Sebarkan berita ini:
ilustrasi
ilustrasi

SEMARANG[SemarangPedia] – Sebuah film dokumenter tentang fakta perekrutan kelompok ISIS bakal ditayangkan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Film bejudul ‘Jihad Selfie’ karya Noor Huda Ismail diputar pertama kali di Jenewa.

Pemutaran film yang menelusuri perjalanan warga Indonesia untuk bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak ini digagas oleh elemen Jurnalis Creative bersama Mediatama.Co Production Semarang.

Acara yang juga akan diisi diskusi ini berlokasi di  Aula Kantor Kesbangpol dan Linmas Provinsi Jateng pada 26 Juli 2016.

“Kami lihat film ini sangat menarik dan mendidik, maka kami putar film sekaligus datangkan sutradaranya ke Jawa Tengah. Selanjutnya akan kita buat road show yang dimulai dari Kota Semarang” ujar Ketua Journalis Creative, Damar Sinuko di Semarang, Kamis, (21/7).

Selain sutrarada, lanjutnya, sejumlah narasumber dari berbagai instansi juga dihadirkan, masing-masing dari Polda Jateng, Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme (FKPT) serta kalangan Akademisi dan Jurnalis.

Jihad Selfie adalah film dokumenter yang dibuat secara riil tanpa melalui script atau scenario. Inti dari film ini adalah fakta perekrutan kelompok teroris atau kelompok radikal dalam hal ini ISIS yang kini menggunakan sosial media, seperti Facebook, Twitter, WhatsAp, Instagram, Skype.

Noor Huda selaku Sutradara sekaligus Produser menturkan perekrutan teroris tersebut lewat sosial media dari salah satu remaja 17 tahun asal Aceh bernama Akbar Maulana yang mendapatkan beasiswa belajar agama di Turki.

Pada 2014, secara tak sengaja, Noor Huda mendapati Akbar yang saat itu di sebuah warung di Turki tengah galau saat melihat foto selfie beberapa temannya asal Indonesia yang bergabung di ISIS tengah memanggul senapan M-16. Akbar pun mulai terpikat dan ingin ikut bergabung ke ISIS.

Dari pertemuan dengan Akbar inilah, Noor Huda yang mencoba menyadarkan dan memulangkan Akbar ke Indonesia. Kemudian mulai dikonseplah sebuah film documenter berjudul ‘Jihad Selfie’ ini yang baru syuting pada Maret 2015 hingga berakhir pada Juni 2016.

Mahasiswa PhD asal Indonesia itu mengatakan semua adegan dalam film berdurasi 49 menit ini adalah murni adegan nyata. Hanya adegan pertemuan dengan Akbar saja yang direka ulang.

“Adegannya nyata, riil semua tanpa scenario. Yang direka ulang hanya adegan pertemuan awal saya dengan Akbar”, tutur Noorhuda.

Pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian yang berkecimpung dalam deradikalisasi mantan teroris itu menambahkan, film ini memiliki misi edukasi dan pencegahan, jika perekrutan kelompok teroris bukan lagi pada obyek kelompok atau organisasi yang berperilaku kekerasan.

Pola perekrutanpun, lanjutnya, sudah mengalami pergeseran dan menyesuaikan jaman, salah satunya melalui sosial media.

“Obyek mereka sudah bukan lagi kelompok keras atau radikal di Indonesia. Tapi anak-anak muda, yang saat ini demen dengan sosial media,” ujarnya.

Kabarnya, setelah putar perdana di Jenewa film ini akan diputar juga di berbagai kota besar di dunia, baik sebagai bagian dari counter narrative atau di festival film-film dunia.  Seperti Kuala Lumpur Malaysia, Singapura, Jepang, Inggris, China dan Belanda. (RS)

112
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>