Sebarkan berita ini:
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo Tinjau Warung Gratis

SEMARANG[SemarangPedia] – Sejak wabah Covid-19 melanda berbagai negara termasuk Indonesia, berbagai kebijakan mulai diterapkan dalam upaya melakukan pencegahan penularan Covid-19 agar tidak semakin meluas.

Bahkan hampir semua lini kehidupan dan semua kegiatan usaha terkena dampak Covid-19 hingga mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melambat dan tidak sedikit perusahaan yang menghentikan aktivitasnya dan pada akhirnya pemutusan hubunga kerja (PHK) karyawan semakin sulit dihindari.

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pun meminta pemerintah daerah dapat menerapkan kebijakan sesuai kondisi daearahnya untuk menerapkan pembatasan sosial berskala mikro atau komunitas dalam upaya pencegahan Covid-19.

Arahan Presiden Jokowi pun telah dilaksanakan berbagai daerah dengan mengeluarkan kebijakan yang berbeda-beda, tentunya sesuai kondisi daerahnya, terutama melihat tingkat kasus Covid-19 yang terjadi dan sosial masyarakat di wilayahnya.

Di wilayah Jateng, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sepakat dengan arahan Presiden Jokowi hingga dengan cepat ditindaklanjuti, namun kebijakan yang dikeluarkan bukan Pembantasan Sosial Bersakala Besar (PSBB) seperti yang dilakukan Jawa Barat, Jawa Timur maupun DKI.

Jawa Tengah memiliki strategi tersendiri sebagai jurus jitu dengan mengeluarkan kebijakan Progam Jogo Tonggo, sebagai upaya untuk menghadapi masa pandemi Covid-19. Bahkan sejak masa pendemi Covid-19 pelaksanaan Jogo Tonggo di berbagai kabupaten/kota di provinsi ini  telah membuahkan hasil yang positif dan tercatat Jateng sebagai provinsi yang masuk dalam tiga besar di Indonesia dengan penanganan kasus Covid-19 terbaik.

Pemprov Jateng melakukan upaya untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, selain itu, sisi sosial dan ekonomi juga turut disentuh melalui program Jogo Tonggo.

Program Jogo Tonggo yang dicetuskan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam mengatasi Covid-19 di wilayahnya tidak hanya saling membantu untuk menguatkan kesehatan dan sosial mereka yang terdampak Covid-19. Namun juga menyentuh sektor ekonomi dengan membuat lumbung pangan.

Melalui program tersebut, Pemprov Jateng telah menggelontorkan bantuan sembako kepada warga terdampak Covid-19 hingga mencapai 1.290.000 orang. Anggaran untuk bantuan sembako tersebut mencapai Rp1,37 triliun.

Dengan mengoptimalisasi fungsi Jogo Tonggo di tingkat RT, RW, dan Kelurahan serta melakukan operasi yustisi penegakan protokol kesehatan serentak, beberapa kabupaten/kota di Jawa Tengah kondisi sosial masyarakat perlahan kembali membaik, meski pandemi belum berakhir.

Di sektor pertanian, Jateng juga akan melakukan recovery bisnis pertanian, mengingat saat ini bentuk bisnis secara e-commerce lebih mendominasi di tengah pandemi, termasuk di bidang perternakan.

Gubernur Ganjar Pranowo tak henti-hentinya mendorong progam Jogo Tonggo dapat terus dilakukan hingga masa pandemi berakhir. Menurutnya, apa yang diinginkan melalui program Jogo Tonggo kini sudah dapat diterima masyarakat dengan baik.

“Ternyata program Jogo Tonggonya sudah mulai berjalan. Masyarakat sudah menerapkan program untuk menjaga lingkungannya baik di bidang seni hiburan, kesehatan, ekonomi, sosial dan keamanan,” ujar Ganjar.

Bahkan tidak hanya itu, program lumbung pangan juga sudah dilaksanakan sebagai pendukung program Jogo Tonggo. Masyarakat yang mampu saling membantu, bantuan dari semua pihak ditampung jadi satu untuk kemudian disalurkan pada warga yang membutuhkan.

Keberhasilan Progam Jogo Tonggo di Jateng pun kini diperluas hingga ada konsep dibawahnya Jogo Santri, Jogo Wisata, Jogo Kerjo, Jogo Pasar, Jogo Kiai hingga Jogo Siswa. Pelaksanaanpun bejalan dengan baik, setidak pencegahan penularan Covid-19 dapat terus semakin ditekan.

Namun pelaksanaan kebijakan Jogo Toggo di berbagai kabupatan/kota diimplementasikan secara berbeda, di wilayah Pemkot Semarang misalnya Jogo Tonggo dilakukan dengan gerakan yang berbasis tiap RW dengan mendapat support dari 48 tim patroli gabungan di pos pantau Jogo Tonggo.

Pemberlakuan Jogo Tonggo dilengkapi dengan pos pantau. Total ada 16 pos pantau yang disiapkan Pemkot Semarang dengan setiap satu pos pantau akan dijaga oleh tiga tim.

Jogo Tonggo juga diwujudkan dengan membangun Kampung Siaga Candi Hebat di berbagai wilayah di Kota Semarang, sebagai upaya untuk pencegahan penularan wabah Covid-19 di tingkat RW maupun RT.

Sedangkan di Kota Tegal terdapat satu kawasan RW warganya menerapkan konsep itu dengan bergotong royong, membuat apotik hidup dan warung hidup di lahan kosong perumahan mereka.

Lahan itu ditanami aneka sayuran, empon-empon dan bumbu masak lainnya. Selain itu, ada pula ember-ember berjajar berisi ikan lele dengan bagian atas ditanami kangkung dan sawi.

Sementara di Kubupaten Temanggung di Dusun Jetis Desa Gambasan warga menerakan progam Jogo Tonggo dengan membuat warung tanpa penjual. Aneka bahan kebutuhan pokok tergantung rapi di sebuah warung depan rumah warga. Isinya bermacam-macam, selain beras, cabai, kacang panjang, terong, ikan asin, tempe dan tahu.

Uniknya, tak ada penjual di warung itu. Masyarakat yang mengambil aneka bahan makanan setiap hari, juga tidak ada yang membayar. Semuanya gratis. Syaratnya, hanya dua jenis makanan yang boleh diambil setiap harinya. Di Desa Gambasan itu ada enam warung seperti ini. Semuanya gratis karena untuk membantu masyarakat agar tidak kesusahan saat menghadapi pandemi Covid-19.

Sedangkan Di Kabupaten Jepara program Jogo Tonggo diaplikasikan di sejumlah desa dengan penggalangan dana. Mereka yang mayoritas pemuda menggalang dana bantuan untuk disalurkan kepada warga tidak mampu atau terdampak Covid-19.

Di Desa Kendengsidialit Kecamatan Welahan, bahkan telah terbentuk relawan penanganan Covid-19. Mereka open donasi bagi siapapun untuk turut memberikan bantuan. Mulai dari masker, pengadaan cairan desinfektan, sampai dalam bentuk sembako.

Hal serupa juga dilakukan oleh Karang Taruna Dhamar Boemi Desa Telukwetan, Kecamatan Welahan. Mereka menggalang bantuan untuk disalurkan kepada warga tidak mampu yang belum tercover bantuan dari pemerintah.

Cantolan Sembako Gratis

Di Kabupaten Kudus ada satu kegiatan di posko Jogo Tonggo yang unik dan inspiratif diterapkan warga di kawasan Jalan Ekaprayan RT 1/ RW 1 Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus berupa cantolan sedekah sembako.

Sebuah cantolan yang terpasang di dinding pojok jalan itu terdapat beraneka bungkusan plastik berisikan sembako, mie instan, tempe, sayuran mentah, dan lainnya. Terdapat tulisan “Ambil secukupnya tonggomu keluargamu, guyub rukun migunani”.

Bungkusan itu, dicantolkan oleh warga dan boleh diambil siapapun yang membutuhkan, dengan jumlah sewajarnya serta gratis. Cantolan sembako di dinding posko Jogo Tonggo di wilayah itu adalah inovasi warga dan relawan, sebagai bentuk kesadaran masyarakatnya dalam berpartisipasi di masa pandemi.

Segala aktivitas di depan cantolan terekam CCTV, sehingga akan tampak siapapun yang menaruh dan mengambil bungkusan sembako di cantolan tersebut.

“Program Jogo Tonggo juga sekaligus sebagai upaya membuat masyarakat tetap produktif. Mereka yang terkena PHK, tidak bisa bekerja kita bantu, namun bantuan hanya stimulan. Selebihnya masyarakat harus dilatih, diberdayakan agar bisa mandiri,” tutur Ganjar.

Hingga saat ini, menurut Ganjar, Pemprov Jateng terus berupaya melakukan penanganan Covid-19 hingga ke desa-desa dengan mendistribusikan ribuan paket Jogo Tonggo Kit ke seluruh desa dan kelurahan.

Program berbasis pemberdayaan masyarakat itu telah didistribusikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk diteruskan ke desa dan kelurahan. Paket tersebut berupa APD sipil sebanyak 10 set, sepatu boot 10 pasang, sarung tangan 10 pasang, satu unit sprayer otomatis, masker kain 1000 helai, hand sanitizer 50 liter, disinfektan 30 liter, thermogun, modul (buku petunjuk) dan sebuah tas.

Total ada 8.562 paket Jogo Tonggo Kit yang didistribusikan di desa dan kelurahan di Jawa Tengah.Tujuannya sebagai stimulan bagi desa dan kelurahan untuk mengurangi penularan Covid-19 di tingkat perdesaan.

Program Jogo Tonggo Kit tersebut sifatnya stimulan, Pemprov Jateng berharap ada partisipasi pemerintah desa ataupun kelurahan, dalam pengadaannya. Ikut serta dunia usaha atau donatur dalam pengadaan Jogo Tonggo Kit juga dipersilakan.

Jogo Tonggo Kit hanya salah satu aspek untuk mendukung Satgas Jogo Tonggo. Masih ada aspek-aspek lain seperti aspek sosial budaya, hiburan dan lainnya yang perlu dikoordinasikan oleh pemerintah desa atau kelurahan.

Upaya untuk memperkuat program Jogo Tonggo, kini Pemprov Jateng mulai melebarkan agar bisa mengena ke komunitas yang lebih kecil.

“Eksistensi Jogo Tonggo tidak hanya di level RW, tapi kelompok kecil, di antaranya Jogo Kerjo untuk menjaga di ruang kerja, tempat industri dan kantor-kantor, Jogo Santri di pondok pesantren, Jogo Pasar di area pasar, Jogo Siswa dan lainnya, sehingga, semua punya preverensi sendiri-sendiri sesuai lingkupnya,” ujar Ganjar.

Pelaksanaan Progam Jogo Tonggo Jateng yang berjalan baik itu pun juga mendapat apresiasi dari sejumlah Anggota DPR- RI dari Komisi VIII saat kunjungan kerja ke Jateng.

Husni satu Anggota Komisi VIII dari Fraksi Gerindra menuturkan sangat kagum dengan apa yang dilakukan Pemprov Jateng. Program Jogo Tonggo ini bagus dan tidak ada di tempat lain. Ini perlu dicontoh. Selain itu, optimalisasi Baznas dalam penanganan Covid-19 di Jawa Tengah luar biasa karena tidak hanya mengandalkan asupan anggaran dari pemerintah.

Program Jogo Tonggo, tutur Husnis, yang diprakarsai Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sangat menarik dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Di saat problem data, berapa orang miskin, berapa pengangguran dan siapa yang layak mendapat bantuan, program Jogo Tonggo ini bisa menjadi solusi tepat.

“Ini menarik, Jogo Tonggo ini seperti gugus tugas paling terdepan karena berada di tingkat RW. Kebijakan-kebijakan yang diambil dalam program ini sudah pasti mengena, kepada mereka yang benar-benar miskin, pengangguran dan sebagainya, terdata dengan baik,” tuturnya.

Jogo Kerjo

Pemprov Jateng bersama instansi terkait akan terus menangani pencegahan virus Corona dan tidak akan berhenti melakukan tes kepada warga, sebagai upaya untuk mencegah penularan wabah Covid-19.

“Jogo Tonggo sudah jalan, maka sekarang kita tingkatkan Jogo Kerjo di masing-masing OPD. Kami minta para pejabat terus mengontrol anak buahnya. Termasuk program yang berhubungan dengan masyarakat, dunia usaha, serta keagamaan,” ujar Ganjar.

Menurutnya, Jogo Kerjo di tengah pandemi tidak hanya menyangkut penerapan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19 di lingkungan perkantoran, namun juga terkait ekonomi dan sektor lainnya.

Dia pun meminta semua OPD ikut membangkitkan ekonomi dengan mempercepat penyerapan anggaran, sehingga perekonomian Jateng menggelinding dan pertumbuhan ekonomi kembali meningkat.

Berbagai upaya, tutur Ganjar, telah dilakukan Pemprov Jateng untuk meningkatkan daya beli masyarakat di tengah pandemi. Termasuk membantu masyarakat terdampak Covid-19 dan mendorong para ASN untuk membeli produk-produk UMKM, membeli kebutuhan sehari-hari di warung-warung tetangga, serta berbelanja produk karya pekerja korban PHK.

Jogo Santri Dan Kiai

Pemprov Jateng juga mendorong para pengurus pesantren membentuk Satgas Jaga Santri, sebagai upaya untuk mengawasi protokol kesehatan, sekaligus melakukan penanganan ketahanan ekonomi di pondok pesantren (Ponpes). Peran Jaga Santri tidak ubahnya seperti konsep Jogo Tonggo, sehingga kebaradaan Satgas sangat diperlukan di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Menurut Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Satgas Jaga Santri juga harus bekerja sama dengan puskesmas bilamana ada santri yang sakit akibat gejala Covid-19 dapat cepat ditangani.

Hal itu penting, tutur Taj Yasin, karena pondok pesantren merupakan institusi yang menggabungkan pendidikan formal dan agama. Selain itu, pola pendidikan di ponpes sulit jika harus meniru sekolah formal pada umumnya.

“Di pesantren ada yang kita istilahkan Jaga Santri, yang kemudian di link kan dengan Jogo Tonggo di desa setempat, sehingga lebih cepat. Itu untuk menangani dampak ekonomi, misalnya terkait pasokan bahan makanan di pesantren bagi para santri,” ujar Gus Yasin panggilan akrab Taj Yasin Maimoen itu.

Pengasuh pondok pesantren juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghimbau agar warga sekitar, untuk sementara tidak mengunjungi pengajian atau mengikuti kegiatan lainnya. Langkah itu, sebagai upaya untuk mencegah dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di lingkungan ponpes.

“Kalau ada orang luar pesantren ingin ikut mengaji, ya sudah pakai saja radio dan teknologi digital lainnya, sehingga pengajian bisa tetap didengar dari rumah masing-masing dan tidak ada kerumunan di pesantren,” tutur Gus Yasin.

Upaya untuk mendorong progam Jogo Santri di pondok pesantren di berbagai daerah, Pemprov pun menggelar lomba Gerakan Jogo Santri untuk mencegah Covid- 19 di lingkungan pondok pesantren dengan menyediakan hadiah sebesar Rp1,995 miliar untuk 15 pondok pesantren yang ditetapkan sebagai pemenang lomba Jogo Santri ini.

Lomba Gerakan Jogo Santri Cegah Covid- 19 diikuti sebanyak 164 pondok pesantren se- Jateng. Hadiah untuk pemenang lomba tidak diwujudkan berupa uang tetapi direalisasikan berbagai fasilitas pendukung aktifitas kegiatan pesantren berupa bangunan fisik.

“Agenda ini sebagai bagian dari gerakan pencegahan Covid-19 di masyarakat, ini juga merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memotivasi pesantren di Jateng agar lebih pro aktif dalam mensukseskan gerakan pencegahan penyebaran virus Covid-19,” ujar Gus Yasin.

Sedangkan dalam upaya menjaga keselamatan kiai di tengah ancaman penularan Covid-19 diharapkan para santri juga mengubah perilakunya untuk tidak salaman dan tidak mencium tangan kiainya.

Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD Jawa Tengah Ngainur Richadi menuturkan saat ini di tengah pandemi Covid-19 menghindari salaman dan mencium tangan kiai adalah bagian dari upaya mulia santri dalam menjaga keselamatan kiainya dari ancaman Covid-19 .

“Tidak mencium tangan kiai selama pandemi Covid-19 itu adalah bagian dari ikhtiyar santri dalam menjaga kiainya dari ancaman Covid-19, tidak salaman dengan sesama santri juga termasuk menjaga keselamatan sesama santri,” tutur Richard.

Menurutnya, perubahan perilaku ini tentu sifatnya hanya sementara saja, nanti kalau kondisi sudah normal kembali, pandemi sudah berakhir dipersilahkan tradisi perilaku mulia itu diberlakukan lagi. Bahkan diharapkan adanya perubahan perilaku tidak salaman dan cium tangan ini bisa dipahami dan dimaklumi.

Jogo Wisata

Pemprov Jateng juga menerapkan Jogo Wisata yang merupakan bagian dari Progam Jogo Tonggo, kebijakan Jogo Wisata ini meminta masyarakat dan pengelola tempat pariwisata wajib meningkatkan kewaspadaan pada masa libur, terutama dalam penegakkan disiplin protokol kesehatan.

Kewaspadaan semua pihak wajib dilakukan terutama dalam disiplin menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi Covid yang belum berakhir. Tempat-tempat wisata diharapkan benar-benar menerapkan protokol kesehatan saat menerima kunjungan wisatawan. Bahkan protokolnya harus disiapkan betul-betul jika tidak ingin usaha wisatanya ditutup, mengingat akan ada patroli yang mengontrol tempat-tempat wisata itu.

Pengelola tempat-tempat wisata diminta jangan hanya menghimbau agar masyarakat tidak berkerumun saat sedang liburan di tempat wisata, tetapi juga menerapkan sejumlah strategi atau pengaturan agar masyarakat yang sedang berlibur tidak menciptakan kerumunan yang berpotensi menyebarkan Covid-19.

Jogo Pasar

Pemprov Jateng juga gencar melakukan sosialisasi penerapan jaga jarak antarpedagang di berbagai pasar tradisional di daerah. Bahkan bupati dan wali kota diharapkan dapat untuk menerapkan langkah itu, sebagai upaya untuk mengurangi kerumuman dan menekan persebaran Covid-19 dan sekaligus untuk Jaga Pasar di masa pandemi.

Pasar Di Jalanan Kota Salatiga

Di area pasar program Jogo Tonggo diaplikasikan di Kota Salatiga dan Kabupaten Demak  dengan mendesain khusus di jalanan untuk dijadikan area pasar sementara, dengan menerapkan jarak antara kios satu dengan yang lain dibatasi, begitu juga para pedagang diberikan jarak, sebagai upaya untuk melakukan pencegahan Covid-19.

Bahkan jarak antara pembeli yang diatur sedemikian rupa, dapat menghindari terjadinya penumpukan masyarakat di lokasi favorit belanja di Kota Salatiga itu.

Sementara di pasar Bintoro yang terletak di Jalan Sultan Patah Kabupaten Demak, pemberlakuan hal serupa juga dilakukan, jaga jarak berlangsung dengan menempatkan pedagang di tengah jalan.

Pasar Bintoro Demak adalah pasar pagi yang mayoritasnya diisi oleh pedagang yang berjualan sayuran, ikan, buah, hingga aneka kebutuhan sembako, dan lainnya. Pasar tradisional ini selalu ramai, mulai dini hari sekitar pukul 00.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Penerapan area pasar itu hingga saat ini mampu menekan penyebaran penularan Covid-19 di kalangan para pedagang dan Jaga Pasar bisa terwujud dengan berjalan baik, di tengah masa pandemi masih berlangsung. (RS)

 

40
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>