Sebarkan berita ini:
Oleh: Drs Gunawan Witjaksana, M.Si Dosen dan Ketua STIKOM Semarang

Pemilu serentak telah usai. Semua tentu berharap beda pendapat serta carut marut yang terkait dengan pemilu segera usai. Pemerintah sebagai fasilitator serta KPU, Bawaslu dan DKPP sebagai regulator telah melaksanakan tugas serta kewajibannya masing-masing dengan berjalan baik. Berbagai kekurangan pun telah diperbaiki, serta dalam tahap penyelesaian, misalnya terkait penghitungan suara ulang di beberapa tempat atau pun Pemungutan Suara Ulang (PSU).

Di sisi lain, kemajuan teknologi ikut pula menyadarkan masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya, sehingga berdasarkan data tercatat lebih dari 80 persen pemilik hak pilih yang menggunakannya.  Usai pemilu yang pada hakekatnya adalah sebuah pesta demokrasi, sebagian besar masyarakat telah kembali kepada kehidupan normal. Mereka yang sebelumnya beda pilihan pun telah kembali rukun seperti sediakala.

Sayangnya, justru para elit peserta Pemilu, khususnya untuk Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang terkesan masih kurang legowo menerima hasil sementara pilihan rakyat baik berdasarkan quick qount lembaga-lembaga survei atau pun real count KPU berdasarkan sistem hitung (situng) yang digunakannya dan terpublikasi secara transparan melalui berbagai media, termasuk perbaikan kekeliruan input data bila terjadi secara terbuka pula.

Pertanyaannya, mengapa para elit melakukan hal yang demikian? Mengapa di antara pasangan Pilpres-Pilwapres tidak sabar menunggu pengumuman resmi KPU berdasarkan perhitungan manual yang akan diumumkan pada tanggal 22 Mei mendatang, bahkan ada yang mendeklarasikan kemenangannya dan menyatakan sebagai Presiden dengan segala kegiatan ikutannya?. Tidakkah para kontestan sadar bahwa Ilmu Pengetahuan, serta pesatnya kemajuan teknologi komunikasi saat ini mustahil bila ada yang berbuat curang, terlebih KPU selaku regulator utama telah mengumumkannya secara terbuka?

Iptek

Pelaksanaan Pemilu, di manapun dilaksanakan, saat ini tidak akan bisa lepas dari pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, khususnya teknologi informasi. Pelaksanaan survei oleh lembaga-lembaga survei kredibel, bahkan exit pool serta quick qount telah diakui serta dilaksanakan di seluruh dunia.

Khusus untuk quick qount, KPU telah melakukan verifikasi serta mengakui setidaknya 40 lembaga survei yang dianggap kredibel, dan setidaknya ada 12 lembaga yang telah mengumumkan hasilnya sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh KPU.

Secara ilmiah, perdasarkan perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya Ilmu Metodologi Penelitian ( Research) yang melibatkan Ilmu Statistik, biasanya hasilnya mendekati sesuai dengan hasil akhir penghitungan suara yang dilakukan KPU.

Telah berulangkali dibuktikan, setidaknya dimulai sejak pemilihan Presiden-Wakil Presiden langsung, dilanjutkan dengan sejumlah Pilkada, Bahkan Pilpres pada 2014 yang lalu, hasilnya sesuai dengan hasil akhir perhitungan KPU. Di negara lain pun, hal yang sama juga dilakukan, hingga hasilnya sangat akurat.

Karena itulah, secara simbiosis mutualistis, terjadilah sinergi antara lembaga survei, kontestan pemilu, masyarakat serta berbagai media yang ada, sehingga kredibilitas sekaligus fungsi serta peran quick qount semakin diakui serta selalu ditunggu setiap habis selesainya proses pemungutan suara dalam  setiap pemilu.

Data Awal

Hasil Quick Qount memang bukanlah hasil akhir guna menetapkan pemenang pemilu. Namun, setidaknya melalui hasil tersebut, masyarakat memperoleh gambaran awal sekaligus harapan akan kelangsungan kepemimpinan NKRI ke depan. Selain itu hasil quick qount juga bisa dipakai untuk mengawal hasil akhir pemilu, dan hal tersebut hakekatnya merupakan peran serta partisipasi masyarakat dalam menyukseskan pemilu.

Sayangnya, hasil yang ditunjukkan melalui quick qount tersebut seolah langsung dimaknai kemenangan atau pun kekalahan bagi para pendukungnya, bahkan sebagian elitnya terkesan kurang sabar menunggu penetapan hasil oleh KPU, dan  inilah yang menyebabkan timbulnya kegaduhan politik akhir-akhir ini.

Di sisi lain klaim kemenangan sepihak oleh salah satu calon beserta tim suksesnya berdasarkan hasil hitung internal, justru banyak dipertanyakan. Beda dengan 8 lembaga survei yang  telah membuka data termasuk metodologi yang mereka gunakan, demikian pula dengan sistem hitung KPU serta dari salah satu pasangan calon lainnya, namun  pihak yang mengklaim kemenangan lainnya justru menutup diri, tanpa mau secara terbuka menunjukkan  data, teknis serta metodologi yang mereka gunakan.

Di alam keterbukaan yang dibarengi dengan makin pesatnya kemajuan teknologi komunikasi, maka hal semacam itu justru mengurangi kepercayaan masyarakat terhadapnya. Mengklaim kemenangan, juga harus secara terbuka menunjukkan bagaimana kinerjanya dalam menghasilkan data yang mereka klaim sebagai kemenangan tersebut. Masyarakat yang makin cerdas jelas tidak akan menerima informasi yang tidak informatif semacam itu.

Kesan menutup diri justru dengan melontarkan tuduhan ketidaknetralan KPU misalnya, terlebih menyebut KPU yang independent sebagai rezim pemerintah jelas makin tidak menguntungkan, karena justru DPR lah yang memilihnya. Berbagai publikasi yang telah mereka lakukan bahkan telah mendunia karena menggunakan internet, justru makin kurang menguntungkan bagi mereka di mata internasional. Beberapa media asing seperti di Singapore dan Australia yang justru  terkesan meledeknya, makin memperpuruknya, sehingga akhir-akhir ini terkesan tampak mulai adanya pendukung yang menjauhinya.

Karena itu, hingga menunggu hasil akhir yang akan diumumkan KPU, sebaiknya semua pihak saling menahan diri. Masyarakat yang sudah mulai tenang dan bahkan di beberapa wilayah tertimpa musibah, misalnya DKI dilanda banjir, jangan dibebani dengan beban berat lainnya. Biarkan masyarakat tenang serta saling bercengkerama seperti sedia kala.

Hasilnya, kita percayakan kepada para regulator pelaksana pemilu, serta bertawakhal berserah diri kepada Allah SWT, yang akhirnya melalui tangan rakyat Indonesia akan menentukan siapa yang terpilih dan akan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

40
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>