Sebarkan berita ini:

21-Jamu 1SEMARANG[SemarangPedia] –  Kalangan Industri jamu dan herbal mengharapkan berbagai produknya yang lolos uji klinis dapat diresepkan oleh dokter dan bisa masuk dimanfaatkan sejumlah rumah sakit.

Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Jawa Tengah (Jateng), Nyoto Wardoyo mengatakan produk jamu yang telah diuji klinik setidaknya bisa diresepkan oleh dokter dan masuk dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

“Para dokter seharus sudah dapat meresepkan produk jamu yang telah teruji klinis itu serta memasukan program JKN.  Bahkan bisa berkontribusi dalam Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS),” ujarnya di sela-sela seminar ‘ Meningkatkan Daya Saing Industri Jamu’ di Hotel Grasia Semarang.

Menurut Nyoto, kesiapan pengusaha jamu sudah dapat terlihat banyaknya menerapkan standar farmasi dalam produksinya sejak saintifikasi jamu dikembangkan.

Selain itu, dia menambahkan perusahaan jamu juga telah menerapkan standar good manufacturing practices (GMP) dengan cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) dan benar.

“Mereka juga telah menerapkan uji klinis dan preklinis bekerja sama dengan beberapa universitas besar ternama di Tanah Air,” tuturnya.

Sampai saat ini jumlah pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Persahaan Jamu Jateng  mencapai 297 industri, baik skala besar maupun usaha kecil menengah (UKM) dan 10 di antaranya telah merambah pasar ekspor.

Bahkan omset penjualan industri jamu tahun lalu meningkat hingga mencapai sebesar Rp15 triliun dari tahun sebelumnya hanya senilaiRp13,5 triliun.

Tahun ini, lanjutnya, omzet penjualan jamu diperkirakan bakal naik lagi menjadi Rp18 triliun dan ke depan kalangan industri jamu akan meningkatkan daya saing melalui produk yang berkualitas dengan standar pembuatan dan CPOTB yang benar.

Sementara itu, Dirut PT SidoMuncul Jontha Sofyan Hidayat mengatakan  di negara Asia lainnya terutama Cina, Korea dan India penduduk pedesaan memilih utamanya obat herbal untuk pengobatan, di negara maju pun saat ini kecenderungan beralih kepengobatan tradisional terutama herbal menunjukan gejala peningkatan yang sangat signifikan.

Dari hasil Susenas pada 2007 menunjukan di Indonesia sendiri keluhan sakit yang diderita penduduk Indonesia sebesar 28.15% dan dari jumlah tersebut ternyata 65.01% nya memilih pengobatan sendiri menggunakan obat dan 38.30% lainnya memilih menggunakan obat tradisional, Boleh jadi penduduk Indonesia diasumsikan sebanyak 220 juta jiwa maka yang memilih menggunakan obat tradisional sebanyak 23,7 juta jiwa, suatu jumlah yang sangat besar.

Indonesia sendiri yang terletak didaerah tropis memiliki keunikan dan kekayaan hayati yang sangat luar biasa, tercatat tidak kurang dari 30.000 jenis tanaman obat yang tumbuh di Indonesia walaupun yang sudah tercatat sebagai produk Fitofarmaka [bisa diresepkan] baru ada 5 produk dan produk obat herbal terstandar baru ada 28 produk.

Melihat potensi , dia menambahkan yang masih belum digali sangat besar dan dalam pengembangan obat herbal terutama yang merupakan produk herbal asli Indonesia, sangat memungkinkan industri jamu nasional bakal cepat berkembang.

Dunia Kedokteran Indonesia sendiri secara perlahan mulai membuka diri menerima herbal sabagai pilihan untuk pengobatan, bukan sekedar sebagai pengobatan alternatif saja, ini terbukti dengan berdirinya beberapa organisasi  seperti Badan Kajian Kedokteran Tradisional dan Komplementer Ikatan Dokter Indonesia pada Muktamar IDI XXVII pada 2009, Persatuan Dokter Herbal Medik Indonesia [PDHMI], Persatuan Dokter Pengembangan Kesehatan Timur [PDPKT] dan beberapa organisasi sejenis lainnya.

Ini semua membuktikan dunia kedokteran walau masih belum terbuka lebar tetapi para pelakunya, para dokter mulai melihat potensi yang besar dan ternyata bisa dikembangkan dalam pengobatan berbasis obat herbal, tidak hanya untuk menangani penyakit yang ringan tetapi juga untuk mengatasi penyakit yang berat.

Ketergantungan masyarakat terhadap obat konvensional kedokteran diharapkan bisa secara pasti diganti dengan masuknya obat herbal, saat ini ternyata 95% bahan baku obat konvensional masih di import, berapa banyak devisa yang bisa dihemat bila peralihan ini berjalan mulus.

Saatnya bagi perusahaan jamu yang peduli dengan khasiat serta mutu untuk mulai menerapka standar yang berlaku seperti GMP, SNI, CPOTB  sampai HACCP agar keyakinan masyarakat atas mutu produk yang dihasilkan bisa diperoleh.

 

144
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>