Sebarkan berita ini:

Oleh: Aditya Nugraha

SEMARANG[SemarangPedia] – Persepsi masyarakat secara luas sering berasumsi bahwa kehidupan di Pondok Pesantren tumbuh dalam lingkungan yang kumuh, tidak sehat, tempat mandi dan WC yang kotor, ditambah lagi lingkungan yang lembab, serta sanitasi buruk. Keadaan ini diperparah lagi adanya perilaku tidak sehat, contoh menggantung pakaian di kamar.

Namun tidak semua Pondok Pesantren gambarannya seperti itu, banyak Pondok Pesantren telah berkembang dengan berbagai fasilitas yang memadai atau dengan kata lain pesantren modern. Banyak dijumpai Pondok Pesantren yang bersih, tempat mandi dan WC yang hygenis, sanitasi baik dan lancar. Masih banyak lagi fasilitas penunjang yang memadai.

Terlepas dari Pondok Pesantren yang sehat atau yang kurang sehat atau sangat tidak sehat, kita wajib menjaga agar bersih, sehat serta mandiri. Dengan terbentuknya Pondok Pesantren yang ideal, bersih, sehat serta mandiri pada gilirannya produktivitas dan kualitas meningkat serta berguna bagi masyarakat, bangsa, negara dan agama.

Sekarang bagaimana menjaga agar Pondok Pesantren mampu menjadi ideal ?. Salah satu cara atau strategi diterapkannya yaitu Manajemen Pondok Pesantren dengan benar dan konsisten.

Manajemen Pondok Pesantren

Konsep manajemen adalah konsep yang dapat diaplikasikan di suatu lembaga bahkan komunitas, bahkan pada masing-masing individu. Tujuan diterapkannya konsep manajemen, agar tata kelola dalam hal ini, Pondok Pesantren akan lebih baik. Dengan sendirinya kesan atau persepsi tentang Pondok Pesantren yang tidak sehat dan dikelola seadanya akan hilang. Yang ada menjadi Pondok Pesantren yang berkualitas, produktif dan mandiri serta mampu mengikuti perkembangan jaman.

Paling tidak ada empat komponen sebagai pilar dalam konsep manajemen yang harus dipahami, yaitu, Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling yang disingkat menjadi POAC. Empat pilar ini diyakini mampu dipakai sebagai rujukan untuk mengelola organisasi baik skala besar maupun kecil bahkan mengelola individu termasuk mengelola diri sendiri.

Aplikasi empat komponen konsep manajemen sebagai pilar di Pondok Pesantren agar tata kelola menjadi terstruktur, sistematis dan massif.

Pertama, planning (perencanaan) pada tahap awal ini Pondok Pesantren menyusun rencana strategis (renstra) yang dijabarkan melalui visi. Dari visi diterjemahkan menjadi beberapa misi. Dari misi dijabarkan menjadi program dan dibreak down menjadi kegiatan.  Visi menjadi sebuah angan-angan, mimpi, suatu harapan yang akan dituju, akan diraih walau penuh perjuangan yang besar dan berat. Perencanaan merujuk pada apa tujuan Pondok Pesantren, karena tanpa adanya perencanaan yang matang dan baik akan mempengaruhi komponen yang lain. Perencanaan yang baik itu sudah memiliki “nilai” separuh keberhasilan selanjutnya.

Visi juga mencerminkan mau dibawa kemana Pondok Pesantren. Maka rumusan visi lazimnya kata sifat, contoh seperti ini, “terwujudnya Pondok Pesantren sebagai wadah menghasilkan santri yang bertaqwa, berakhlakul karimah dan bersaing di era modern”.

Kedua, organizing (pengorganisasian) merupakan komponen kedua dimana bisa dimaknai sebagai proses kegiatan penyusunan struktur organisasi sesuai dengan tujuan, serta kemampuan internal seperti  sumber-sumber termasuk sumber daya baik manusia maupun yang bukan manusia termasuk lingkungan.

Pengorganisasian juga menjadi relevan untuk meraih tujuan yang telah direncanakan sebelumnya. Struktur yang kuat serta SDM yang tangguh merupakan orientasi pengorganisasian dimana pada tahap ini strategi yang telah dirumuskan di perencanaan dapat didesain dalam sebuah struktur organisasi yang tangguh, sehingga semua pihak dalam organisasi dapat bekerja secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan dengan baik.

Walau dilingkungan Pondok Pesantren sering terjadi struktur organisasi dalam pembagian tugas pokok dan fungsi sering sekali diemban oleh orang yang sama, yang penting seluruh aktifitas di pesantren dapat terorganisir dengan baik. Sudah saatnya struktur organisasi, rentang kendali, dan tugas pokok dan fungsi yang jelas akan menjadikan Pondok Pesantren efektif sekaligus efisien.

Ketiga, actuating (tindakan atau pelaksanaan),  tahap ketiga ini sudah masuk pada pelaksanaan dengan mengusahakan agar perencanaan dan tujuan yang telah direncanakan dalam renstra sedemikian rupa dapat terwujud dengan baik. Walaupun sudah terencana dengan baik serta diorganisasikan sebaik mungkin tetap harus ditindaklanjuti dengan pelaksanaan, maka sebuah rencana dan pengorganisasian menjadi sia-sia, ketika pada tahap pelaksanaan tidak sesuai.

Pada tahap pelaksanaan, serangkaian rencana yang matang kemudian didukung dengan struktur yang disusun Pondok Pesantren akan menjadi sia-sia saja tanpa adanya tindakan apapun. Sekaligus menjadi rujukan untuk mewujudkan visi dan misi pesantren. Disini sudah sangat diperlukan sosok pemimpin dalam mengelola dan mengarahkan setiap aktivitas yang akan dan sedang berlangsung.

Sosok pemimpin dilingkungan Pondok Pesantren sangat strategis karena tipikalnya karismatik. Tipikal ini sangat menguntungkan dilingkungan Pondok Pesantren yang memungkinkan mudah diikuti oleh semua santri yang ada. Hal ini menjadi penting karena sosok pemimpin sangat di butuhkan dalam menggerakan, menahkodai dan mengarahkan setiap aktifitas kepesantrenan dengan penuh kebijaksanaan. Pimpinan Pondok Pesantren yang rata-rata Kiai bisa sekaligus memotivasi para santrinya.

Keempat, controlling (pengawasan), tahap pengawasan ini menjadi sangat penting karena berfungsi untuk mengevaluasi. Sejak perencanaan, pengorganisasian, dan pelaksanaan suatu kegiatan bisa saja terjadi penyimpangan atau ketidak kesesuaian beradasarkan perencanaan yang telah disusun. Dengan pengawasan sekaligus evaluasi memungkinkan kegiatan yang tidak sesuai bisa dihentikan dan dikembalikan sesuai dengan perencanaan. Kesalahan bisa diketahui lebih awal dan tidak semakin melebar.

Pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen yang terakhir. Sekaligus sebagai titik awal lagi untuk merencanakan seandainya pada tahap pengawasan ada hal-hal yang tidak sesuai maka perlu ada tahap perencanaan kembali sebagai fungsi perbaikan. Dengan demikian proses manajemen terus menerus bergulir kembali dari perencanaan, pengorganisasian, tindakan atau pelaksanaan dan terakhir pada tahap pengawasan. Dari pengawasan dan evaluasi kembali menjadi dasar untuk perencanaan bila diperlukan.

Dengan manajemen diharapkan mampu menjaga lingkungan pesantren  menjadi Pondok Pesantren sehat, bersih, modern dan mandiri. Terwujudnya santri yang mandiri dan berkualitas, mampu menangkap peluang diluar eksternal bahkan global. Kesimpulannya, Jogo Santri dengan Manajemen tidak ada lagi santri yang kena penyakit atau gangguan kesehatan dan kebersihan seperti Kutu Kepala, Scabies (Kudis) dan Panu. Tetapi berubah menjadi santri yang mendunia. Apalagi ada bonus demografi. Bonus ini menjadi peluang bukan menjadi hambatan. (Aditya Nugraha)

34
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>