Sebarkan berita ini:

15-Karisma 4SEMARANG[SemarangPedia] – Korean POP (K-POP) belakangan ini semakin banyak digemari kalangan remaja, termasuk Karisma Nur Anuari Bowo penari asal Semarang. Hampir semua kebudayaan, musik, seluk beluk artis dan bahasa Korea, gadis manis sedikit oriental itu paham betul.

Namun, semua itu tidak membuat kecintaan akan seni dan budaya Indonesia khususnya kesenian tari pudar. Sebelum menyukai Korean POP, gadis berusia 22 tahun itu sudah sejak dulu menyukai kesenian tari semenjak SD

“Menari selain seru dan unik dari gerakannya juga untuk menyalurkan hobi serta melestarikan budaya bangsa,” ujar gadis yang berdomisili di Lemah Gempal, Semarang kepada Semarangpedia.com.

Dia menuturkan belajar menari berawal dari mengikuti ektrakulikuler yang diikuti saat dibangku SD. Secara tidak sengaja, diam – diam orang tua memperhatikan secara rutin saat ekstrakulikuler dan melihat putrinya ada bakat menari, akhrinya dari situlah orang tua mengarahkan masuk ke Sanggar Greget untuk menyalurkan potensi menarinya hingga saat ini.

“Jenis dari yang selama dipelajari di Sanggar Greget meliputi tarian Jawa Klasik, tarian Jawa kreasi dan tarian nusantara,’ tutur gadis pemilik akun instagram @kanarisma itu.

Dia menuturkan menari itu butuh keluwesan dan ketelatenan, meski gerakan tangan, badan dan kaki awalnya susah, namun lama-kelamaan akan menyesuaikan hingga semua gerakan ikut luwes.

Dari kecintaanya terhadap tari, Karisma sekarang menjadi mentor tari di Sanggar Greget Semarang dan hasilnya tidak sedikit prestasi yang diraihnya. Debut prestasi yang didapatkan dan dirasakan ketika menginjak 2006.  Pada Lomba Gambang Semarang yang diadakan April 2006 di Balaikota Semarang, gadis manis itu berhasil menyabet juara pertama Se – Kota Semarang.

15-KARISMA 1Perolehan prestasi itu pun berlanjut terus dari 2011 hingga 2015 sederet penghargaan berhasil diraihnya di antaranya menjadi Juara 1 dalam acara Hari Tari Sedunia di Sriratu Semarang April 2013, Penari Batik Jlamprang  dalam Upacara Penurunan Bendera 17 Agustus 2013, 10 Kontingen terbaik tingkat Nasional dalam pawai Budaya Nusantara di Monas – Istana Negara Agustus 2013 dan mengikuti berberbagai pertunjukkan kesenian tari lainya hingga ke Mancanegara.

“Dibilang prestasi syukurklah, yang paling terkesan saat Duta Seni Indonesia dalam acara Chingay Parade di F1 Pit Building di Singapore pada Februari 2014 dan Natas Fair di Singapore juga Pada Maret 2014,” tutur gadis Alumni Program D3 Fisip Undip jurusan Public Relations angkatan 2012.

Ditengah pesatnya pengaruh global terutama semakin menggilanya anak muda masa kini dengan menyukai kebudayaan luar, Dara cantik yang kerap disapa Karisma memang tidak mempedulikan, namun disarankan jangan meninggalkan budaya asli Indonesia yang tidak kalah kayanya dan memiliki beraneka ragam budaya.

Sekarang ini, tuturnya, yang terpenting berupaya lebih menyukai budaya Indonesia, baik itu berbentuk seni tari, lagu, lirik nyanyian maupun lainnya, supaya  kreasi Indonesia tidak  diklaim dari negara lain.

“Ya menurut saya, menggemari lagu luar fajar-fajar saja seperti generasi muda menyenagi KPOP, Justin Bieber, 1D dan lainya, its okay, tetapi juga jangan meninggalkan budaya bangsa sendiri. Kalau kreasinya sudah di klaim  oleh negara lain baru ramai dipermasalahkan ,” ujar alumni SMA N 6 Semarang.

Upaya menjaga dan melestarikan budaya tari, Gadis sedikit oriental ini tidak menampik jika pada akhirnya rejeki membawanya untuk menggeluti bidang tari dengan membuka sanggar sendiri meskipun terbilang sulit.

Saat ini, dia tengah mempersiapkan tari yang diajarkan kepada anak-anak anggota Sanggar Geret untuk pementasan-pementasan ke depan, agar mereka bisa tampil lebih baik. (RS)

316
Sebarkan berita ini:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>