Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Sejumlah anggota Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) Aliansi Tepi Barat Magelang mendatangi Direktur Reserse Kriminal Umum (Dirreskrimum) Polda Jateng, untuk menanyakan penangkapan tiga anggotanya.

Kedatangannya ke Polda Jateng, Senin (16/3), dipimpin oleh Pemilik Gerakan Pemuda Kabah (GPK) Aliansi Tepi Barat Magelang Gus Nurul Yakin didampingi  Komandan GPK Aliansi Tepi Barat Pijiyanto, Wakil Ketua GPK Jateng Zaenal Petir, Anam Imamuddin Ketua Frons Aliansi Umat Islam Bersatu Jateng dan DIY, dan pengacara untuk menanyakan penangkapan tiga anggotanya terdiri Asep, Angga dan Ahmad.

Ketiga anggota GPK itu ditangkap Polisi pada Jumat malam pekan lalu (13/3). Namun Ahmad sudah dilepas pada Minggu malam (15/3), sedangkan Asep dan Angga hingga kini masih ditahan di Polda Jateng.

Kedatangan mereka diterima langsung oleh Dirreskrimum Polda Jateng Kombespol Budi Haryanto.

Pemilik GBK Aliansi Tepi Barat Magelang Gus Nurul Yakin mengatakan pihaknya meminta penjelasan Polisi serta menyampaikan fakta sesungguhnya yang terjadi di lapangan kepada Polisi atas kasus penangkapan kedua anggotanya.

Menurutnya, Polda Jateng dalam mengamankan tiga anggotanya, tidak sesuai dengan prosuder, karena sebelumnya tidak ada surat pemberitahuan penangkapan.

“Penangkapan tidak ada surat pemberitahuan sebelumnya kepada keluarga. Tiba-tiba ketiga bersangkutan hilang, hingga kita semua bingung.  Kita tahu kalau mereka ditangkap Polisi selang dua jam, setelah kita bersama keluarga mencarinya,” ujar Gus Nurul Yakin kepada wartawan setelah bertemu Dirreskrimum.

Dia menambahkan ketiga anggotanya Asep, Angga dan Ahmad ditangkap karena dilaporkan telah melakukan pemukulan/pengeroyokan kepada petugas keamanan (satpam) perusahaan pakan ternak SF di Tempuran Magelang, pada Senin (9/3).

“Padahal, sepengetahuan saya justru yang mengawali pemukulan itu adalah petugas keamanan pabrik ternak tersebut. Asep juga sudah melaporkan satpam pabrik ke Polisi. Petugas keamanan memukul korban lebih dahulu, tapi dia tidak diamankan,” tuturnya.

Semua kejadian itu, tutur Gus Nurul Yakin, sudah dijelaskan kepada Dirreskrimum sesuai di lapangan.

“Saya sudah beberkan semua apa adanya kepada Pak Dirreskrimum. Selanjutnya saya serahkan sepenuhnya kepada Polisi. Saya percaya penuh kepada penegak hukum,” ujarnya.

Dia menuturkan kasus ini bermula dengan adanya pabrik pakan ternak SF di Tempuran Magelang. Pabrik pakan ternak itu melanggar hukum dan pada Agustus 2019 lalu, Bupati Magelang sudah mengeluarkan keputusan penghentian sementara kegiatan fisik dan non fisik terhadap pabrik itu.

Namun Satpol PP tidak melakukan penutupan pabrik itu. Kemudiam pada Desember 2019, Bupati Magelang kembali mengeluarkan surat yang sama. Namun lagi-lagi Satpol PP tidak melakukan penutupan pabrik, hingga memunculkan kejengkelan warga.

“Kemudian dibentuk tim pencari fakta terdiri dari TNI, Polri, SKPD terkait,  LH, Stapol PP, warga dan kami GPK,” tuturnya.

Kemudian pada Senin (9/3) GPK bersama warga datang ke pabrik melakukan unjuk rasa, meminta agar pabrik segera ditutup. Permintaan agar pabrik ditutup beradasarkan surat keputusan Bupati. Namun akhirnya terjadi pemukulan.

Sementara itu, Dirreskrimum Polda Jateng Kombes Pol Budi Hariyanto membenarkan sedang menangani kasus pengeroyokan yang terjadi di Magelang.

Menurutnya, untuk sementara tersangka yang diamankan dua orang terdiri Asep dan Angga. Sebagai pelapornya adalah Satpam pabrik pakan ternak.

“Polisi itu kan sebagai alat penegak hukum. Jika ada laporan tindak pidana maka kami menindaklanjuti. Kemudian melakukan pemeriksaan-pemeriksaan dan juga mengumpulkan alat bukti. Kasus ini adalah kasus pengeyorokan dan kami mengamankan dua orang tersangka Asep dan Angga,” ujar Budi. (RS)

1.066
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>