Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Kampus sebagai pusat kegiatan akademis tak dapat menghindar dari sirkulasi pandangan dunia yang beragam, termasuk di dalamnya paham radikalisme, sehingga Islam moderat harus turut ambil peran guna meredam maraknya paham radikalisme di kampus.

Hal itu terungkap dalam Diskusi Publik dengan tema “Moderatisme dalam Tantangan”  diselenggarakan oleh Prodi Antropologi FIB UNDIP bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (LPPM Unusia) yang di gelar di Kampus FIB Undip Semarang, Selasa (19/3).

Ketua LPPM Unusia, Nurul Huda mengatakan pihaknya telah melakukan penelitian bertema “Reproduksi Sosial Radikalisme Islam Di Kampus”,  di delapan  kampus di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Menurutnya, penelitian bertema radikalisme di kampus itu merupakan suatu ikhtiar memotret jejak pandangan radikal yang diproduksi, direproduksi dan disirkulasikan di ranah kampus.

“Penelitian ini mencoba memotret kampus sebagai pusat kegiatan akademis tak dapat menghindar dari sirkulasi pandangan dunia yang beragam,” ujarnya.

Tim peneliti LPPM Unusia, lanjutnya, mencoba memetakan oknum pegiat gagasan-gagasan radikal berbasis agama, serta bagaimana proses perkembangan radikalisme tersebut dan bagaimana pihak otoritas kampus menyikapi kondisi demikian.

“Dalam temuan kami mencatat bagaimana kelompok-kelompok dengan cara pandang ini coba mengisi posisi-posisi pada organisasi mahasiswa intra dan ekstra kampus dan memberikan secara berkala pemahaman-pemahaman radikalisme,” tuturnya.

Nurul Huda menuturkan menyusupnya kelompok-kelompok radikal di kampus berakibat ideologi radikal semakin berkembang.

Sementara keberadaan organisasi ekstra kampus lain yang mengusung paham moderat, menurut Nurul Huda, tidak banyak mengkonter pemahaman radikal tersebut.

Kaprodi Antropologi FIB Undip Amirudin mengatakan secara laten, fenomena radikalisme di kampus terjadi di sejumlah perguruan tinggi negeri yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia.

Menurutnya, radikalisme beragama, yang menganggap kelompoknya paling benar dan yang lain keliru harus diredam dengan pemahaman yang plural.

“Melihat kondisi itu, kelompok Islam moderat harus turut mengambil peran dalam kontestasi guna meredam radikalisme di kampus,” ujarnya.

Amirudin menuturkan saat ini kelompok Islam moderat tidak masuk dalam kontestasi sehingga berakibat radikalisme berkembang.

“Dampaknya memberikan peluang bagi kelompok rejectionist (kelompok yang menolak keberagaman dan pluralisme) semakin berkembang,” tuturnya.

Selain kedua narasumber itu, diskusi ini menghadirkan Yasir Alimi dosen Antropologi Unnes dan Mudjahirin Thohir Ketua FKUB Jateng. (RS)

33
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>