Sebarkan berita ini:

12-J Sofyan HidayatJAKARTA[SemarangPedia] –  Kalangan Industri jamu jangan mengharapkan mimpi produksinya yang telah lolos uji klinis dapat diresepkan oleh dokter dan bisa masuk dimanfaatkan oleh sejumlah rumah sakit terwujud.

Dirut PT SidoMuncul Jontha Sofyan Hidayat mengatakan jalan bakal sangat panjang untuk mewujudkan itu, dan lebih baik tidak perlu susah-susah bisa menjadikan produk jamu yang telah diuji klinik bisa diresepkan oleh dokter.

“Perlu tahunan untuk mewujudkan mimpi itu. Jamu berbagai produk sejak dulu sudah dikenal masyarakat dan bebas dibeli dipasaran tanpa resep dokter, terutama yang sudah lolos uji klinik, kenapa harus susah-susah menggunakan resep,” ujarnya seusai membuka Sentra Jamu Indonesia (SJI), kepada semarangpedia.com, di Jakarta, Rabu lalu. (10/8)

Menurutnya, kesiapan pengusaha dan perusahaan jamu sudah dapat terlihat banyaknya menerapkan standar farmasi dalam produksinya sejak saintifikasi jamu dikembangkan.

Selain itu, dia menambahkan perusahaan jamu juga telah menerapkan standar good manufacturing practices (GMP) dengan cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) dan benar.

“Mereka juga telah menerapkan uji klinis dan preklinis bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi besar ternama di Tanah Air,” tuturnya.

Ketergantungan masyarakat, dia menambahkan terhadap obat konvensional kedokteran diharapkan bisa diganti dengan obat herbal. Saat ini ternyata 95% bahan baku obat konvensional masih di import, berapa banyak devisa yang bisa dihemat bila peralihan ini berjalan mulus.

Saatnya bagi perusahaan jamu yang peduli dengan khasiat serta mutu untuk mulai menerapkan standar yang berlaku seperti GMP, SNI, CPOTB  sampai HACCP agar keyakinan masyarakat atas mutu produk yang dihasilkan bisa diperoleh.

Sofyan menuturkan prospek industri jamu semakin menjanjikan, mengingat Indonesia memiliki potensi pasar yang baik untuk mengembangkan berbagai produk jamu.

Selama tahun lalu total ekspor jamu ke berbagai negara mencapai senilai US$9,7 juta dari tahun sebelumnya hanya US$8,3 juta. Beberapa tahun terakhir ini permintaan jamu mengalami peningkatan dengan pertumbuhan pangsa pasar yang lebih baik.

Bahkan, lanjutnya, omset penjualan industri jamu tahun lalu meningkat hingga mencapai sebesar Rp15 triliun dari tahun sebelumnya hanya senilaiRp13,5 triliun.

Tahun ini, dia menambahkan  omzet penjualan jamu diperkirakan bakal naik lagi menjadi Rp18 triliun dan ke depan kalangan industri jamu akan meningkatkan daya saing melalui produk yang berkualitas dengan standar pembuatan dan CPOTB yang benar.

Menurutnya,  sekarang ini yang terpenting  berupaya melindungi produk jamu Indonesia tidak diakui kreasi dari negara lain, seperti batik, reog Ponorogo  dan sejumlah lagu yang telah diklaim oleh negara lain.

Dia meyakini dengan mekampanyekan minuman jamu dengan berbagai cara dan tidak hanya untuk masyarakat Indonesia, tetapi juga negara-negara lain bakal bisa dilakukan kalangan industri jamu seperti SJI yang dibangun oleh PT Muncul Mekar itu.

12-Irwan Hidayat“Dengan adanya SJI ini optimis akan mampu mengembangkan dan membudayakan minuman jamu tradisional produk asli Indonesia,  Selain dapat lebih mengenalkan jamu dan semakin diminati masyarakat, sekaligus melestarikan jamu sebagai minuman asli Indonesia.

Sementara itu, Direktur Marketing PT Sido Muncul Irwan Hidayat menuturkan kalangan idustri jamu tidak aka banyak diuntungkan, jika mengharapkan produknya dapat diresepkan oleh dokter, mengingat jamu sudah bisa didapat tanpa resep tersebut.

“Jamu tolak angin, tolak linu, misalnya sudah jelas manfaatnya dan khasiat tidak diragukan lagi, kenapa harus melalui resep dokter jika masyarakat ingin memperolehnya. Kan sekarang sudah dengan mudah dibeli di berbagai outlet jamu, bahkan di berbagai negara lain pun bisa didapat jamu produk Indonesia tanpa resep,” ujarnya saat hadir di peresmian SJI itu.

Sampai saat ini jumlah pengusaha Jamu Jateng mencapai 297 industri, baik skala besar maupun usaha kecil menengah (UKM) dan 10 di antaranya telah merambah pasar ekspor.

Indonesia sendiri yang terletak didaerah tropis memiliki keunikan dan kekayaan hayati yang sangat luar biasa, tercatat tidak kurang dari 30.000 jenis tanaman obat yang tumbuh di Indonesia, walaupun yang sudah tercatat sebagai produk Fitofarmaka [bisa diresepkan] baru ada 5 produk dan produk obat herbal terstandar baru ada 28 produk.

PT Industri Jamu dan Farmasi SidoMuncul Tbk belum lama ini meluncurkan produk terbaru Kukubima Energi Herbal dan Tolaklinu Mint, setelah sukses meluncurkan berbagai varian baru sebelumnya.

Dua varian baru Kukubima Energi Herbal dan Tolaklinu Mint diperkenalkan pasar pada 14 Juni lalu dan segera menyusul produk varian baru untuk menghilangkan panas dalam juga bakal diluncurkan bulan depan.

Perusahaan yang berbasis di Bergas, Klepu, Kabupaten Semarang itu, tidak akan berhenti melakukan inovasi produk, sebagai langkah upaya untuk memperkuat dan mewujudkan SidoMuncul menjadi perusahaan jamu dan herbal terkemuka ke depan.

SidoMuncul sebagai perusahaan yang berpengalaman selama 65 tahun dalam bidang herbal, dua tahun terakhir ini telah berhasil melakukan pengembangan untuk membuat produk energi dari bahan herbal murni.

“Produk Kukubima Energi Hebal diluncurkan, untuk memenuhi trend masyarakat yang kini lebih menyukai minuman herbal dan produk ini merupakan yang pertama, bahkan satu- satunya minuman energi menggunakan bahan herbal, ” tutur Irwan.

317
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>