Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Dua wakil kelompok warga Rembang yang menolak maupun mendukun pendirian pabrik semen Rembangg, akhirnya dipertemukan oleh Gubernur Jateng Ganjar Pranowo di Aula Lantai 2 Kantor Gubernur Jalan Pahlawan Semarang, Selasa pagi. (20/120

Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu, dengan pembatasan masing-masing wakil hanya 20 orang tersirat banyak kejadian cukup menarik yang dikemukaan dua wakil kubu tersebut.

Kubu penolak dipimpin Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Gunretno. Sedangkan kubu pendukung ada Dwi Joko Supriyanto, seorang guru SD di Desa Tegaldowo.

Mengawali pertemuan Gunretno tetap pada pendirian semula tetap mempermasalahkan Gubernur Ganjar Pranowo mengecewakan masyarakat dengan mengeluarkan izin lingkungan baru untuk PT Semen Indonesia.

Dia juga tetap konsisten mengawal penolakan pabrik semen tidak hanya di Kabupaten Rembang, tetapi di daerah lain di Jawa Tengah.

Menurutnya, tim kecil bentukan Ganjar dan kementerian masih diragukan, mengingat dibentuk hanya untuk memastikan pabrik semen Rembang tetap beroperasi.

Bahkan dia bersikeras tetap akan menolak beroperasi pabrik semen Rembang, mengingat gugatan PK terhadap semen gresik yang di ajukan ke Mahkamah Agung (MA) pada 5 Oktober 2016 dimenangkan oleh warga yang menolak.

Dengan adanya keputusan tersebut, warga tetap menuntut izin lingkungan yang diterbitkan gubernur harus segera di cabut dan menghentikan aktivitas pembangunan pabrik semen gresik di kawasan pegunungan kendeng.

Sementara Dwi Joko Supriyanto dari kubu pendukung pabrik semen meminta masalah bisa diselesaikan secara damai dan kekeluargaan. Baik warga pendukung maupun penolak semen harus rukun, karena masih satu desa, bahkan satu keluarga dan semua bersaudara.

“Ayo sedulur kabeh do dirembuk sing apik , yang menolak-nolak itu semua kan murid  saya, termasuk Joko Priyanto itu juga murid saya,” ujarnya.

Pihak penolak semen, dia juga meminta  untuk mendengarkan pendapat warga sekitar pabrik, karena dari sebanyak 12.000 warga di lima Desa sekitar pabrik semen, lebih dari 95% mendukung operasional PT Semen Indonesia.

Warga yang mendukung terus bertambah, karena manajemen PT Semen Indonesia telah berhasil menunjukkan komitmennya untuk mensejahterakan masyarakat, hal itu juga nisa terleihat sebagai besar warga yang semula menganggur sudah bekerja di pabrik semen bersangkutan.

Dengan bekerja reguler, perekonomian keluarga mereka semakin membaik, meski warga ada yang hanya lulusan SMP, selain anak mereka bisa kembali melanjtkan pendidikan hingga kuliah.

Dia menturkan perkiraan yang salah jika kubu penolak menyebutkan pabrik semen akan mematikan lahan pertanian, justru para petani yang tanahnya dibeli PT Semen Indonesia dengan harga jual yang tinggi sekarang hidup makmur. Bahkan hasil penjualan tanah itru oleh petani, dibelikan tanah di wilayah lain dengan lebih luas.

Sedangkan mengenai kekhawatiran sumber air, Joko mengatakan PT Semen Indonesia di Tuban tidak ada dampak, dan terlihat lahan persawahan di daeah itu tetap tumbuh subur dan hasil produksinya baik.

“Yang masih banyak mengkhawatirkan dampak apapun mungkin karena mereka belum membuktikan. Sekarang juga sudah dibangun embung untuk pengairan di Tegaldowo,” tuturnya.

Dia menyarankan agar warga penolak semen untuk objektif, karena di daerahnya terdapat sekitar tujuh hingga 10 tambang ilegal milik perusahaan besar. “Kalau semen Rembang yang punya pemerintah dipersoalkan, mengapa yang swasta seperti Sinar Mas, Ahaka, CCI dan lain-lain itu tidak dipermasalahkan. Padahal mereka aktivitas penambangannya juga ngawur dan sama sekali tidak mempeduli kesejahteraan warga,” ujarnya.

Sementara Ganjar menuturkan tidak pernah mengeluarkan izin baru. Sesuai hasil rapat dengan kementerian di Jakarta, keputusan untuk semen Rembang akan diterbitkan pada 17 Januari 2017.

Hasil rapat, dia menambahkan juga memutuskan membentuk tim kecil lintas sektor untuk merespon putusan PK Mahkamah Agung.

Menurutnya, putusan MA sama sekali menyatakan penutupan pabrik. MA hanya memutuskan pencabutan izin lingkungan semen Rembang. Hal itu juga sesuai dengan pernyataan salah satu pihak penggugat semen yakni Abetnego Pancaputra Tarigan dari Walhi.

“Abetnego ketika saya tanyakan apa ada opsi pabrik ditutup? Dia menjawab tidak pernah bicara penutupan pabrik. Jadi kalau izin apakah dicabut, pasti dicabut. Tapi apakah dicabut  lalu pabrik bisa ditutup, atau dicabut dengan tambahan diktum-diktum, tunggu 17 Januari aja,” ujar Ganjar. (HN/RS)

134
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>