Sebarkan berita ini:

DSCF6910SEMARANG [SemarangPedia] – Setelah melakukan sosialisasi kepada warga dalam proyek pelebaran Jalan Sriwijaya, Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melanjutkan tahapan pengukuran yang dilakukan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang.

Seperti yang disampaikan Kabid Pemanfaatan Jalan dan Jembatan Dinas Bina Marga Kota Semarang, Sukardi, padatnya arus lalu lintas kendaraan di Jalan Sriwijaya menjadi salah satu pertimbangan dilakukan pelebaran. Untuk tahap pertama pelebaran akan dilakukan dari Taman Makam Pahlawan sampai dengan Taman Singosari.

“Kita tahu jalan Sriwijaya ramai dan padat kendaraan apalagi pada jam sibuk. Kita akan lakukan pelebaran, panjangnya 15 meter. Saat ini BPN sedang pengukuran untuk buat peta bidang. Mudah-mudahan minggu ini bisa selesai,” ujarnya saat ditemui semarangpedia.com di kantornya, Selasa (8/9).

Sukardi menjelaskan, ada sekitar 150 Kepala Keluarga (KK) yang akan terkena dampak proyek tersebut. Sebagian besar melewati tanah negara dan sisanya milik warga.

Menurutnya, ganti rugi lahan yang melewati tanah negara, akan diserahkan sepenuhnya oleh tim appraisal.

“Tanah negara itu nanti bisa kita bayar atau bisa juga tidak. Itu tergantung hasil kajian dan penelitian tim appraisal. Hampir 95% tanah negara. Untuk tanah warga, nanti akan ada relokasi tapi akan kita lihat dulu dari sisi aturan. Karena ada warga yang sudah lama tinggal disitu sekitar 30 tahun,” katanya.

Meski demikian, Sukardi menuturkan, sosialisasi telah dilakukan pihaknya tetap melakukan pendekatan kepada warga yang berdampak proyek tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar proyek pemerintah bisa berjalan sesuai rencana. Sebagai informasi, Pemkot Semarang telah menganggarkan Rp 10 Milliar untuk pembebasan lahan. Ditargetkan pembebasan lahan selesai tahun ini dan awal tahun 2017 sudah dilakukan pengerjaan fisik.

Sementara Salah satu warga yang lahannya terkena dampak pelebaran Jalan Sriwijaya, Maskur mengatakan, pihaknya telah mendapatkan sosialisasi dari pemkot terkait proyek tersebut. Dirinya sadar bahwa lahan yang ditempati untuk tempat usahanya merupakan tanah milik pemerintah kota. Namun dirinya meminta kepada pemerintah kota untuk dicarikan tempat relokasi yang tidak jauh dari Jalan Sriwijaya.

“Saya setuju meski sebenarnya inginnya tetap di Jalan Sriwijaya. Tapi bagaimana lagi lahan yang saya tempati untuk buka usaha menjahit ini tanahnya pemerintah.
Mudah-mudahan saya dapat tempat pengganti yang dekat jalan Sriwijaya. Biar para pelanggan tidak pindah tempat,” katanya.

Maskur sendiri sudah 12 tahun menempati lahan di pinggir Jalan Sriwijaya untuk tempat usahanya sebagai seorang penjahit. Pelanggan yang sudah terbilang banyak menjadi salah satu kekhawatiran dirinya akan kehilangan jumlah pelanggan bila pindah tempat usaha yang jauh dari yang sebelumnya.(AC)

706
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>