Sebarkan berita ini:

SEMARANG[Kampusnesia] – Puluhan esk karyawan PT Nyonya Meneer kini semakin resah, menyusul ada kabar perusahaan jamu yang telah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang itu diam-diam membuka lowongan kerja.

Bahkan di tengah proses penjualan aset jamu legendaris, Nyonya Meneer yang belum kunjung rampung akibat perbedaan pendapat dua kurator, kabar lowongan kerja semakin santer didengar para eks karyawan.

Menurut Joko Prasetyo satu eks karyawan PT Nyonya Meneer, sempat beredar santer lowongan kerja atas nama perusahaan Nyonya Meneer dengan alamat berada di kantor Nyonya Meneer lama di Jalan Raden Patah Semarang.

Selain itu, lanjutnya, juga beredar produk jamu merek Makuta Rama yang menampilkan logo Nyonya Meneer pada kemasan produknya, hingga semakin membingungkan para eks karyawan, mengingat 72 merek Nyonya Meneer kini tengah diupayakan proses penjualan oleh kurator.

“Para karyawan eks PT Nyonya Meneer semakin ramai saat mendengar ada lowongan kerja yang dibuka perusahaan dengan mengatasnamakan Nyonya Meneer.  Mereka kian resah dan bingung, mengingat kewajiban perusahaan membayar pesangon semua eks karyawan belum tuntas,” ujarnya.

Beberapa eks karyawan, dia menambahkan, telah memberikan kabar melalui saluran telpon dan sangat terkejut ada iklan lowongan tersebut, hingga keresahan itu menimbulkan emosi mereka.

Penelusuran pun dilakukan oleh sejumlah media, berawal dari kafe Makuta Jamu di Jalan Gang Pinggir, Pecinan Semarang untuk meminta keterangan pemiliknya yang kabarnya memproduki jamu Makuta Rama.

Kafe Makuta Jamu yang menyajikan sejumlah produk jamu dengan varian es krim dan sebagainya itu diketahui milik oleh pengusaha berinisial SB. Tidak ada logo Nyonya Meneer di produk maupun menunya.

Namun, di counter perusahaan jamu Makuta Rama yang dibuka di DP Mall jalan Pemuda sebelumnya dipasang logo Nyonya Meneer yang sempat membingungkan para eks karyawan itu.

Bahkan ada foto Nyonya Meneer di dinding kafe serta artikel koran yang menjelaskan produk Makuta Jamu. Dalam artikel itu terdapat pengakuan bahwa SB adalah generasi penerus Nyonya Meneer.

Penelusuran selanjutnya beralih ke kantor Nyonya Meneer lama. Tampak banyak aktivitas dan sejumlah mobil yang diparkir di kantor itu. Terdapat juga tulisan Nyonya Meneer Reborn di depan gerbang.

Pengacara kreditur (mantan karyawan), Khairul Anwar mengatakan segala bentuk kegiatan yang mengatasnamakan Nyonya Meneer (dengan merek dan logo sama) saat ini merupakan wewenang Kurator.

Jika ada pihak yang melakukan kegiatan atas nama Nyonya Meneer, kuratorlah yang wajib mengingatkan.

“Kalau sudah pailit, merah, kuning hijaunya ada di kurator. Entah yang melakukan kegiatan itu pembeli resmi, pihak keluarga atau siapapun,”  tuturnya.

Menurutnya, kegiatan atas nama Nyonya Meneer seharusnya dilakukan setelah masalah kepailitan (pembayaran hak pada kreditur) rampung.

Sementara pembeli merek dagang PT Nyonya Meneer diingatkan perlu berhati-hati, akibat perbedaan dua kurator dalam proses penjualan brand perusahaan tersebut, mengingat perpanjangan sertifikat merek dagang itu masih dalam proses pada Kementeri Hukum dan Hak Asasi Manusia dan sampai saat ini belum turun.

Kondisi itu, yang membuat salah satu kurator Nyonya Meneer memilih tidak ikut bertanggungjawab dan melepasnya, karena kurator bersangkutan  menginginkan jual beli merek dagang dilakukan setelah sertifikat diterbitkan serta dilakukan penilaian aset (appraisal) yang baru.

Kurator itu menilai jika perpanjangan sertifikat 72 merek dagang Nyonya Meneer sudah diterbitkan nilai jual bisa melebihi seharga Rp200 miliar. (rs)

28
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>