Sebarkan berita ini:

SEMARANG[SemarangPedia] – Pemkot Semarang akan menyiapkan usaha kecil menengah (UKM) yang bergerak di tiga sektor untuk menggarap dan mengembangkan potensi Kampung Pelangi Semarang. Sementara 100 rumah di kawasan itu belum terselesaikan proses pengecatannya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan Pemkot akan merealisasikan pencairan Kredit Wirausaha Bangkit Jadi Jawara (Wibawa) minimal untuk tiga UKM di Kampung Pelangi itu.

Tiga sektor UKM itu, lanjutnya, meliputi usaha handycraft, usaha makan-minum dan usaha penjualan “gembok cinta”.

Kredit Wibawa merupakan program pinjaman lunak yang diluncurkan Pemkot Semarang untuk membantu sektor UKM, dengan bunga yang hanya sebesar 3% per tahun.

Menurutnya, tidak jauh berbeda dengan Bandung, Jawa Barat, Kampung Pelangi Semarang juga memiliki “spot” untuk memasang “gembok cinta” berwarna -warni yang biasanya ditulisi nama pasangan kekasih.

“Sudah kami koordinasikan dengan Dinas Koperasi dan UMKM, serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Tiga kelompok UKM di Kampung Pelangi ini harus dibina dengan baik,” ujarnya.

Dengan progam itu, dia menambahkan ke depan warga Kampung Pelangi semakin lama warganya sudah  terbiasa dengan kedatangan banyak wisatawan maupun masyarakat yang ingin mengunjungi warna-warni perkampungan itu.

Selain itu, lanjutnya, pembinaan juga terus dilakukan untuk membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Unit Wonosari yang akan mengelola pariwisata Kampung Pelangi itu.

Dengan adanya pokdarwis untuk membuat masyarakat sekitar lebih “welcome” dan sadar wisata.

Sementara Dinas Penataan Ruang Kota Semarang menyebutkan setidaknya masih ada 100 rumah di Kampung Pelangi Semarang yang belum terselesaikan proses pengecatannya.

“Masih ada sekitar 100 rumah. Tetapi, itu tidak keseluruhannya, paling hanya kurang gentingnya,” ujar Sekretaris Dinas Penataan Ruang Kota Semarang M Irwansya

Kampung Pelangi adalah program Pemerintah Kota Semarang dengan mengecat rumah-rumah di perkampungan Gunung Brintik dengan warna-warni untuk menarik kunjungan wisatawan.

Menurutnya, kekurangan rumah yang belum terselesaikan pengecatannya itu disebabkan berbagai hal, di antaranya membengkaknya jumlah warga yang ingin rumahnya dicat warna-warni.

Dari target sekitar 390 rumah yang dicat berwarna-warni seiring program Kampung Pelangi, realisasinya ternyata mencapai 540 rumah, sehingga kebutuhan cat pasti bertambah.

Di sisi lain, pewarnaan Kampung Pelangi merupakan program pembangunan partisipatif, sehingga tidak menggunakan anggaran pemerintah, melainkan partisipasi banyak pihak, termasuk swasta.

56
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>