Sebarkan berita ini:

2-vonis-hakim1SEMARANG[SemarangPedia] – Sidang dugaan kasus penganiyaan anak dari Ketua Pengadilan Negeri Cilacap, Rendhi Widodo yang menjerat terdakwa pengacara asal Kota Semarang, Novel dengan agenda saksi kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Kamis (2/6).

Dalam keterangannya di meja hijau, Novel nekad memukul korban lantaran tidak terima bila isterinya dicemooh dengan kata pelacur.

“Saya melakukan pemukulan tiga kali hanya kena satu kali, Bahkan Rendi juga balik memukul saya berkali-kali tapi hanya kena satu kali. Bagi saya ucapan ‘lonte’ itu penghinaan, kemudian Rendi memukul dulu usai cekcok-cekcok,” ujar  Novel dihadapan majelis hakim yang dipimpin Antonius Widijantono.

Selain itu, lanjutnya, para isteri antara korban dengan terdakwa pun kerap terjadi cekcok. Meski begitu, keduanya sepakat bila para isteri cekcok, suami tidak ikut campur.

“Waktu itu saya emosi karena ada pelemparan sandal dan semburan air pipa karena dirusak Rendi, ditambah lagi teryata selama percecokan istri saya dikatakan ‘lonte’, waktu itu istri saya mengatakan kowe ngerti ora aku dionekne ‘lonte’, kowe trimo ora bojomu dionekne ‘lonte’ (kamu tahu tidak saya dikatakan pelacure, kamu terima istrimu dikatakan pelacur). Disitulah saya lebih emosi,” tutur terdakwa Novel saat diperiksa sembari memperagakan kejadian tersebut.

Novel menyebutkan, perkaranya tersebut hampir satu tahun tidak selesai pemberkasanya, dalam prosesnya juga sempat akan terjadi perdamaian hanya karena dirinya disuruh sujud dihadapan Rendi dan ibunya akhirnya gagal mencapai perdamaian karena tidak dilakukan permintaan sujud itu, bahkan yang bersangkutan tidak menyangka kalau perkara tersebut sampai dilaporkan ke polisi dan adanya visum.

“Saya sebenarnya habis permasalahan ini saya biarkan, karena kejadian seperti ini sering terjadi makanya saya juga tidak lakukan visum dan lapor polisi,” tuturnya.

Sementara itu, dalam kesaksianya Ahmad Mufid mengaku permasalahan tersebut terjadi pertama kali saat Rendi dan ibunya datang dan memarkirkan mobilnya yang kebetulan rumah Novel dan keduanya adalah tetangga, namun ibunya Rendi sempat mengatakan ‘lonte’ kepada Rina istri terdakwa.

Dia juga menduga permasalahanya terjadi karena ucapan Rina ke pengawainya yang mengatakan dim ‘kue dikongkon kok leda lede’ (kamu disuruh kok kelamaan), dipikir ibunya Rendi ditujukan kepadanya, kemudian disitulah terjadi percekcokan dan terucap kata ‘lonte, kepada  Rina.

“Waktu itu ketika ibunya Rendi mengatakan (maaf) ‘lonte’, Ibu Rina langsung membalas ngomong di depan saya dengan mengataan ngopo kui wong tuo kok ngomong koyo ngono (kenapa itu orang tua kok bicara seperti itu). Akhirnya saya langsung menenangkan ibu Rina tapi sudah sama-sama emosi dan saling cekcok dalam jarak yang cukup berjauhan,” ungkapnya. (RS)

103
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>