Sebarkan berita ini:

25-gedung-apungSEMARANG[SemarangPedia] – Gedung Apung rumah baca dan balai pertemuan warga yang dibangun di Tambaklorok, Tanjung Mas, Semarang Utara Agustus lalu kini rampung dan telah diresmikan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljianto, Jumat (25/11).

Gedung yang menjadi pilot project sistem modular wahana apung dibangun dengan menelan anggaran Rp 1 miliar. Proyek Kemen PUPR direalisasikan bekerja sama dengan Pemkot Semarang dan desain dengan mengaplikasikan teknologi modern

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan rumah baca ini dibangun dengan teknologi yang digunakan yaitu teknologi apung. Selain energi listrik bersumber dari tenaga surya, sedangkan sanitasi menerapkan teknologi biofil.

“Bangunan ini merupakan inovasi baru dan pertama kali direalisasikan pembangunannya di Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, digunakan teknologi listrik tenaga surya, karena wilayah Tambaklorok merupakan daerah dengan intensitas sinar matahari yang tinggi dan sangat cocok dimanfaatkan sumber listrik dari tenaga surya.

Dari sisi efisien, lanjutnya, bangunan rumah baca apung ini adalah tidak memakai pondasi, sehingga biayanya lebih murah hingga terpaut 40% dibanding dengan menggunakan pondasi.

Bangunan Rumah Baca dan Balai Pertemuan Warga Tambak Lorok memiliki dua lantai. Lantai bawah diperuntukkan balai pertemuan warga, sedangkan lantai atas untuk perpustakaan.

Pembangunan wahana apung ini merupakan salah satu alternatif menangani kawasan kumuh Tambaklorok dengan kondisi alam cukup ekstrem, mengingat kawasan Tambaklorok merupakan wilayah pesisir Semarang dengan luas kawasan kumuh cukup besar.

Disamping pembangunan rumah baca, dia menambahkan juga balai pertemuan akan mewujudkan kawasan Tambak Lorok yang sehat.

Kondisi alam kawasan tambak Lorok yang cukup ekstrem, akibat banjir dan rob yang sering terjadi, serta penurunan tanah (land subsidance) yang tinggi sekitar 10- 13 sentimeter per  tahun, sehingga diharapkan gedung ini dapat dimanfaatkan untuk balai dan perpustakaan warga.

Selain itu, gedung apung ini bisa dimanfaatkan untuk pariwisata, promosi sekaligus sosialisasi untuk mengubah pola pikir warga dari landes house ke wahana apung. Bila masyarakat setuju, wahana apung bisa dikembangkan menjadi hunian apung untuk warga.

358
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>