Sebarkan berita ini:

21-J Sofyan1SEMARANG[SemarangPedia] – Standarisasi profesi menjadi isu yang strategis karena sejalan dengan kebutuhan perusahaan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten, begitu juga industri harus dapat membenahi terutama pada penyiapan penguatan daya saing, untuk menghadapi ketatnya persaingan di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini.

Dirut PT SidoMuncul Tbk Sofyan Hidayat mengatakan di era globalisasi ini tenaga asing dapat bekerja di Indonesia, sehingga SDM kompeten akan menjadi barrier, untuk mencegah membanjirnya tenaga kerja asing di Indonesia, sekaligus menciptakan iklim kompetisi pasar tenaga kerja yang sehat di Tanah Air.

Peningkatan SDM yang kompeten, lanjutnya,  sangat relevan dengan kondisi saat ini dan paradigma ke depan, mengingat masyarakat bakal menghadapi persaingan yang semakin ketat di era MEA yang sudah diberlakukan pada tahun ini.

Menurutnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang ikutserta dalam merativikasi WTO pada 1994 dan forum internasional lain seperti AFTA, APEC, dan GATT, sehingga konsekuensinya mengharuskan negara ini mematuhi aturan yang disepakati di panggung internasional.

Selain itu, dia menambahkan konsekuensi bagi industri juga harus dapat membenahi terutama pada penyiapan penguatan daya saing serta pemenuhan Sumber Daya Manusia yang kompeten dapat diterima oleh pasar global, mengingat ketentuan global sudah dimulai termasuk diberlakukan MEA.

“Kita harus mampu berkompetisi, bahkan mengalahkan persaingan dengan negara lain di era MEA saat ini,” ujarnya kepada SemaragPedia.com, Rabu. (22/6)

Dia menyakini Indonesia mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri, meski terdapat persyaratan yang harus dipenuhi, terutama mampu mengembangkan Sumber Daya Alam (SDA) dan mempercepat peningkatan SDM.

Menurutnya, mengembangkan, mengolah dan memproduski hasil  SDA misalnya, pada industri jamu di Tanah Air harus semakin peduli dengan khasiat serta mutu untuk mulai menerapkan standar yang berlaku seperti GMP, SNI, CPOTB  sampai HACCP agar keyakinan pasar atas mutu produk yang dihasilkan bisa lebih dipercaya.

Selain itu, dia menambahkan industri jamu juga harus mendorong meningkatkan daya saing produk dalam negeri di persaingan pasar dunia, sekaligus untuk melindungi produk jamu Indonesia tidak diakui kreasi dari negara lain, seperti batik, reog Ponorogo  dan sejumlah lagu yang telah diklaim oleh negara lain.

21-Sofyan Sido1 “Jamu itu adalah milik bangsa Indonesia dan jamu juga budaya kita. Jangan sampai produk jamu alami kita diakui oleh negara-negara lain. Tidak hanya di era MEA tapi juga di era global. Jamu itu warisan leluhur. Kita harus menjaga dan mengembangkannya,” tutur Ayah dari tiga anak itu.

Pria kelahiran Yogyakarta ini kini sedang membangun sebuah venue berkelas yang akan didedikasikan untuk ‘marketing communication’ jamu di Indonesia. Meminjam istilahnya, -“tempat omong-omong” mengenai jamu Indonesia.

Venue yang bakal diberi nama ‘Sentra Jamu Indonesia’ ini, akan dipimpin langsung oleh Prof Dr Suwijiyo, seorang pakar dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Ya, kita tidak main-main dan harus optimistis serta mampu berkompetisi sebagaimana telah dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo, Bahkan jamu perlu diperkenalkan di seluruh dunia sebagai warisan budaya bangsa Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, dia menambahkan peningkatan SDM diperlukan untuk menghadapi persaingan pada pasca MEA ini. Dengan kualitas SDM yang matang, diiringi dengan pengembangan produk yang semakin berkualitas, sudah dapat dipastikan bakal mampu menguasai pasar.

“Setiap orang harus mampu memahami apa yang menjadi pekerjaan atau profesinya, sehingga memungkinkan apa yang menjadi tanggungjawabnya bisa dilaksanakan dengan baik, bahkan mampu berkompetisi,” tuturnya.

Dari pengalamannya sebagai perintis dan pucuk pimpinan perusahaan PT Muncul Mekar anak perusahaan PT SidoMuncul selama 45 tahun, dia mengingatkan pekerja (SDM) harus mengerti dan teliti dalam mengerjakan apa yang menjadi tanggungjawabnya.

“Harus diberikan tekanan atau tantangan. Tekanan itu akan membuat orang bergerak untuk berusaha baik, tidak tinggal diam, tidak loyo. Kalau mereka berhasil, tentu akan mendapatan reward, dan kalau gagal diberikan punishment,” ujarnya.

Pemimpin yang baik, dia menambahkan adalah pemimpin yang sanggup menjadi motor penggerak dengan memiliki target yang jelas, bahkan kalau bawahan ada masalah, tidak hanya emosional yang ditunjukkan, tetapi harus mampu memberikan solusinya.

Sofyan yang dikenal memimpin perusahaan dengan tegas, namun tidak banyak bicara dan low profile ini paling menyukai pekerjaan yang memiliki banyak tantangan.

Di usianya yang sudah berkepala enam ini, Sofyan masih tampak tegar dan cekatan bahkan berambisi untuk mewujudkan industri jamu Indonesia menjadi jamu terbaik dan terkemuka di dunia.

148
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>