Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang mencatat periode Januari hingga Agustus 2019 telah terjadi 55 kali kecelakaan di  perlintasan sebidang di wilayahnya yang mengakibatkan 41 meninggal.

Manajer Humas PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang Krisbiyantoro mengatakan selama ini perlintasan sebidang merupakan salah satu titik yang sering terjadi kecelakaan.

Menurutnya, salah satu tingginya angka kecelakaan pada perlintasan kerap terjadi lantaran tidak sedikit para pengendara yang tetap melaju meskipun sudah ada peringatan melalui sejumlah rambu yang terdapat pada perlintasan resmi.

“Melihat fakta tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 4 Semarang bersama instansi-instansi terkait melakukan sosialisasi di Perlintasan Sebidang di bebarapa wilayah,” ujarnya saat sosialisasi di Perlintasan KA Hasanudin, Semarang, Rabu (18/9).

Dalam sosialisasi, PT KAI (Persero) Daop 4 Semarang menggandeng pihak Kepolisian, Dinas Perhubungan serta Pemerintah Daerah untuk melakukan sosialisasi di tiga perlintasan meliputi Perlintasan KA Ronggowarsito, Perlintasan KA Mpu Tantular dan Hasanuddin.

Krisbiyantoro menambahkan tidak hanya imbauan untuk mematuhi aturan di perlintasan sebidang, di lokasi tersebut pihak Kepolisian juga melakukan penegakan hukum.

“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat untuk mentaati aturan lalu lintas di perlintasan sebidang semakin meningkat, mengingat pelanggaran lalu lintas di perlintasan sebidang tidak saja merugikan pengendara jalan tetapi juga perjalanan kereta api,” tuturnya.

Hingga kini, lanjutnya, PT KAI (Persero) Daop 4 Semarang mencatat terdapat 124 perlintasan sebidang yang resmi dan 309 perlintasan sebidang yang tidak resmi.

“Sedangkan perlintasan tidak sebidang baik berupa flyover maupun underpass hanya 11 unit dan 18 unit,” ujarnya.

Perlu diketahui perlintasan sebidang merupakan perpotongan antara jalur kereta api dan jalan yang dibuat sebidang.

Perlintasan sebidang tersebut muncul dikarenakan meningkatnya mobilitas masyarakat menggunakan kendaraan yang harus melintas atau berpotongan langsung dengan jalan kereta api. Tingginya mobilitas masyarakat dan meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas memicu permasalahan yang berpotensi terjadinya timbulnya kecelakaan lalu lintas di perlintasan sebidang. (RS)

 

11
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>