Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Pemilihan Wali Kota Semarang 2020 dinilai paling adem ayem di antara daerah-daerah lain yang ikut menggelar Pilkada Serentak 2020. Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa daerah lain yang juga hanya diikuti oleh calon tunggal, Kota Semarang yang hanya diikuti oleh pasangan calon tunggal, Hendrar Prihadi (Hendi) dan Hevearita (Ita) cenderung lebih kondusif.

Hal tersebut terlihat dari tidak adanya gelombang gerakan coblos kotak kosong, seperti yang ada pada daerah lain. Sejumlah pengamat pun menyebut, suasana adem ayem di Kota Semarang ini merupakan bagian dari strategi Hendi yang lebih memilih strategi bertahan.

Guru besar Unimus Prof Dr Masrukhi M Pd mengatakan alih – alih berkampanye sebagai calon, Hendi sedari awal justru lebih terlihat mengambil posisi bertahan, dengan menjaga suasana sejuk di Kota Semarang.

“Beliau dari awal sangat tenang, pergerakannya juga tidak terlalu banyak muncul di permukaan, tapi secara masif menjangkau masyarakat, saya merasakan sendiri di lingkungan saya,” ujar Masrukhi, Senin (30/11).

Dengan demikian, lanjutnya, walaupun adem ayem, kalau dicermati, justru kemampuan beliau sebagai seorang organisatoris di waktu sekarang sangat terasa.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Semarang (USM) Dr Muhammad Junaidi SHI MH CLA berpendapat strategi Hendi mengambil posisi bertahan juga terlihat dalam penyataannya yang justru kerap menyakinkan kepada masyarakat, jika kotak kosong masih memiliki peluang mengalahkannya.

“Kalau saya lihat justru Mas Hendi sedang memainkan manajemen konflik, beliau paham betul jika dirinya sangat diterima masyarkat, tapi ada kekhawatiran jika daya terima yang tinggi ini justru membuat masyarakat datar – datar saja menyikapi pencalonannya di Kota Semarang. Saya rasa pesan tersirat seperti ini seharusnya ditangkap secara cermat oleh seluruh tim kampanye beliau,” tutur Junaidi.

Tak hanya itu, lanjutnya, jika peniliaian terhadap Hendi yang sering disebut telah melampaui kapasitas sebagai calon untuk bertarung di tingkat kota, juga sebenarnya terlihat menimbulkan kekhawatiran tersendiri.

“Memang ada sinyalemen bahwa Mas Hendi lebih dipersiapkan untuk jenjang yang lebih tinggi, baik oleh partai politik, maupun tokoh – tokohm sehingga tim beliau justru kesannya lebih mengalir saja, dan terjebak pada pembicaraan kiprah beliau ke depan. Maka Mas Hendi lantas menghadirkan kotak kosong sebagai lawan potensialnya, agar kemudian partisipasi pencoblosan yang memilih beliau dalam Pilwalkot Semarang bisa terus digenjot,” ujar Junaidi. (RS)

13
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>