Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang (FIS Unnes) menggelar seminar internasional dan hasil resumnya diharapkan bakal mampu memberikan kontribusi pemikiran dan konsep pemberdayaan masyarakat desa.

Kegiatan seminar internasional dengan mengsung tema The 2nd ICORSIA Internasional Conference On Rural Studies In Asia “Recognizing Resilience Ini Rural Asia” digelar selama dua hari mulai 10-11 Oktober 2018 di Hotel Graha Santika,Semarang.

Sebanyak empat pembicara dihadirkan terdiri Jonathan Rigg dari National University Singapore, A Rahman Tony Bin Abdullah dari University Malaysia Sabah, Hans Antlov dari Knowledge Sektor Initiative RTI Internasional dan Dewi Liesnoor Setyowati dari Unnes.

Menurut Wakil Rektor Bidang Akademik Unnes Prof Dr Rustono M Hum, seminar ini sebagai upaya untuk ikut memberikan pemikiran maupun konsep terkait pemberdayaan masyarakat desa dalam mengelola dana bantuan dari pemerintah.

“Kebijakan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) memberikan dana sebesar Rp1 miliar untuk setiap desa. Melalui masukan pemikiran maupun konsep para akademisi diharapkan dana untuk desa itu dapat teraktualisasi dan mampu memberdayakan masyarakat,” ujarnya usai pembukaan seminar, Rabu (10/10).

Dia menuturkan sebanyak empat pembicara memiliki latar belakang keilmuan dibidangnya yang mumpuni.

“Pembicara dari luar negeri memiliki bidang keilmuan yang bervariasi di antaranya sosiologi, geografi dan sejarah,” tuturnya.

Seminar ini, dia menambahkan tidak hanya diikuti peserta dari dalam negeri. Namun, peserta juga berasal dari luar negeri.

“Peserta kali ini diikuti sebanyak 156 peserta yang berasal tidak hanya dari Indonesia saja, tapi juga ada peserta dari Filipina, Malaysia dan India,”” ujarnya.

Kegiatan konferensi ini, lanjutnya, selain untuk pengembangan keilmuan juga untuk peningkatan publikasi.

Seminar ini terindeks Thomson Reuters, sehingga semua peserta akan mendapat keuntungan besar yaitu artikel terindeks Thomson Reuters.

Semiar itu juga mengangkat isu-isu terkini yang dihadapi oleh desa di kawasan Asia di antaranya persoalan kemiskinan, pendidikan, perubahan iklim, bencana alam, gender, ketahanan pangan, konflik yang berhubungan dengan sumber daya alam di desa, dan politik tingkat desa.

“Meskipun pembangunan telah dilakukan di desa, namun belum bisa menjawab permasalahan yang ada. Pada hakikatnya pembangunan adalah usaha untuk pengembangan masyarakat di berbagai negara termasuk di Asia,” tuturnya.

Menurutnya, jika desa telah mampu melaksanakan pembangunan secara mandiri, maka kesejahteraan masyarakat bakal dapat terwujud dan berdampak pada peningkatan indeks pembangunan masyarakat Asia.

Akademisi, lanjutnya, peneliti dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian serta pemerintah diharapkan dapat saling bercurah pendapat dan mendiskusikan (exchange views on) tentang permasalahan tersebut. (RS)

32
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>