Sebarkan berita ini:

23-Buruh RokokSEMARANG[SemarangPedia]- Kalangan industri rokok di sentra produksi Jateng menilai kebijakan pemerintah menaikkan cukai hasil tembakau sebesar 10,54 % pada 2017 masih realistis dan tidak berpengaruh signifikan terhadap produksi dan penjualan rokok.

Ketua Harian Persatuan Pabrik Rokok Kudus (PPRK) Agus Sarjanto mengatakan kenaikan tarif cukai rokok yang rencananya diberlakukan pada awal 2017 mendatang diyakini tidak akan mengganggu kinerja industri  rokok, meski kondisi ekonomi masih berjalan lamban.

“Kalau melihat situasi ekonomi memang cukup berat, tapi diharapkan untuk rokok tidak terlalu berpengaruh, karena rokok merupakan barang inelastis, sehingga perubahan harga tidak serta merta mengubah perilaku konsumen,” ujarnya seusai acara diskusi “Cukai Melambung Siapa (B) Untung,” di Gedung Berlian DPRD Jateng  Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (26/10).

Dia menuturkan kenaikan cukai rokok yang akan diberlakukan pada 2017 dengan rata-rata 10,54%, masih lebih rendah dibandingkan rata-rata kenaikan 2016 yang mencapai 11,19%, terlalu konservatif..

“Dalam konteks kesehatan untuk perlindungan pada masyarakat konsumen, dan bahkan pada perspektif finansial ekonomi, besaran kenaikan cukai rokok pada 2017 adalah terlalu konservatif,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, aspek kesehatan, pemerintah juga perlu memperhatikan aspek lain dari rokok, yaitu tenaga kerja, peredaran rokok ilegal, petani tembakau, dan penerimaan negara.

Namun, dia menambahkan kebijakan itu, dipastikan tidak berpengaruh besar pada tenaga kerja yang terancam Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), mengingat besaran kenaikan cukai masih realistis lebih rendah dibanding kenaikan 2016, sehingga tidak bakal berdampak pada PHK karyawan pabrikan.

“Jika berdampak pada tenaga kerja, tentunya sudah terjadi pada saat kenaikan 2015 dan 2016. Sepanjang tahun lalu tidak ada tanda-tandanya terjadi pengurangan karyawan pada pabrikan rokok, terutama di sentra produksi terbesar di Kabupaten Kudus,” ujarnya.

Nilai rata-rata kenaikan yang hanya 10,54%  itu juga tidak akan mampu menahan laju konsumsi rokok pada masyarakat, sehingga kenaikan cukai tidak berpengaruh signifikan pada produksi rokok dan harga jual kepada konsumen.

“Tidak ada dampak secara signifikan. Karena, kenaikan harga rokok dapat diprediksi,  setiap tahun akan mengalami kenaikan. Bahkan di setiap Oktober atau Nopember sudah ditetapkan perubahan tarif cukai dan berlaku juga tahun berikutnya,” tuturnya.

Ketua Harian PPRK Kudus Agus Sarjanto
Ketua Harian PPRK Kudus Agus Sarjanto

Pemerintah berencana menaikan tarif cukai rokok pada 2017 rata-rata 10,54%. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kenaikan tarif terbesar berlaku untuk rokok jenis hasil tembakau sigaret mesin yaitu 13,46%, sementara yang terendah 0% untuk sigaret kretek tangan.

Pada awal 2017 pemerintah akan memberlakukan kebijakan cukai yang baru melalui Peraturan Menteri Keuangan No 147/PMK.010/2016. Dalam kebijakan disebutkan kenaikan tarif tertinggi sebesar 13,46% untuk jenis hasil tembakau Sigaret Putih Mesin (SPM) dan terendah sebesar 0% untuk hasil tembakau Sigaret Kretek Tangan (SKT) golongan IIIB, dengan kenaikan rata-rata tertimbang sebesar 10,54%.

Selain cukai tembakau, juga kenaikan harga jual eceran (HJE) dengan rata-rata sebesar 12,26%. Kebijakan itu dengan mempertimbangan pengendalian produksi, tenaga kerja, rokok ilegal, dan penerimaan cukai.

Selain aspek kesehatan, pemerintah juga perlu memperhatikan aspek lain dari rokok, yaitu tenaga kerja, peredaran rokok ilegal, petani tembakau, dan penerimaan negara.

Dari seluruh aspek tersebut perlu dipertimbangkan secara komprehensif dan berimbang dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan harga dan cukai rokok. Untuk kepentingan kesehatan, Kemenkeu melalui Bea Cukai dalam 10 tahun terakhir ini telah mengurangi jumlah pabrik rokok dari 4.669 pabrik menjadi 754 pabrik pada 2016.

Sementara aspek ketenagakerjaan, kebijakan cukai juga berdampak pada keberlangsungan lapangan pekerjaan sektor formal sebesar 401.989 orang, di mana tiga perempatnya atau 291.824 orang terlibat produksi sigaret kretek tangan yang merupakan industri padat karya.

Jika ditambah sektor informal, maka kebijakan ini berdampak pada kehidupan 2,3 juta petani tembakau, 1,5 juta petani cengkeh, 600.000 buruh tembakau, dan 1 juta pedagang eceran. Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan kebijakan cukai memberikan pengaruh berarti terhadap kehidupan lebih dari 5,8 juta masyarakat Indonesia. (RS)

185
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>