Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Jateng akan menunjukan peduli dengan Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang bakal digelar pada 17 April mendatang untuk dapat berjalan lancar, aman dan damai serta menjaga keberagaman dan persatuan bangsa.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengajak semua komponen masyarakat di wilayahnya untuk menciptakan iklim kondusif di Jateng Pada pemilu serentak 2019 mendatang.

Tidak kalah penting, lanjutnya, Jateng harus peduli dengan Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden serta menjaga keberagaman dan persatuan bangsa, seperti saat digelar Pemilihan Guberrnur (Pilgub) beberapa waktu lalu dapat berjalan kondusif.

“Pilihan boleh berbeda, tetapi diharapkan warga tetap adem. Demikian pula, media kami harapkan memberitakan hal-hal yang positif, tonjolkan program yang membangun, bukan berita hoaks,” ujarnya saat menjadi keynote speaker pada talkshow bertajuk “Media, Keragaman, dan Tahun Politik 2019”, di Gedung PWI Jateng, Senin (11/2).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Jateng ini menghadirkan sebagai pembicara Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Ketua DPRD Kota Semarang Supriyadi, Ketua KPID Jateng Budi Setyo Purnomo, Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jateng Dewi Susilo Budihardjo, Ketua Dewan Pengelola pelaksana (DPP) Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Prof Dr KH Noor Achmad MA dan Ketua PWI Jateng Amir Machmud.

Menurut Ganjar,  mengajak masyarakat menjaga keragaman dan kerukunan yang sudah terajut dengan baik. Bahkan Jateng yang adem dan  kondusif jangan sampai terkoyak oleh berita-berita hoaks atau informasi bohong yang marak di menjelang pesta demkorasi ini.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menuturkan pada tahun politik saat ini bermunculan berita hoaks dan nyinyir yang semakin semarak di media sosial (Medsos), sehingga harus disikapi secara hati-hati.

“Masyarakat diingatkan bahwa kita diperintahkan oleh agama dan kalau kita mengaku orang yang beriman ketika muncul berita-berita yang tidak bisa kita pertanggungjawabkan harus ber-tabayyun,” tutur Gus Yasin panggilan akrab Taj Yasin.

Selain tabayyun, menurutnya, mencari kejelasan tentang sesuatu hingga benar keadaannya, bagi umat Islam, semua yang dilihat, didengar, dipikirkan dan dilakukan harus dipertanggungjawabkan bukan hanya di dunia, tetapi juga bertanggung jawab kepada Allah SWT. Demikian pula bagi umat agama lain pasti ada pertanggungjawaban terhadap Tuhan atas semua yang dilakukan.

Namun muncul persoalannya, dia menambahkan para penyebar hoaks kerapkali berdalih jika mereka tidak membuat atau menciptakan hoaks, tetapi hanya menginformasikan kepada lainnya. Meski dalam Alquran jelas disebutkan, setiap seseorang akan mendapatkan ganjaran dari apa yang disampaikan. Jika yang disampaikan kebaikan akan mendapatkan ganjaran pahala, sebaliknya, menyampaikan keburukan akan diganjar dosa.

Semua informasi yang diterima, tutur Gus Yasin, harus disaring sebelum share agar tidak ikut menyebarkan hoaks. Terlebih nyinyir, karena nyinyir itu gambaran otak dan hati seseorang hanya ada kebencian terhadap orang yang tidak disukai.

Gu Yasin juga mengajak masyarakat yang memiliki hak pilih untuk ikut menyukseskan pesta demokrasi yang akan digelar 17 April mendatang dengan datang ke TPS dan menyalurkan suara untuk lima tahun ke depan.

“’Para politisi ayo bikin masyarakat menyukai politik. Berpolitik yang santun dan indah, selalu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ujarnya.

Putra ulama kharismatik KH Maimoen Zubair itu mengatakan tidak hanya kepada masyarakat, politikus, Namun, juga meminta para jurnalis atau insan pers menunjukkan marwah pers yang sangat ditunggu-tunggu masyarakat.

Pada Hari Pers Nasional 2019, media di Indonesia diharapkan menjadi pelopor dan contoh yang baik bagi media-media lain.

Ketua PWI Jateng Amir Machmud mengharapkan kepada elit politik untuk tidak mengkhianati cita-cita Pemilu damai dan kampanye damai dengan provokasi-provokasi yang tidak ada gunanya. Tinggalkan fitnah maupun penyebaran ujaran kebencian, agar rakyat tidak muak dan apatis terhadap politik.

“Kepada para wartawan profesional, mari kita menjadi penyebar informasi yang berpijak pada pilar-pilar kebangsaan sesuai dengan Bhinneka Tunggal Ika hingga tercipta iklim yang konsudif ,” tuturnya. (RS)

20
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>