Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Para pedagang batik di sentra Kampung Batik Semarang penjualan mengalami peningkatan saat memperingati Hari Batik Nasional 2 Oktober 2017, seiring meningkatkan para konsumen yang berkunjung di kawasan itu.

Pemilik Batik Balqis, Fairuz Zabadi mengatakan Hari Batik Nasioanl itu mendorong penjualan para pedagang batik di kawasan Kampunh batik hingga melojak 30% dibanding hari-hari biasa.

“Menjelang hari Batik Nasional penjualan batik sudah terlihat mengalami peningkatan bersamaan dengan bertambahnya jumlah konsumen yang datang ke sentra pedagang batik itu,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini semakin banyak kesadaran masyarakat untuk menggunakan batik khususnya anak-anak muda, sehingga, untuk mempromosikan batik di kalangan anak-anak muda sudah lebih mudah menerima warisan budaya Indonesia tersebut.

“Saat ini anak-anak muda mulai suka menggunakan batik, dari sebelumnya pasdar anak muda sangat sulit untuk meningkat,” tuturnya.

Dengan adanya Hari Batik Nasional, lanjutnya, ternyata dapat mendorong penjualan batik di berbagai sentra perdagangan batik, ternasuk di Kampung Batik Semarang.

Momen Hari Batik Nasional itu, dia menambahkan diharapkan masyarakat bisa semakin sadar untuk bisa menggunakan batik dan ikut melestarikan budaya leluhur.

Kota Semarang selama ini tidak hanya memiliki makanan khas yang dikenal seperti Lunpia, Bandeng Presto, Wingko Babad dan lainnya, Namun, juga memiliki warisan budaya batik, yang dibuktikan dengan adanya Kampung Batik yang sudah berdiri sejak jaman Kolonial.

Kampung Batik Semarang saat ini menjadi pusat perdagangan oleh-oleh kain atau busana batik yang mulai diminati para wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Ibukota Jateng itu.

Menurut Tri Utomo, salah satu pemilik gerai batik di Kampung itu, batik Semarangan yang diprakarsai pada 2006 oleh Ibu Sinto Sukawi istri mantan Walikota Semarang Sukawi Sutarip, kini mulai banyak dikenal masyarakat.

Pemilik gerai batik Ngesti Pandowo itu menuturkan Kampung Batik ini sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Di kawasan Kampung Batik sebelumnya menjadi pusat pengrajin batik pada era 1940-an ketika waktu jaman penjajahan dan dulu bersamaan dengan terjadinya pertempuran lima hari kampung ini dibakar habis.

Memang di kawasan ini dulu banyak pengrajin batik yang akhirnya banyak yang mengungsi, meninggal atau mungkin direkrut pengrajin batik dari kota lain seperti Pekalongan, Lasem dan Kota lainnya.

Setelah kejadian pertempuran itu, tutur Tri, di Kampung Batik aktivitas pengrajin batik hampir terjadi stagnan atau nyaris punah tidak ada lagi kegiatan batik- membatik hingga generasi sekarang, namun sebutannya hingga saat ini masih tetep Kampung Batik.

Pada 2006 mulai diadakan pelatihan membatik dengan menggali batik Semarangan dan pelatihan tersebut tidak hanya untuk warga Kampung Batik saja, tetapi juga bagi warga Semarang yang berminat diperbolehkan untuk mengikuti pelatihan.

Pelatihan membatik didampingi oleh Dinas Perindustrian Dan Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pariwisata Kota Semarang dan juga di datangkan ahli-ahli batik dari Pekalongan, Solo. Saat itu di Kampung Batik memiliki gedung Balai yang memang sengaja digunakan sebagai tempat pelatihan.

Hasil dari pelatihan batik , Pemerintah Kota Semarang mencoba ikut membantu memasarkan melalui berbagai pameran yang di gelar di berbagai tempat seperti pameran di PRPP, saat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Semarang maupun acara pameran yang diselenggarakan di Mall-Mall Kota Semarang.

Menurutnya, untuk motif batik Semarangan setelah digali selama bertahun-tahun kini terdapat berbagai macam motif seperti motif Peterongan, motif Gajahmungkur, motif Blekok Srondol, motif Parang Asem, motif Lawang Sewu, motif Asem Sedompyok dan masih banyak motif lainnya.

Motif-motif batik tersebut menggambarkan keadaan Kota Semarang, dan khasanah budaya yang ada di wilayah Kota Semarang. Sama seperti kota-kota lain batik Semarangan terdiri dari tiga jenis seperti batik tulis, batik cap dan batik printing.

Ciri khas batik Semarang karena daerahnya di pesisir corak warnanya cukup berani. Untuk pewarnaan batik Semarang ini selain menggunakan warna sintetis juga menggunakan warna alam yang terbuat dari bahan-bahan alami seperti kayu mahoni, pohon indigo, dan bahan-bahan alami lainnya. Warna alam ini yang kini sangat digemari kalangan wisatawan mancanegara karena lebih ramah lingkungan.

Saat ini Kampung Batik sudah cukup ramai dikunjungi oleh para wisatawan terutama saat mereka melakukan perjalanan ke Kota Semarang dan banyak wisatawan yang sengaja mampir untuk mencari oleh-oleh batik Semarangan.

Lokasi Kampung Batik Semarang berada  di Semarang Timur tepatnya di dekat bundaran Bubakan. Jika dari Gereja Blenduk Kota Lama, maka harus memutar sampai ke Bundaran Bubakan. Gang masuknya berada di samping Kantor BRI dan didinding Gapura terdapat mural batik dan tulisan Kp Batik yang terbuat dari stainless steel. (RS)

56
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>