Sebarkan berita ini:

25-GanjarSEMARANG[SemarangPedia] – Pemasungan terhadap para penderita sakit jiwa harus segera dihentikan dan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) agar mendapat perawatan medis yang layak tanpa harus menyiksa fisik.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan prihatin banyaknya penderita sakit jiwa yang masih dipasung oleh pihak keluarganya di provinsi ini.

Menurutnya, para penderita seharusnya mendapatkan hak-hak pengobatan medis dan perlakuan layak seperti pasien lainnya.

“Masih banyak kasus pemasungan di Jateng. Itu penanganan yang menyiksa fisik dan melanggar hak asasi manusia. Bahkan beberapa orang dibuang, padahal itu tidak boleh. Itu seperti kata Rhoma Irama, Terlalu!!,” ujarnya saat memberikan sambutan pada Kongres Nasional VIII dan 15 th ASEAN Federation of Psychiatry and Mental Health Conggres, di Hotel Patra Jasa, Semarang, Kamis (25/8).

Dalam konggres bertajuk “New Challenges in Pyshiatric Care in ASEAN Economic” itu, Ganjar berkisah tentang seorang lelaki gila warga Kabupaten Pati, yang dipasung oleh keluarganya selama kurang lebih empat tahun. Pemasungan dilakukan karena orang tersebut kerap mengamuk dan membahayakan warga.

“Ketika saya tanya dia bisa menjawab. Termasuk saat ditanya tentang nama, alamat, umur, dan alasan dipasung. Saya tanya kenapa kamu dipasung, dia menjawab katanya saya gila. Kalau kamu tidak dipasung apa yang kamu lakukan, dia bilang kadang-kadang saya ngamuk,” paparnya.

Melihat kondisinya memrihatinkan, Ganjar meminta supaya kayu pemasung dibuka dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) hari itu juga agar mendapat perawatan medis yang layak tanpa harus menyiksa fisik.

Menurutnya, dari berbagai kasus penderita gangguan jiwa, termasuk para penderita yang tidak berdaya atau terbuang dari lingkungan keluarga atau masyarakat, negara harus bertanggung jawab. Sedangkan proses untuk kesembuhannya, para dokter dan pakar kejiwaan yang paling bertanggungjawab.

“PR kita masih banyak. Bagaimana dalam kegiatan ini, para peserta bisa berbagi pengalaman dari banyak para pakar kejiwaan untuk menyelesaikan beragam persoalan tentang kejiwaan. Metodenya keilmuannya sampai dengan public policy sebagai Gubernur untuk menyelesaikannya. Itu harus diselesaikan secara sistematis, secara baik,dan kemudian mampu mengukur kemampuan kita,” ujarnya. (HN/RS)

 

100
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>