Sebarkan berita ini:

5-Pekerja JamuSEMARANG[SemarangPedia] –  Kalangan pengusaha yang bergerak di bidang industri jamu berupaya dapat berkontribusi dengan desa wisata jamu, untuk ikut berpartisipasi mendorong sektor pariwisata di berbagai daerah.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Jateng Stefanus Handoyo Saputro mengatakan selama ini pengusaha industri jamu sering menerima kunjungan wisatawan.

“Mereka bekeinginan sekali melihat proses, cara meramu dan membuat beragam jamu tradisional seperti Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pengrajin jamu,” ujarnya, Jumat. (5/8)

Menurutnya, banyak pelaku UMKM jamu yang ingin dikunjungi wisatawan, sehingga potensial sekali jika kalangan pengusaha industri jamu berupaya dapat mencanangkan adanya desa wisata.

Di sentra UMKM jamu, lanjutnya, misalnya,  di Wonolopo, Semarang yang sebagian besar warganya memproduksi jamu tradisional, sehingga belakangan ini desa tersebut menjadi daya tarik para wisatawan.

Dia menuturkan desa wisata dipastikan bisa menggerakkan roda perekonomian sekitarnya, hingga diharapkan kejahteraan masyarakat di desa itu bisa lebih baik.

”Setelah mengunjungi pabrik jamu, pada umumnya wisatawan membeli produknya dan berbagai souvenir yang diperdagangkan warga di desa itu,” tuturnya.

Di wilayah Semarang hingga kini tercatat memiliki 17 industri jamu, dan secara kesuluruhan di Jateng mencapai 927 industri, serta seluruh nasional sebanyak 1.247 industri.

Dari sebanyak itu, tercatat 70% di antaranya pelaku industri jamu berasal dari Jateng. Hal itu mencerminkan industri jamu Jateng sangat potensial untuk dikembangkan dan bisa mendorong perekonomian nasional.

GP jamu akan lebih aktif memacu pelaku industri jamu agar terus berkembang. Prospek industri jamu semakin menjanjikan, mengingat Indonesia memiliki potensi pasar yang baik untuk mengembangkan jamu.

Selama tahun lalu total ekspor jamu ke berbagai negara mencapai senilai US$9,7 juta dari tahun sebelumnya hanya US$8,3 juta. Beberapa tahun terakhir ini permintaan jamu mengalami peningkatan dengan pertumbuhan pangsa pasar yang lebih baik.

Bahkan omset penjualan industri jamu tahun lalu meningkat hingga mencapai sebesar Rp15 triliun dari tahun sebelumnya hanya senilaiRp13,5 triliun.

Tahun ini, lanjutnya, omzet penjualan jamu diperkirakan bakal naik lagi menjadi Rp18 triliun dan ke depan kalangan industri jamu akan meningkatkan daya saing melalui produk yang berkualitas dengan standar pembuatan dan CPOTB yang benar.

Sofyan Hidayat
Sofyan Hidayat

Sementara itu, PT Muncul Mekar telah merealisasikan pendirian Sentral Jamu Indonesia (SJI) di Jakarta, sebagai upaya mendorong aktivitas kalangan industri jamu, herbal dan farmasi, sekaligus untuk menghadapi persaingan pasar global di era berlakunya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) saat ini.

Sentral Jamu Indonesia didirikan untuk menfasilitasi berbagai kendala yang menghambat aktivitas kalangan industri jamu, herbal dan farmasi, selain juga mendorong meningkatkan daya saing produk jamu herbal dalam negeri di persaingan pasar dunia. Bahkan untuk melindungi produk jamu Indonesia tidak diakui kreasi dari negara lain, seperti batik, reog Ponorogo  dan sejumlah lagu yang telah diklaim oleh negara lain.

Menurut Dirut PT SidoMuncul Sofyan Hidayat , Usaha Kecil Mengah (UKM) bisa memanfaatkan ruangan Sentra Jamu Indonesia untuk membicarakan tentang jamu herbal ke depan.

Sentral Jamu Indonesia juga dilengkapi dengan museum yang menggambarkan jamu dan herbal itu seperti apa, sampel bahan baku jamu dan vedio tentang pabrik jamu PT Sido Muncul, cara pembuatan jamu yang benar, sejumlah penghargaan yang diperoleh SidoMuncul, sehingga para wisatawan, pelaku usaha, mahasiswa dan masyarakat lain yang ada di Jakarta sekitarnya tidak perlu harus berkunjung ke pabrik jamu Sido Muncul, karena sudah bisa melihat aktivitas industri jamu dan memperoleh keterangan dan penjelasan dari pihak SJI.

Sofyan menuturkan  di negara Asia lainnya terutama Cina, Korea dan India penduduk pedesaan memilih utamanya obat herbal untuk pengobatan, di negara maju pun saat ini kecenderungan beralih kepengobatan tradisional terutama herbal menunjukan gejala peningkatan yang sangat signifikan.

Dari hasil Susenas pada 2007 menunjukan di Indonesia sendiri keluhan sakit yang diderita penduduk Indonesia sebesar 28.15% dan dari jumlah tersebut ternyata 65.01% nya memilih pengobatan sendiri menggunakan obat dan 38.30% lainnya memilih menggunakan obat tradisional, Boleh jadi penduduk Indonesia diasumsikan sebanyak 220 juta jiwa maka yang memilih menggunakan obat tradisional sebanyak 23,7 juta jiwa, suatu jumlah yang sangat besar.

Indonesia sendiri, lanjutnya, yang terletak didaerah tropis memiliki keunikan dan kekayaan hayati yang sangat luar biasa, tercatat tidak kurang dari 30.000 jenis tanaman obat yang tumbuh di Indonesia walaupun yang sudah tercatat sebagai produk Fitofarmaka [bisa diresepkan] baru ada 5 produk dan produk obat herbal terstandar baru ada 28 produk.

Melihat potensi , dia menambahkan yang masih belum digali sangat besar dan dalam pengembangan obat herbal terutama yang merupakan produk herbal asli Indonesia, sangat memungkinkan industri jamu nasional bakal cepat berkembang.

Dunia Kedokteran Indonesia sendiri secara perlahan mulai membuka diri menerima herbal sabagai pilihan untuk pengobatan, bukan sekedar sebagai pengobatan alternatif saja, ini terbukti dengan berdirinya beberapa organisasi  seperti Badan Kajian Kedokteran Tradisional dan Komplementer Ikatan Dokter Indonesia pada Muktamar IDI XXVII pada 2009, Persatuan Dokter Herbal Medik Indonesia [PDHMI], Persatuan Dokter Pengembangan Kesehatan Timur [PDPKT] dan beberapa organisasi sejenis lainnya.

Ini semua membuktikan dunia kedokteran walau masih belum terbuka lebar tetapi para pelakunya, para dokter mulai melihat potensi yang besar dan ternyata bisa dikembangkan dalam pengobatan berbasis obat herbal, tidak hanya untuk menangani penyakit yang ringan tetapi juga untuk mengatasi penyakit yang berat.

Ketergantungan masyarakat terhadap obat konvensional kedokteran diharapkan bisa secara pasti diganti dengan masuknya obat herbal, saat ini ternyata 95% bahan baku obat konvensional masih di import, berapa banyak devisa yang bisa dihemat bila peralihan ini berjalan mulus.

Saatnya bagi perusahaan jamu yang peduli dengan khasiat serta mutu untuk mulai menerapka standar yang berlaku seperti GMP, SNI, CPOTB  sampai HACCP agar keyakinan masyarakat atas mutu produk yang dihasilkan bisa diperoleh. (RS)

 

238
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>