam teori sosial yang berhaluan posmodernisme, studi kebudayaan bergeser banyak menggunakan teori dan pendekatannya menjadi berhaluan anti-esensialisme. Manusia menjadi subyek yang  mereproduksi kebudayaan.

Manusia tidak lagi sebagai obyek dari suatu kebudayaan (kulturalisme) dan obyek dari kekuatan ekonomi politik (ekonomisme), tapi sebagai subyek dari kebudayaan.

Begitupun di sejumlah studi lainnya seperti sekarang, linguistik, dan sastra, sudah barang tentu mengalami perubahan juga karena globalisasi dan karenanya memerlukan adaptasi di level epistemologi.

Faktor lain, kenapa studi-studi sosial humanionara harus merubah cara pandang dan pendekatannya adalah kebijakan nasional mengenai riset yang antara lain, riset harus dapat diterapkan (dihilirisasi), dan menjadi tool bagi pemecahan masalah sosial budaya, maka riset  mau tidak mau wajib mengikuti tren itu.

Untuk itu, melalui forum seminar ini, perlu dilakukan pembahasan bagaimana masing-masing ilmu mengadaptasikan orientasi teoritik dan pendekatannya mengingat dunia tengah mengalami perubahannya. (RS)

28
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>